Netizen Diajak Pahami Tantangan Generasi Milenial di Ruang Digital

pixabay by PhotoMIX-Company

Generasi milenial saat ini adalah generasi yang paling banyak menggunakan internet. Jumlah mereka paling banyak bukan hanya pengguna internet di Indonesia tetapi usianya juga secara populasi mengisi bagian terbanyak usia populasi penduduk.

“Generasi milenial paling banyak dalam populasi di Indonesia atau mendominasi jadi tak heran jika generasi milenial ini disebut calon pemimpin untuk Indonesia,” ujar Tiara Maharani, Writer-Corespondent Indonesia dalam Webinar Literasi Digital yang digelar oleh Kemkominfo dan Siberkreasi di Kota Denpasar Bali Jumat 12 November 2021.

Lebih lanjut kata Tiara, sebagai pemimpin, generasi milenial ini punya banyak tanggung jawab dan tantangan.

Pertama tantangan mereka adalah dari diri mereka sendiri, mereka harus belajar beradaptasi sekaligus mereka harus bisa merangkul dan mengedukasi terutama untuk generasi Z generasi penerus dari generasi milenial yang akan memimpin Indonesia.

Sebentar lagi generasi milenial digeser oleh generasi Z, sementara generasi baby boomer adakah generasi yang sama sekali tidak mengenal internet karena lahir dan besar tanpa internet.

“Berbeda dengan generasi Z yang sejak lahir mengenal internet. Generasi milenial baru mengenal internet saat mereka remaja, sehingga perlu waktu bagi mereka untuk beradaptasi. Ini tantangannya. Jika mereka ingin maju, mereka harus mengikuti arus perkembangan zaman. Di satu sisi, mereka juga bertanggung jawab terhadap masa depan Indonesia terutama generasi Z,” ungkap Tiara.

Hati-hati di Internet, Jangan Sampai Jadi Korban Perundungan Digital

Menurut Tiara, cara terbaik untuk beradaptasi dengan transformasi digital adalah dengan mengikuti arus. Namun demikian, generasi milenial perlu memahami tiga pilar transformasi digital yang wajib mereka ikuti, seperti:

1.Digital aset

Ini merupakan perubahan bentuk aset dari bentuk fisik menjadi bentuk digital. Contohnya adalah NFT atau non fungiable token /adalah aset digital yang mewakili objek dunia nyata seperti seni, musik, item dalam game, hingga video. NFT bisa dibeli dan dijual secara online, seringkali dengan cryptocurrency atau mata uang kripto dan umumnya dikodekan dengan software yang sama dengan banyak kripto.

Bagi generasi milenial ini agak aneh karena sesuatu yang tidak nyata tapi bisa diperjualbelikan dan diakui kepemilikannya. Berbeda dengan generasi milenial yang menganggap bahwa aset digital adalah aset nyata yang memiliki harga nyata.

“Ini tantangan bagi generasi milenial, agaimana cara mereka untuk mengubah pikiran untuk menghargai aset-aset digital milik orang lain,” kata Tiara.

2.Digital interaction

Transformasi digital yang mengubah cara kita berinteraksi. Generasi milenial masih mengalami masa dimana komunikasi efektif adalah dengan bertatap muka, sehingga interaksi lewat digital menjadi hal lain. Itu sebabnya, sulit bagi generasi milenial memahami bahwa interaksi dunia digital sama dengan interaksi dunia nyata.

“Padahal, orang yang kita ajak ngobrol di sosial media, konten yang kita komentari di sosial media, informasi yang kita share di sosial media itu sama dengan saat kita berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata. Oleh karena itu, maka kita harus memperlakukan siapapun di dunia digita sebagai mana kita ingin diperlakukan di dunia nyata,” kata Tiara.

  1. Digital privacy and cybercrime

Dengan perkembangan ruang digital yang begitu cepat, perkembangan teknologi yang begitu cepat dan belum pernah kita lihat dan kenal sebelumnya, maka regulasi hukum dan aturan-aturan yang ada di ruang digital juga selalu berubah dengan cepat.

“Regulasi hukum di dunia digital baru muncul belakangan, maka mungkin banyak dari kita yang menganggap ancaman kejahatan dunia digital ini tidak akan berdampak terlalu besar. contohnya mungkin beberapa dari kita belum paham bahayanya jika email kita di hack oleh orang tidak bertanggung jawab,” kata Tiara.

Karenanya, jelas Tiara, penting sekali bagi generasi milenial soal pemahaman digital literasi yang mencukupi agar kita mampu memimpin generasi sebelum dan sesudah kita di ruang digital.

Selain Tiara juga hadir pembicara lainnya yaitu Grace.M.Moulina, Head of Marcomm and Evets Dept Finance Company, Ni Putu Nitra Prianthini, M.Pd. Guru Bahaasa Indonesia SMP N 1 Denpasar dan Adelita sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Kanalbali/rls)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.