- Bulan ini diperingati sebagai Bulan Pencegahan Bunuh Diri, dengan 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia
- Tidak ada faktor tunggal yang bisa divonis sebagai penyebab bunuh diri
- Pencegahan bunuh diri harus berawal dari lingkungan yang memberi kesempatan seseorang untuk didengar dan memiliki keyakinan bahwa keberadaannya berarti bagi orang lain.
Oleh Angga Wijaya*
SEPTEMBER selalu membawa pengingat yang membuat saya sedikit lebih lama berhenti. Bulan ini diperingati sebagai Bulan Pencegahan Bunuh Diri, dengan 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Saya membaca kisah Fajar Sahrudin, seorang anak muda yang meninggal pada awal September ini.
Kisah tersebut membuat saya diam. Bukan semata tentang kematiannya, melainkan tentang panjangnya perjalanan luka yang mungkin selama ini luput dari perhatian banyak orang.
Fajar digambarkan sebagai pribadi yang ramah, baik hati, dan ceria. Ia bekerja, berteman, bergabung dalam komunitas, belajar berbagai keterampilan, dan berusaha membangun hidupnya sendiri. Dari luar, kehidupan seperti itu tampak baik-baik saja.
Saya lalu teringat betapa sering kita menilai keadaan seseorang dari apa yang terlihat. Senyum kita anggap sebagai tanda bahagia, aktivitas sebagai tanda baik-baik saja, sementara kesunyian yang sebenarnya terjadi di dalam diri seseorang tidak pernah terlihat.
Pantai di Bali Dikuasai Hotel dan Vila? Pemprov Bali Segera Buat Perda Perlindungan Pesisir
Saya pikir manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan kegelisahan. Seseorang masih bisa tertawa ketika hatinya sedang berat. Masih bisa bekerja ketika pikirannya penuh.
Masih bisa bercanda ketika malam-malamnya dipenuhi kecemasan. Bahkan kalimat “aku baik-baik saja” kadang menjadi cara paling sederhana untuk mengakhiri percakapan sebelum seseorang bertanya lebih jauh.
Kisah Fajar, sebagaimana dituturkan dalam tulisan yang beredar, memperlihatkan perjalanan hidup yang penuh tekanan. Kehilangan orang tua, pengalaman perundungan, persoalan ekonomi, konflik keluarga, kesepian, serta persoalan kesehatan mental menjadi bagian dari hidupnya.
Saya tentu tidak mengetahui seluruh kehidupannya. Karena itu saya tidak ingin membuat kesimpulan sederhana bahwa satu peristiwa tertentu telah menyebabkan kematiannya. Bunuh diri jauh lebih kompleks daripada satu sebab yang mudah ditunjuk.
Namun saya merasa ada sesuatu yang perlu kita renungkan. Kita terlalu mudah mencari penyebab tunggal ketika berhadapan dengan kematian. Seseorang disebut kurang iman, dianggap lemah, dikatakan tidak mampu menghadapi kehidupan.
Penjelasan semacam itu mungkin membuat kita merasa lebih nyaman karena dunia menjadi seolah-olah sederhana. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu. Luka tumbuh dari banyak pengalaman yang terkadang saling bertumpuk selama bertahun-tahun.
Saya juga berhati-hati ketika masyarakat menunjuk satu pihak sebagai penyebab. Lingkungan memang mempunyai kekuatan besar untuk membentuk pengalaman batin seseorang. Perundungan, penghinaan, pengabaian, stigma, dan kekerasan verbal dapat meninggalkan luka panjang.
Namun kehidupan seseorang tidak pernah hanya terdiri dari satu faktor. Karena itu, daripada sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, saya lebih tertarik bertanya apakah kita pernah menjadi bagian dari lingkungan yang membuat seseorang merasa tidak aman menjadi dirinya sendiri.
Pertanyaan itu terasa lebih dekat dengan kehidupan saya sendiri. Sebab kita semua mungkin pernah mengatakan sesuatu yang menurut kita hanya bercanda, tetapi ternyata tinggal lama di kepala orang lain. Kita pernah menganggap seseorang terlalu sensitif karena tersinggung oleh perkataan kita.
Kita pernah meminta orang lain segera bangkit dari kesedihan karena kita tidak nyaman melihatnya berlama-lama dalam kesedihan. Kita sering ingin orang lain cepat sembuh agar kehidupan kembali terasa normal bagi kita.
Saya pun pernah berada dalam situasi ketika nasihat terasa lebih mudah diberikan daripada mendengarkan. Kita berkata, “Jangan dipikirkan,” “Kamu harus kuat,” atau “Banyak orang yang hidupnya lebih susah.” Kalimat-kalimat itu mungkin lahir dari niat baik.
Namun semakin saya memikirkan persoalan ini, semakin saya merasa bahwa orang yang sedang terluka sering kali tidak membutuhkan perlombaan nasihat. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal sebentar dan mendengarkan.
Kita mempunyai kebiasaan mengukur penderitaan orang lain menggunakan pengalaman sendiri. Jika kita pernah melewati masalah yang serupa dan berhasil bertahan, kita mengira orang lain semestinya mampu melakukan hal yang sama.
Padahal setiap manusia memiliki sejarah hidup yang berbeda. Luka yang sama tidak selalu menghasilkan rasa sakit yang sama. Daya tahan seseorang juga tidak bisa diukur dengan penggaris yang sama.
Karena itu, bagi saya, pencegahan bunuh diri seharusnya dimulai jauh sebelum sebuah keadaan menjadi darurat. Ia dimulai di rumah ketika anak merasa aman bercerita. Ia dimulai di sekolah ketika perundungan tidak dianggap sebagai kenakalan biasa.
Ia dimulai di tempat kerja ketika seseorang boleh mengatakan bahwa dirinya sedang kewalahan. Ia tumbuh di dalam pertemanan ketika kita cukup peduli untuk menyadari perubahan seseorang.
Kita tidak perlu menjadi ahli kesehatan mental untuk menunjukkan kepedulian. Kita juga tidak perlu mendiagnosis seseorang. Kadang yang diperlukan hanyalah keberanian bertanya dengan tulus, “Kamu benar-benar baik-baik saja?” Lalu bersedia mendengar jawabannya.
Jika persoalannya membutuhkan bantuan profesional, kita dapat membantu orang tersebut menemukan pertolongan yang tepat. Kehadiran teman dan keluarga penting, tetapi ada keadaan ketika seseorang membutuhkan dukungan tenaga profesional.
Keluarga, teman, sekolah, tempat kerja, komunitas, tenaga kesehatan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Pencegahan bunuh diri membutuhkan lingkungan yang memungkinkan seseorang berbicara mengenai penderitaannya tanpa takut dicap lemah.
Stigma membuat banyak orang memilih diam lebih lama. Ketika kesehatan mental dianggap sebagai aib, kebutuhan untuk mendapatkan pertolongan justru semakin sulit disampaikan.
Kita juga perlu mengubah cara memahami bantuan profesional. Mendatangi psikolog atau psikiater bukan tanda kegagalan seseorang mengurus kehidupannya. Sama seperti tubuh yang sakit membutuhkan dokter, persoalan kesehatan mental membutuhkan penanganan yang tepat.
Dukungan keluarga dan teman tetap penting, tetapi keduanya tidak selalu cukup. Dalam keadaan krisis, bantuan profesional dan layanan darurat dapat menjadi bagian penting dari keselamatan seseorang.
Kisah Fajar membuat saya teringat pada satu hal sederhana. Kita sering bergerak setelah menerima sinyal darurat. Ketika keadaan sudah genting, perhatian tiba-tiba tercurah kepada seseorang. Semua orang panik dan ingin membantu. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, bagaimana jika sebelum keadaan itu terjadi sebenarnya sudah ada banyak tanda yang terlewatkan?
Tanda-tanda tersebut tidak selalu mudah dikenali dan tidak pernah bisa dipakai untuk memastikan seseorang akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Perubahan perilaku, menarik diri dari pergaulan, merasa menjadi beban, mengungkapkan keputusasaan, atau berbicara seperti sedang berpamitan patut mendapat perhatian.
Bukan karena kita harus mencurigai semua orang, melainkan karena kepedulian membuat kita lebih peka terhadap perubahan.
September bagi saya akhirnya bukan sekadar bulan untuk mengingat kematian. Ia menjadi kesempatan untuk memikirkan kembali bagaimana kita memperlakukan manusia yang sedang rapuh. Kita sering membicarakan kesehatan mental ketika sebuah tragedi sudah terjadi.
Setelah itu perhatian perlahan surut, lalu kehidupan kembali seperti semula. Padahal persoalan yang sama tetap hidup di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan pertemanan kita.
Saya tidak mengenal Fajar secara pribadi. Saya juga tidak ingin mengarang-ngarang isi hatinya atau menjadikan kematiannya sebagai kisah yang romantis. Saya hanya membaca kisah hidupnya sebagai sebuah cermin.
Di dalamnya saya melihat seorang manusia yang pernah kehilangan, terluka, berusaha bangkit, mencari tempat untuk diterima, dan menjalani hari-hari yang mungkin jauh lebih berat daripada yang terlihat oleh orang lain.
Mungkin kita memang tidak mampu menyelamatkan semua orang. Tetapi kita dapat membuat lingkungan di sekitar kita sedikit lebih manusiawi. Kita dapat berhenti menertawakan kelemahan orang lain.
Kita dapat belajar meminta maaf ketika ucapan kita melukai. Kita dapat memberi ruang bagi seseorang untuk bercerita tanpa langsung menghakimi. Kita dapat menemani orang yang membutuhkan bantuan untuk mencari pertolongan.
Pada akhirnya, pencegahan bunuh diri bukan hanya tentang meminta seseorang bertahan hidup. Saya kira lebih jauh dari itu. Kita perlu menciptakan kehidupan yang membuat seseorang merasa masih memiliki tempat di dunia ini.
Sebab manusia membutuhkan lebih dari sekadar nasihat untuk kuat. Kita membutuhkan hubungan, rasa diterima, kesempatan untuk didengar, dan keyakinan bahwa keberadaan kita berarti bagi orang lain.
September mengingatkan saya bahwa kepedulian sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Sebuah pesan, sebuah telepon, atau kesediaan duduk dan mendengarkan tanpa buru-buru memberi nasihat. Kita mungkin tidak mampu menyelamatkan semua orang, tetapi kita bisa membuat seseorang merasa bahwa ia tidak sedang menghadapi hidup sendirian.
Jangan menunggu sinyal darurat. Barangkali sebelum itu datang, seseorang sudah berkali-kali berusaha mengatakan bahwa dirinya sedang terluka. Kita hanya perlu belajar mendengarkan dengan lebih sabar. Sebab kadang, yang menyelamatkan seseorang bukan kalimat yang paling bijak, melainkan kehadiran seseorang yang memilih untuk tetap tinggal. ***
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang menaruh perhatian pada isu kesehatan mental. Ia pernah menjalani proses pemulihan di Rumah Berdaya Denpasar dan sejak 2015 terlibat dalam Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali. Pengalaman tersebut turut memengaruhi cara pandangnya dalam menulis tentang stigma, pemulihan, kemanusiaan, dan kehidupan sosial penyintas kesehatan mental.


