DENPASAR, kanalbali.id – Sunar Sanggita Music bersama belasan kolaborator dari berbagai organisasi lintas agama dan komunitas berhasil menyelenggarakan konser bertajuk “Satu Cinta untuk Semua: Merayakan Kesetaraan dalam Keberagaman” di Amphitheater Living World Denpasar pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Acara yang berlangsung pukul 18.00 hingga 21.15 WITA ini menampilkan kolaborasi indah antara 35 siswa dari berbagai latar belakang dengan para pengajar tunanetra.
Momen puncak acara adalah seremonial doa bersama untuk perdamaian dunia yang dipimpin perwakilan dari 12 organisasi kolaborator. Ratusan flash kamera telepon genggam menyala bersamaan di tribun amphitheater, menciptakan lautan cahaya sebagai simbol persatuan dalam keberagaman. Lebih dari 200 peserta hadir dalam acara yang penuh makna ini.
I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, pendiri Sunar Sanggita Music yang merupakan penyandang disabilitas ganda tunanetra dan tuli, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh kolaborator.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan. Kami bersyukur dapat bersatu dalam doa perdamaian bersama teman-teman dari berbagai latar belakang,” ujarnya.
Kolaborator yang turut berpartisipasi dalam acara ini adalah PC IMM Kota Denpasar yang diwakili Olivia Agustina Salsabila dengan 7 anggota.
Kemudian, BEM-PM ITB STIKOM Bali yang diwakili I Ketut Suardana dengan 5 anggota, SMP Bali Dharma School yang diwakili Ni Putu Sukanasih dengan 5 siswa, GKPB Jemaat Dhyana Pura yang diwakili Elo Kusuma Alfred Mandeville dengan 10 jemaat.
Ada juga BEM Universitas Mahasaraswati Denpasar yang diwakili Anak Agung Putu Pradnya Sari dengan 3 anggota, Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Bali yang diwakili Ni Putu Puspa Widyastiti dengan 3 anggota, BASAibu Wiki Bali yang diwakili Ni Putu Ayu Suaningsih dengan 3 anggota, HYLD Hindy Linedance yang diwakili Luh Padmi Chandrika Hindy dengan 20 anggota.
Kemudian, UKM Musik Primakara University yang diwakili I Kadek Dharma Yoga Santosa dengan 5 anggota, Yayasan Pendidikan Musik Lima Nada yang diwakili Silvi Agustina dengan 3 anggota, komunitas yang diwakili Dayu Driaraba dengan 15 anggota, dan PKBI Bali yang diwakili Ni Putu Candradevi Davantari Kisara dengan 5 anggota.
Wiguna menjelaskan bahwa ide menyelenggarakan konser berawal dari kekaguman terhadap keragaman Indonesia. “Di bulan Maret terdapat banyak perayaan besar keagamaan, namun masyarakat tetap menanamkan budaya toleransi antara umat beragama. Kami ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa membuat acara yang mempererat persatuan,” katanya.
Acara juga menghadirkan talkshow interaktif bertajuk “Cara Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas” yang dibawakan oleh dua narasumber kompeten. Elo Kusuma Alfred Mandeville, peneliti di Australia Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), memberikan tips berinteraksi dengan penyandang disabilitas fisik.
Sementara itu, Wiguna turut berpartisipasi mengisi materi tentang berinteraksi dengan penyandang disabilitas tunanetra dan tuli. Talkshow ini memberikan wawasan praktis bagi audiens tentang cara yang tepat dan penuh empati dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas.
Living World Denpasar memberikan dukungan penuh sebagai tuan rumah acara dengan menyediakan fasilitas amphitheater, sound system, dan tim teknis yang profesional. Pusat perbelanjaan ini menegaskan komitmennya mendukung kegiatan komunitas penyandang disabilitas dan kolaborasi lintas organisasi untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Konser ini menampilkan kolaborasi harmonis antara siswa penyandang disabilitas dan non-disabilitas yang dibimbing oleh para pengajar tunanetra. Tujuan utama adalah menumbuhkan kepedulian, toleransi, dan empati pada anak-anak sejak dini.
“Dengan melibatkan mereka dalam kolaborasi bersama pengajar disabilitas, kami berharap mereka menjadi anak-anak yang penuh kasih sayang ketika dewasa,” papar Wiguna.
Sunar Sanggita Music adalah sekolah musik yang didirikan dan dikelola penyandang disabilitas, memberdayakan tunanetra sebagai pengajar.
“Kami tidak hanya memberdayakan ekonomi pengajar tunanetra, tetapi juga mengadvokasi inklusi dan mencerdaskan anak-anak Indonesia. Kami ingin penyandang disabilitas tidak hanya dilihat sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek perubahan yang dapat menginisiasi dan menginspirasi berbagai kegiatan,” jelasnya.
Prestasi siswa tidak hanya diukur dari piala atau penghargaan. Banyak orang tua melaporkan rasa sosial anak meningkat, kepercayaan diri bertambah, dan lebih mudah mengingat pembelajaran di sekolah. Beberapa siswa meraih juara vokal di ajang lokal dan tingkat kecamatan.
Konser “Satu Cinta untuk Semua” direncanakan menjadi acara rutin. “Meskipun sekolah musik yang didirikan disabilitas, kami ingin memberikan kualitas yang sama, termasuk penampilan di berbagai tempat,” pungkas Wiguna.
Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa persatuan dalam keberagaman dapat terwujud melalui kerja sama lintas organisasi, agama, dan komunitas. Doa perdamaian yang dipimpin bersama menjadi simbol harapan untuk Indonesia yang lebih harmonis dan inklusif. ( kanalbali/RLS )


