Jangan Anggap Sepele, Begini Dampak Pelecehan Seksual di Media Sosial Bagi Korban

pixabay by Elf-Moondance

PELECEHAN seksual belakangan tidak hanya terjadi di dunia nyata. Dengan seiring perkembangan teknologi digital, banyak bentuk pelecehan seksual yang juga terjadi di internet atau media sosial.

“Pelecehan seksual didefinisikan tindakan seksual sentuhan fisik, mapun non fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korbannya.” ujar Branding Strategist, Relawan Kemanusiaan, Content Creator, Nannette Jacobus dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital Wilayah Maluku Tengah, Maluku, Selasa, (14/9/2021).

“Seiring dengan berkembangnya zaman, dan teknologi, pelecehan juga merambah ke dunida digital.”

Nannette juga menjelaskan, bahwa pentuk pelecehan seksual di juga beragam, mulai dari sexting atau mengirimkan konten intim bermuatan konten tanpa persetujuan, body shamming, scammer, hingga penyebaran konten intim tanpa persetujuan.

“Pelecehan seksual ini berdampak banyak sekali bagi korban, mulai dari trauma dan rendah diri. Banyak korban mentalnya hacur yang kemudian meninggalkan bekas luka batin yang sulit dihilangkan,” kata Nannette.

Selain itu, banyak korban yang akhirnya mengalami pengucilan. Mereka diasingkan oleh masyarakat karena korban dianggap melakukan perbuatan yang hina dan berdosa.

“Banyak korban juga melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri. Karena korban mengalami tekanan terlalu berat korban akhirnya menyakiti diri dan bahkan sampai bunuh diri,” ujar Nannete.

Lebih jauh, Nannete juga menyampaikan bahwa penting untuk perempuan atau korban berani melawan. Nannette menyampaikan untuk melatih diri untuk berani mengungkapkan perasaan keberatan dna juga untuk melaporkan kejadian.

“Lalu cari dukungan. Dukungan ini bisa dari orang terdekat maupun pihak berwenang,” kata dia.

Jika terlalu banyak menggunakan internet sebaiknya ambil waktu sejenak untuk ambil jeda.

“Kalau ada kita melihat pelecehan seksual atua kita jadi korban, jangan takut untuk speak up dan mengungkapkan kebenaran. Dan apabila terjadi pada orang sekitar kita, berikan dukungan dan juga bantu mereka melewati masa sulit,” ujar Nannette.

Dalam kesempatan yang sama, Lead Creative & Marketing Strategy,  Gebryn Benjamin juga menyampaikan karakteristik berbeda dari generasi alfa dan generasi yang lain. Oleh sebab itu, bentuk pendidikan yang diberikan juga berbeda.

Selain mereka berdua juga hadir, Yudi Mochtar Latuconsina, Dosen Universitas Darusalam, dan Key Opinion Leader, Sri Rahma Dani.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.