Hati-hati, Ini Risiko yang Mengintai Dibalik Teknologi Face Recognition

pixabay by Habitat_de_lill

SEMAKIN hari, teknologi face recognition makin sering ditemukan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih dalam situasi pandemi, teknologi face recognition banyak digunakan saat ingin memasuki tempat-tempat umum.

“Face Recognition adalah salah satu teknik biometri yang sedang tren dan memungkinkan komputer atau mesin untuk mengenall wajah manusia secara real time,” ujar epala Unit IT Rs Anggrek Mas Jakarta, M Randy Mandala dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital Wilayah, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Rabu 10 November 2021.

Randu menjelaskan bahwa sistem ini mengidentifikasi seseorang dengan fitur fitur khusus pada tubuh maupun DNA yang membedakan satu orang dengan orang lainnya. Teknologi ini kerap ditemukan di berbagai tempat mulai dair bandara, tempat belanja, jalanan, bahkan hingga gawai.

Face recognition biasa digunakan untuk pengawasan otomatis, bertujuan untuk mengenali dan melacak orang, memantau CCTV untuk melacak orang hilang ataupun criminal yang tertangkap kamera CCTV,” ujar Randy.

 Pentingnya Informasi, Identitas, dan Jejak Digital

Ia melanjutkan bahwa face recognition juga biasa digunakan di pintu Masuk tempat penting seperti pesawat, kereta dan lainnya Rekonstruksi wajah pelaku criminal dan orang hilang berdasarkan lukisan sketch dari saksi dan disempurnakan oleh Artificial Intelligence seperti DeepFake.

Seperti halnya teknologi lainnya, Face Recognition juga menimbulkan risiko kejahatan secara siber. Oleh sebab itu Randy mengingatkan untuk tetap hati-hati saat menggunakan face recognition.

“Selalu berhati-hati dalam menyebarkan foto dan video di media social Perlunya undang-undang dari pemerintah untuk perlindungan foto dan video pribadi,” kata dia.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa proses duplikasi dan identifikasi melalui Artificial Intelligence membutuhkan sample data yang banyak. Artinya semakin banyak foto kita tersebar, maka akan semakin mudah kita dikenali serta semakin mudah dan semakin mirip hasil dari deep fake.

Dalam webinar tersebut juga hadir Yulia Dian, Writer dan Content Creator, Idham, Owner Idot Store, dan Wicha Riska sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.