Mempersiapkan Pemimpin Milenial Untuk Masa Depan

pixabay by klimkin

SEORANG pemimpin harus memiliki kelebihan dalam banyak hal dibandingkan orang yang dipimpinnya. Meskipun sejatinya setiap kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya, tapi pemimpin harus memiliki hard skill juga soft skill yang bisa menjadi teladan.

Hal itu dikatakan oleh Lina Komalasari Manager dan Ketua KOPRI PMII Lombok Timur dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Snin 8 November 2021.

Dikatakan Lina bahwa kepemimpinan adalah sebuah kemampuan atau kekuatan dalam diri seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam bekerja di mana tujuannya adalah untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.

“Persoalannya adalah bagaimana mempersiapkan pemimpin milenial di masa depan dan psemimpin itu terkait sejumlah hal termasuk cara tekhnik, strategi dan kemampuan dalam memimpin,” ujar Lina dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.

Saat ini dimana generasi milenial mengisi sebagian besar penduduk dengan karakter yang cenderung menyukai hal-hal yang instan. Saat ini juga pemimpin sekarang tengah memimpin kalangan multigenerasi, ada yang milenial yang paham tentang teknologi dan non milenial yang tidak paham tentang dunia digital.

Secara umum, ada 3 soft skill skill kepemimpinan  yaitu kepemimpinan, berkomunikasi dan berpikir kritis. Dalam jiwa kepemimpinan kita harus memiliki kemampuan manajemen konflik dan manajemen pengambilan keputusan juga kemampuan monitoring kemampuan supervisi dan manajemen waktu.

Budaya Produktif di Era Digital

Soft skill kedua yaitu berkomunikasi artinya bagaimana bernegosiasi, presentasi, personalisasi membaca body language lawan bicara dan komunikasi non verbal serta gesture ekspresi. Untuk soft skill berpikir kritis artinya kita harus kreatif, fleksibel dan memiliki rasa ingin tahu, selera artistic, kemauan belajar, pola pikir logis dan memecahkan masalah.

Seorang pemimpin akan dihadapkan pada banyak masalah-masalah yang berasal bukan hanya dari soal kerjaan tapi juga permasalah anggotanya.  Sangat penting bagi pemimpin untuk bisa mengambil keputusan mengenai hal-hal apapun yang berhubungan dengan anggota untuk mencapai tujuan dari organisasi itu sendiri.

Kemampuan memonitoring juga penting karena pemimpin harus mampu mengikuti suatu program dan melaksanakan program itu secara mantap, teratur dan fokus melihat dan mengambil keputusan.

“Selain itu harus ada kemampuan supervisi karena dalam supervisi ini sangat penting agar kita dapat mengetahui dan merencanakan, melaksanakan dan menindaklanjuti apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah soal manajemen waktu karena banyak sekali agenda-agenda yang dilaksanakan saat memimpin. Dan seorang pemimpin harus bisa melaksanakan agenda acara yang sudah dibuat lebih kreatif lagi.

Selain Lina juga hadir pembicara lainnya yaitu Chris Jatender, Kaprodi STTI, Cenuk Sayekti, Peneliti dan Dosen dan Wicha Riska sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.