Bisnis E-Commerce Semakin Gurih

BISNIS e-commerce di Indonesia semakin menjanjikan. Data terbaru dari Merchant Machine, lembaga riset asal Inggris, menunjukkan pertumbuhan e-commerce di Indonesia mencapai 78 persen pada 2018, menjadi negara dengan pertumbuhan e-commerce tercepat di dunia.

Bank Indonesia pun memproyeksi pertumbuhan bisnis dagang berbasis digital ini tumbuh 33,2 persen dari 2020 yang mencapai Rp253 triliun menjadi Rp337 triliun pada tahun ini. Tidak hanya itu, melihat dari perkembangannya selama satu dekade terakhir, platform e-commerce mampu berperan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha pedagangan elektronik memiliki nilai ekonomi bagus, sehingga harus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha, khusus pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Pelaku usaha mikro harus memanfaatkan ini dengan baik, karena perdagangan elektronik ini adalah jenis usaha kreatif baru yang mampu mendongkrak perekonomian kita,” kata Lia Arianti,  Co-Founder Momamaru Salmon Mentai, saat berbicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur pada Kamis 1 Juli 2021.

Ia juga mengatakan bahwa pemanfaatan media digital untuk UMKM penting dilakukan untuk memperluas akses pasar dan lebih aman.

“Alur transaksi dari penjual hingga pembeli yang dibuat sedemikian rupa agar pembeli menerima dulu barangnya baru penjual mendapatkan uang yang dibayarkan membuat rasa aman bagi pembeli,” imbuh Lia.

Kelebihan lainnya, pemasaran melalui “online” bersama marketplace yang ada di Indonesia, sangat mudah persyaratanya, yakni hanya dengan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik, lalu, jenis produk usaha yang mau dijual dan nomor rekening pemilik. Penjual tak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membuat toko fisik. Sementara kalau membuat toko di marketplace kita hanya perlu mengeluarkan biaya 1 persen dari harga barang.

Lia juga mengatakan pembuatan toko di dunia digital praktis dan cepat. “Cukup mempersiapkan produk, mempergunakan sosmed, mencari target pasar, menjual produk dengan harga terbaik dan memfoyo produk semenarik mungkin,” saran Lia.

Apalagi bila dilihat dari sisi perilaku konsumennya, di semua lini dagang berbasis online, tren transaksi berbasis digital terjadi peningkatan seiring banyaknya waktu orang di rumah sepanjang masa pandemi. Selain itu, adanya teknologi yang semakin mapan diiringi dengan kecepatan transaksi yang semakin mudah dan cepat sangat membantu akselerasi bisnis digital jenis tersebut.

Selain Lia, webinar yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerja sama dengan Siberkreasi ini juga menghadirkan Ruhut Marhata Legal Counsel Advance Al, Marta Muslin  Tulis, SH, Community Project Manager. Patris Anggo, ASN dab Key Opinion Leader Guntur Nugraha dengan moderator Jhoni Chandra.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.