Cyber Bullying Bisa Bikin Korban Depresi

pixabay by Alexas_Fotos

Cyber bullying masih menjadi momok menakutkan bagi pengguna media sosial (medsos), terutama para orang tua yang memiliki anak-anak dan remaja.

Menurut Gabrilianty Astiti Ayuningtyas, Spv Accounting Analyst dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin 15 November 2021, selain berdampak pada fisik cyber bullying juga berakibat pada mental dan emosional.

“Dampak cyber bullying pada seseorang bisa merasa kesal, merasa bodoh bahkan menjadi tidak percaya diri, depresi, kecemasan selalu merasa bersalah atau kehilangan minat pada hal-hal yang disukai. Sementara, dampak secara fisik menjadi kurang tidur atau mengalami gejala seperti sakit perut dan sakit kepala,” ujar Gabrilianty dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa cyber bullying merupakan perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Dan hal ini dapat terjadi di berbagai platform seperti chatting,  game serta medsos. Biasanya cyber bullying dilakukan secara berulang.

“Jika dahulu ada ungkapan ‘mulutmu harimaumu’ saat ini menjadi ‘jarimu harimaumu’,” jelas Gaby.

Yang patut diwaspadai juga karena pelaku cyber bullying tidak diketahui dan kapan saja bisa terjadi. Sementara bullying di dunia nyata terjadi secara langsung dan rekatif korban bisa lari menghindari. Sedangkan di dunia maya korban cyber bullying tidak dapat lari menghindar dan kejadiannya  lebih mudah viral.

Selain itu bullying di dunia nyata relatif tidak terlalu banyak orang melihat dan tahu sementara cyber bullying,  kebanyakan kasusnya meski vital tetapi tidak diketahui siapa pelakunya dan susah mau melihat reaksi pelaku dan korban.

Ini Pentingnya Literasi Digital Bagi Masyarakat Papua

Untuk menghindari cyber bullying yang paling bida melakukannya adalah diri kita sendiri. Untuk kita harus memahami juga terkait cyber bullying.

“Kita harus melek literasi digital dan melek internet. Pahami sebenarnya tentang hal-hal di ruang digital lewat banyak jalur semisal dengan diskusi baik dengan teman atau keluarga,” terangnya.

Yang harus juga dipahami untuk terhindar dari cyber bullying adalah dengan mempertimbangkan sebelum posting atau share foto. Sebab tidak jarang cyber bullying berawal dari kebiasaan kita tidak memfilter postingan akibatnya kita menjadi objek bullying.

Usahakanlah untuk selalu mempertimbangkan memilah foto yang akan kita posting terlebih dahulu sebelum memposting. Hal ini juga harus dipertimbangkan saat kita mengirim foto ke orang lain.

Selain itu hindari juga memposting informasi pribadi seperti alamat lengkap, nomor telepon, password dan informasi lainnya yang seharusnya hanya untuk pribadi dan hanya kita pakai untuk keperluan tertentu saja seperti urusan bank, kesehatan atau birokrasi lainnya.

Selain Gaby, juga hadir pembicara lainnya yaitu Chris Jatender, Kaprodi Teknik Informatika STTI, Saverinus Budi, S.fil, Pengajar di SMK Karya Ruteng dan Dhan Geisha sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.