UBUD, kanalbali.id – Penyairdari Dubai, Uni Emirat Arab, Namal Siddiqui, telah bergabung dengan event Ubud Writers & Reader Festival sebagai Manajer Program Internasional.
“Ia akan membawa pengalaman dalam mengkurasi program untuk Emirates Literature Foundation, Emirates Airline Festival of Literature, dan berbagai yayasan seni di seluruh UAE,” kata Direktur artistic dan pendiri UWRF, Janet D Neefe dalam rilis yang diterima Minggu (22/6/2025).
Sebagai penyair, Namal telah mempelopori kolaborasi seniman dan inisiatif yang berfokus pada komunitas. Ia akan menjadi ko-kurator program internasional bersama Janet DeNeefe dan Hannah Curtis.
“Kami sangat senang menyambut Namal Siddiqui sebagai bagian dari tim kami. Dalam banyak hal, ia mencerminkan semangat festival ini, berwawasan internasional dan seorang penyair yang berbakat,” tambah Janet.
Simak ! Hasil Seleksi Tertulis dan Tes Psikologi Bakal Calon Anggota KPU Bali Periode 2023-2028
Janet yakin, Namal akan membawa banyak ide segar untuk program 2025.
“Kami semua antusias bekerja bersamanya untuk menghadirkan sebuah Festival yang tak terlupakan,” tutup Janet DeNeefe.
Jajaran Penulis International di Ubud Writers
Mengangkat tema Aham Brahmasmi, sebuah konsep Sansekerta yang diterjemahkan sebagai I am the Universe, program ini akan menyelami hubungan antara diri individu dan kosmos, dengan mengakui bahwa setiap orang mempunyai potensi kreatif yang sama dengan alam semesta itu sendiri.
Jajaran internasional pertama menghadirkan tokoh-tokoh sastra ternama, termasuk para pemenang International Booker Prize 2025.
Salah satunya adalah penulis asal India dan aktivis hak-hak perempuan, Banu Mushtaq, yang meraih penghargaan bergengsi tersebut lewat kumpulan cerita pendek pertamanya,
Heart Lamp, yang diterjemahkan oleh sesama pemenang, Deepa Bhasthi. Hadir pula penulis asal Jerman, Jenny Erpenbeck, peraih International Booker Prize 2024 melalui novelnya Kairos, yang mengisahkan sebuah hubungan dengan latar runtuhnya Jerman Timur.
Festival ini juga akan mempertemukan para maestro nonfiksi dengan pemikiran yang sama tajamnya, termasuk esais dan novelis kelahiran Inggris, Pico Iyer, yang karyanya mencakup berbagai topik mulai dari mistisisme hingga geopolitik.
Kemudian, novelis Amerika peraih penghargaan, Omar El Akkad, yang dikenal lewat karya distopia mencekamnya, American War.
Ada juga penulis asal Belgia, David Van Reybrouck, pengarang Revolusi, sebuah buku yang terpilih sebagai Financial Times Best Book of the Year, yang mengurai perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah tiga abad penjajahan Belanda. (kanalbali/RLS/RFH)


