07/09/2026

Otonan yang Terlambat Saya Sadari (2)

Pada usia tertentu, manusia mungkin perlu belajar menjadi laut. Lebih luas dalam melihat persoalan, lebih tenang menghadapi perbedaan, dan lebih mampu menerima bahwa tidak semua hal harus dijawab

oleh Angga Wijaya

Anggara Umanis Uye

Pada otonan tahun ini, konfigurasi kelahiran saya kembali sebagai Anggara Umanis Uye. Dalam pewarigaan yang saya baca, rangkaian tersebut juga berkaitan dengan Lintang Kuda, Laku Api, Wisesa Segara, dan Manggih Suka, sementara Wuku Uye berkaitan dengan Bhatara Kuwera. Saya tidak ingin menjadikannya sebagai ramalan yang menentukan karakter atau masa depan seseorang.

Lebih menarik bagi saya jika semua unsur itu dibaca sebagai bahasa simbolik. Anggara memberi kesan energi dan gerak. Lintang Kuda dapat dibayangkan sebagai simbol perjalanan dan kehendak. Laku Api membawa gambaran tentang energi yang mudah menyala, sedangkan Wisesa Segara menghadirkan keluasan dan kemampuan menampung. Masing-masing memiliki tafsir tradisional yang berbeda, tetapi saya tertarik melihat hubungan di antara semuanya.

Jika seluruh simbol itu saya letakkan berdampingan, muncul satu metafora yang terasa dekat dengan usia 42; tetap memiliki api, tetapi belajar menjadi laut. Saya tidak ingin kehilangan api yang membuat saya terus menulis, bertanya, mengkritik, dan mencari persoalan di balik sesuatu yang tampak biasa. Namun, api tanpa pengendalian hanya akan menghabiskan dirinya sendiri.

Pada usia tertentu, manusia mungkin perlu belajar menjadi laut. Lebih luas dalam melihat persoalan, lebih tenang menghadapi perbedaan, dan lebih mampu menerima bahwa tidak semua hal harus dijawab. Tidak setiap perdebatan perlu dimenangkan. Tidak setiap kritik membutuhkan balasan. Kedewasaan mungkin bukan kehilangan api, melainkan mengetahui bagaimana menjaganya agar tetap berguna.

Bagi seorang penulis, metafora itu terasa semakin penting. Menulis membutuhkan keberanian untuk merespons dunia, tetapi juga kemampuan mengambil jarak dari respons tersebut. Terlalu dekat dengan persoalan membuat tulisan berubah menjadi luapan emosi. Terlalu jauh membuat tulisan kehilangan denyut kehidupan. Penulis membutuhkan api untuk peduli dan laut untuk memahami.

BACA JUGA: Otonan yang Terlambat Saya Sadari

Kanda Pat dan Kegelisahan

Ingatan tentang Kanda Pat, atau Catur Sanak, kemudian muncul dalam pikiran saya. Dalam tradisi Bali, Kanda Pat berkaitan dengan empat unsur yang menyertai kelahiran manusia, yakni yeh nyom, getih, lamas, dan ari-ari. Keempatnya tidak berhenti sebagai unsur biologis, tetapi memperoleh makna religius dan simbolik sebagai saudara yang menyertai manusia sepanjang kehidupannya.

Konsep ini menarik karena menunjukkan cara kebudayaan Bali memahami manusia sebagai makhluk yang tidak berdiri sendiri. Kelahiran tidak hanya dipahami sebagai peristiwa antara ibu dan anak. Ia melibatkan tubuh, keluarga, lingkungan, kekuatan yang tampak, serta kekuatan yang dipercaya berada di luar penglihatan manusia.

Dalam kerangka sekala dan niskala, kenyataan yang terlihat dan yang tidak terlihat tidak selalu ditempatkan sebagai dua dunia yang saling meniadakan. Keduanya dapat hadir berdampingan dalam pengalaman masyarakat Bali. Karena itu, ketika saya mengalami kegelisahan pada malam otonan, saya memahami mengapa pikiran tentang Kanda Pat muncul kembali.

Tetapi saya tidak ingin mengatakan bahwa Kanda Pat menyebabkan saya tidak bisa tidur. Kesimpulan seperti itu terlalu mudah dan tidak dapat saya buktikan. Yang saya miliki hanyalah pengalaman pribadi; saya gelisah pada malam tersebut, lalu mengetahui bahwa hari itu ternyata merupakan otonan saya. Setelah pengetahuan itu muncul, pengalaman sebelumnya memperoleh arti yang berbeda.

Manusia memang sering memahami pengalaman melalui kerangka kebudayaan yang dimilikinya. Sesuatu yang bagi orang lain mungkin dianggap kebetulan dapat memiliki makna tertentu bagi seseorang yang tumbuh dalam tradisi tertentu. Bagi saya, Kanda Pat menjadi salah satu bahasa untuk memikirkan pengalaman tersebut, bukan bukti bahwa sebuah kekuatan niskala sedang mengirimkan tanda.

Saya juga bisa menerima kemungkinan penjelasan psikologis. Mungkin informasi “Anggara Umanis Wuku Uye” yang saya lihat pada sore hari tersimpan dalam ingatan tanpa saya sadari. Ketika malam tiba dan saya mengalami kegelisahan, informasi itu muncul kembali. Pikiran manusia memang dapat menyimpan dan menghubungkan berbagai hal tanpa selalu kita sadari prosesnya.

Namun, menerima penjelasan psikologis tidak berarti saya harus menghapus dimensi kebudayaan. Sebaliknya, pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana manusia memberi makna kepada apa yang dialaminya. Psikologi menjelaskan proses dalam diri, sedangkan kebudayaan menyediakan bahasa untuk memahami pengalaman itu. Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Otonan sebagai Cermin

Setelah semua itu, saya melihat otonan dengan cara yang sedikit berbeda. Ia bukan hanya penanda bahwa saya pernah lahir pada sebuah hari tertentu, melainkan sebuah ruang untuk melihat perubahan diri. Dalam siklusnya yang berulang, otonan membawa saya kembali kepada titik awal, tetapi saya yang datang kepadanya bukan lagi manusia yang sama.

Empat puluh dua tahun telah mengubah banyak hal. Anak yang lahir di Negara, Jembrana, kini menjadi seseorang yang membawa pengalaman, pekerjaan, kegagalan, kegembiraan, luka, dan pilihan hidupnya sendiri. Anggara Umanis Uye tetap kembali, tetapi manusia yang menghadapinya telah berubah. Karena itu, otonan bagi saya bukan perjalanan kembali ke masa lalu, melainkan cara melihat seberapa jauh saya telah berjalan.

Saya membayangkan otonan seperti cermin yang tidak sekadar memantulkan wajah. Ia memantulkan jarak antara diri yang lahir dan diri yang sekarang. Kita kembali kepada konfigurasi waktu yang sama, tetapi membawa pengalaman yang berbeda. Yang berubah bukan kalendernya. Sayalah yang berubah.

Di situlah otonan menjadi bagian dari identitas. Selama ini saya lebih mengenal diri melalui tanggal lahir, nama, pekerjaan, pendidikan, dan berbagai pengalaman hidup. Namun ada lapisan lain yang hampir terlupakan: saya lahir dalam sebuah sistem waktu dan kebudayaan yang mempunyai cara sendiri untuk menempatkan kelahiran seseorang di dalam semesta.

Kesadaran itu membuat saya memikirkan kembali hubungan saya dengan keluarga dan tempat asal. Saya lahir dan tumbuh di Negara, tetapi kemudian hidup jauh dari sana. Banyak kebiasaan berubah, banyak pengetahuan tradisional tidak lagi saya jalankan. Jarak geografis perlahan menjadi jarak kebudayaan. Otonan membuat jarak tersebut terasa lebih nyata.

Mungkin itulah sebabnya saya tidak ingin melihat kelupaan terhadap otonan semata-mata sebagai kekurangan. Ia justru memperlihatkan bagaimana identitas bekerja. Kita bisa menjauh dari sebuah tradisi tanpa sepenuhnya kehilangan jejaknya. Sesuatu yang kita kira sudah hilang kadang muncul kembali melalui sebuah kata, sebuah tanggal, atau pengalaman yang sulit kita jelaskan.

Pada titik itu, saya kembali kepada Laku Api dan Wisesa Segara. Api terasa seperti bagian diri yang selama ini membawa saya bergerak; keinginan menulis, bertanya, mengkritik, dan mencari jawaban. Laut menjadi sesuatu yang sedang saya pelajari: kemampuan mengambil jarak, menerima keterbatasan, memaafkan, dan membiarkan beberapa hal berlalu tanpa harus terus dibawa.

Mungkin perubahan diri memang berlangsung di antara keduanya. Saya tidak ingin memadamkan api karena api memberi tenaga untuk hidup. Tetapi saya juga tidak ingin terus terbakar oleh segala sesuatu yang saya pikirkan. Pada usia 42 tahun, saya ingin memiliki cukup keluasan untuk membiarkan sebagian persoalan mengendap sebelum saya menjadikannya kata-kata.

Dengan begitu, otonan tidak lagi saya lihat hanya sebagai kewajiban untuk melakukan sebuah upacara. Ia menjadi ruang keseimbangan. Ruang antara masa lalu dan masa kini, antara tubuh dan batin, antara sekala dan niskala, antara bergerak dan berhenti. Di sana saya dapat melihat diri tanpa harus segera menilainya.

Saya tidak tahu apakah kegelisahan malam 1 September itu berhubungan dengan otonan saya. Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin informasi yang saya lihat pada sore hari bekerja diam-diam di dalam pikiran. Mungkin pula pengalaman tersebut memperoleh makna karena saya tumbuh dalam kebudayaan yang mengenal hubungan antara yang tampak dan yang tidak tampak.

Saya tidak perlu memilih jawabannya sekarang. Justru ketidakpastian itu membuat pengalaman tersebut tetap manusiawi. Yang penting bagi saya bukan membuktikan bahwa dunia niskala sedang berbicara, melainkan menyadari bahwa pengalaman tersebut telah membuat saya kembali bertanya tentang diri sendiri.

Anggara Umanis Uye. Empat puluh dua tahun lalu, saya lahir dalam konfigurasi waktu itu. Pada 1 September 2026, konfigurasi tersebut kembali, tetapi saya hampir melewatinya tanpa sadar. Saya tidak melakukan otonan. Saya baru mengetahuinya pada 2 September. Namun, setelah itu, saya merasa seperti sedang melihat cermin yang selama ini ada di depan saya tetapi baru kali ini benar-benar saya tatap.

Di dalam cermin itu saya tidak menemukan ramalan tentang masa depan. Saya menemukan perjalanan saya sendiri; seorang anak dari Negara yang pergi, tumbuh, berubah, menjauh, lalu perlahan mencari kembali bagian-bagian dirinya yang pernah ditinggalkan. Otonan tidak mengembalikan saya kepada masa lalu. Ia hanya menunjukkan bahwa masa lalu masih mempunyai tempat dalam diri saya.

Malam 1 September saya gelisah. Sore harinya saya melihat sebuah kalimat yang tidak saya pahami maknanya bagi diri saya. Pada malam yang sama, kalimat itu kembali muncul dalam ingatan. Baru pada 2 September, saya mengetahui bahwa hari sebelumnya adalah otonan saya. Saya tidak tahu apakah semuanya saling berhubungan. Tetapi sejak saat itu, saya tidak lagi melihat otonan sebagai sesuatu yang sekadar terlewat.

Sebab setelah 42 tahun, saya tidak lagi ingin sekadar bertambah umur. Saya ingin lebih mengenali manusia yang sedang bertambah usia itu. Saya ingin tahu apa yang masih layak dipertahankan, apa yang harus dilepaskan, dan ke mana sisa perjalanan ini akan membawa saya.

Mungkin itulah otonan saya tahun ini; sebuah cermin yang datang terlambat, tetapi memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak saya lihat. Api saya masih menyala. Laut sedang saya pelajari. Dan di antara keduanya, saya sedang belajar menjadi diri saya sendiri.

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, ia menulis puisi, esai, dan berbagai tulisan tentang kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Sejak 2015, ia aktif sebagai jurnalis dan kembali menetap di Denpasar. Sejumlah bukunya telah diterbitkan oleh penerbit di Bali maupun luar Bali.

Apa Komentar Anda?