Dalam tradisi Bali memahami waktu, kelahiran seseorang tidak hanya ditempatkan pada sebuah tanggal, tetapi juga pada susunan hari yang berulang dalam siklus pawukon.
Oleh Angga Wijaya*
PADA 1 September 2026, sejak sore saya sebenarnya sudah melihat sebuah postingan dari seorang kawan. Di dalamnya ada kalimat “Anggara Umanis Wuku Uye.” Saya membacanya sambil lalu. Tidak ada yang terasa istimewa. Saya tidak langsung menghubungkannya dengan diri saya sendiri, apalagi menyadari bahwa hari itu merupakan hari otonan saya.
Malamnya, entah kenapa, saya merasa gelisah. Saya sulit tidur. Pikiran bergerak ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Di tengah kegelisahan itu, kalimat yang saya lihat beberapa jam sebelumnya tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan, yakni, Anggara Umanis Uye. Deghhh. Saya tertegun, tetapi saat itu saya belum tahu bahwa kalimat tersebut berkaitan langsung dengan kelahiran saya.
Barulah pada 2 September 2026, saya mencoba memeriksa pewarigaan dan kalender Bali. Saya mencocokkan tanggal lahir saya, 14 Februari 1984, dengan perhitungan pawukon. Dari sana saya menemukan bahwa kelahiran saya tercatat sebagai Anggara Umanis Uye. Saya kemudian menyadari bahwa sehari sebelumnya, 1 September 2026, adalah hari otonan saya.
Kesadaran itu datang terlambat satu hari. Justru karena terlambat itulah pengalaman tersebut terasa ganjil bagi saya. Pada 1 September, tubuh dan pikiran saya menjalani hari seperti biasa. Saya tidak tahu bahwa pada hari itu sebuah penanda kelahiran yang sudah berulang selama puluhan tahun sebenarnya sedang kembali. Saya baru mengenalinya setelah hari tersebut lewat.
Sudah lama sekali saya tidak melakukan upacara otonan. Bahkan, saya hampir tidak pernah lagi memikirkan kapan hari otonan tiba. Saya lebih akrab dengan tanggal lahir menurut kalender Masehi, 14 Februari 1984, daripada konfigurasi kelahiran saya dalam kalender Bali. Padahal, dalam cara Bali memahami waktu, kelahiran seseorang tidak hanya ditempatkan pada sebuah tanggal, tetapi juga pada susunan hari yang berulang dalam siklus pawukon.
Karena itu, saya tidak ingin mengatakan bahwa kegelisahan pada malam 1 September pasti disebabkan oleh kelupaan terhadap otonan. Saya tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan demikian. Bisa saja informasi “Anggara Umanis Wuku Uye” yang saya lihat sore itu tersimpan dalam ingatan tanpa saya sadari, lalu muncul kembali ketika malam saya gelisah. Namun, sebagai orang Bali yang tumbuh dalam kebudayaan yang mengenal hubungan sekala dan niskala, saya juga tidak merasa perlu buru-buru menutup pengalaman itu hanya sebagai kebetulan.
Yang pasti, kegelisahan terjadi lebih dahulu, kesadaran tentang otonan datang kemudian. Urutan sederhana itu penting bagi saya. Sebab, yang membuat pengalaman tersebut bermakna bukan karena saya sejak awal mengetahui bahwa hari itu adalah otonan, melainkan karena saya justru mengetahuinya setelah hari tersebut berlalu. Pengetahuan yang datang belakangan membuat saya melihat kembali malam sebelumnya dengan cara yang berbeda.
Di keluarga saya di Negara, Jembrana, urusan semacam ini memang terasa cukup longgar. Kami tidak terlalu ketat dalam menjalankan hal-hal yang berkaitan dengan niskala. Otonan tidak selalu dilakukan dengan perhatian seperti yang mungkin dilakukan keluarga Bali lainnya. Saya pun tumbuh dengan kebiasaan tersebut. Karena itu, saya tidak merasa memiliki alasan untuk menyalahkan keluarga atau menganggapnya kurang memahami tradisi.
Sebaliknya, pengalaman 1-2 September itu justru menimbulkan pertanyaan lain; seberapa jauh seseorang dapat hidup dari sebuah tradisi sebelum akhirnya menyadari bahwa tradisi itu masih menyimpan bagian dari dirinya? Saya merasa pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya memikirkan kembali otonan, bukan sekadar sebagai hari upacara, tetapi sebagai penanda identitas dan ruang untuk membaca perubahan diri.
Baca Juga: Otonan yang Terlambat Saya Sadari (2)
Waktu yang Berputar
Otonan 1 September 2026 kemudian membuat saya berpikir tentang perbedaan antara tanggal lahir dan hari kelahiran dalam tradisi Bali. Tanggal 14 Februari 1984 berada dalam kalender Masehi, sedangkan otonan mengikuti sistem pawukon. Karena itu, yang kembali bukan angka tanggalnya, melainkan konfigurasi waktu yang menyusun kelahiran seseorang. Pawukon berjalan dalam siklus 210 hari dan mempertemukan berbagai perhitungan hari di dalamnya.
Saya berusia 42 tahun, tetapi otonan tidak membuat saya sibuk menghitung usia. Ia justru membawa saya kepada titik awal kehidupan. Saya membayangkan seorang anak yang lahir di Negara, Jembrana, kemudian tumbuh, sekolah, pergi ke Denpasar, menjalani pendidikan, bekerja, menulis, dan melewati berbagai pengalaman yang perlahan membentuk dirinya. Titik awal itu tetap sama, tetapi orang yang melihatnya sudah berubah.
Di sinilah otonan terasa berbeda dari ulang tahun. Ulang tahun modern bergerak secara linear, bahwa usia bertambah dari tahun ke tahun. Otonan bergerak secara siklikal. Ia kembali ke sebuah konfigurasi waktu yang pernah menjadi bagian dari kelahiran seseorang. Perulangan itu tidak mengembalikan manusia menjadi dirinya yang dahulu, melainkan memberikan kesempatan untuk melihat perjalanan dari titik yang sama dengan pengalaman yang berbeda.
Bagi saya, konsep tersebut menarik secara antropologis. Kebudayaan tidak hanya mengajarkan manusia cara menghitung waktu, tetapi juga bagaimana memberikan makna kepada waktu. Dalam sistem pawukon, waktu tidak sepenuhnya menjadi sesuatu yang abstrak dan numerik. Ia memiliki nama, sifat, hubungan simbolik, dan tempat dalam kehidupan sosial serta ritual masyarakat.
Otonan karena itu dapat dipahami sebagai salah satu cara kebudayaan Bali menghubungkan manusia dengan waktu kelahirannya. Ia bukan sekadar penanda biologis, melainkan bagian dari hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, keyakinan, dan kosmologi. Dalam kerangka ini, kelahiran bukan peristiwa yang selesai ketika bayi keluar dari rahim. Maknanya terus dipelihara melalui berbagai praktik sepanjang kehidupan. * ( bersambung ke tulisan 2)
Baca Juga: Otonan yang Terlambat Saya Sadari (2)
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, ia menulis puisi, esai, dan berbagai tulisan tentang kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Sejak 2015, ia aktif sebagai jurnalis dan kembali menetap di Denpasar. Sejumlah bukunya telah diterbitkan oleh penerbit di Bali maupun luar Bali.


