Menyusuri Dunia Kanak-kanak dalam Lukisan Budi Asih

Pameran lukisan digelar di galeri Art Xchange, Sanur selama sebulan penuh, pada 25 November sampai 25 Desember mendatang.

Pemilik galery Benny Oentoro saat menunjukkan karya Budi Asih - WIB

DENPASAR, kanalbali.id – Dunia yang penuh harmoni. Keselarasan antara alam dan manusia yang berujung pada rasa syukur kepada Tuhan. Begitulah gambaran dunia dari sudut pandang kanak-kanak yang ditawarkan oleh Budi Asih, seorang seniman asal Yogyakarta.

Karya-karyanya akan dipajang dalam pameran di galeri Art Xchange, Sanur selama sebulan penuh, pada 25 November sampai 25 Desember mendatang.

“Ini pameran pertama di Bali,” kata pemilik galeri Benny Oentoro, akhir pekan lalu. Sebelumnya, Budi Asih telah menggelar karya di sejumlah negara seperti di Korea dan Taiwan.

BACA JUGA: Berpadu dengan Alam dan Budaya Bali, Studio Produksi Film Kelas Dunia Dibangun di Tabanan

Dalam wawancara virtual, Budi Asih menyatakan, ia ingin membangkitkan utopia penuh keceriaan yang telah lama bersemayam dalam benak setiap orang layaknya kanak-kanak.

“Manusia sebagai penyeimbang alam seharusnya mampu menjadi seperti pohon memberikan naungan dan manfaat bagi mahluk lainnya. Elemen-elemen kehidupan seperti air bumi udara hingga hewan juga saling berkaitan dengan kehidupan manusia, jadi memang saya berangkat dari kita sebagai mahluk hidup tak bisa hidup sendiri di alam ini,” ungkapnya.

Pengunjung galeri menikmati karya Budi Asih – WIB

Pada gerak kreatif Asih, orientasi terhadap spirit naif dunia kanak-kanak lebih berfungsi sebagai semacam “kacamata” untuk menangkap dan menghayati realitas secara berbeda. Dengan sudut pandang unik terhadap realitas, Asih menggali metafora-metafora baru yang dapat memperkaya dan mempertajam wawasan kita terhadap realitas.

Karyanya menginspirasikan suatu daya hidup untuk menyikapi realitas dengan segala suka dan dukanya sebagai sebentuk “dunia ceria”: dunia yang diterima dengan sikap positif terhadap hidup.

Budi Asih memang selama ini dikenal sebagai seniman yang kerap menampilkan dunia yang seakan tercipta dari kepolosan imajinasi anak-anak. Mengenai keindahan alam, manusia tumbuhan hingga satwa. Layaknya kondisi ideal dalam hidup, karya-karyanya seolah menjadi bahan Introspeksi atas kenyataan yang sedang terjadi.

Ungkapan visualnya segar, bebas spontan, ringan, dan imajinatif, tetapi juga menghadirkan keajaiban desain yang rinci, bahkan sering kali canggih dan kompleks. Asih seolah mempunyai mekanisme intuitif yang kuat untuk menstrukturkan kelabilan jiwa “autistik” kanak-kanaknya ke dalam pola-pola kesadaran ruang.

Di tengah situasi hari-hari ini yang terasa menyesakkan dada akibat pandemi, perang, bencana alam, dan berbagai krisis global, dunia ceria dalam lukisan Asih terasa meniupkan udara segar. Karyanya mengumandangkan semangat optimisme yang mesti kita jaga dalam mengarungi kehidupan yang dihantui kecemasan, ketidakpastian, dan kekalutan.

“Mengapa harus saya tampilkan kesedihan. Meski karya saya fullcolour ada juga kesedihan yang ditampilkan dan dikemas dalam fullcolour,” ungkapnya. (kanalbali/WIB)

 

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.