Begini Pentingnya Peran Generasi Milenial Sebagai Guru Digital

pixabay by chenspec

GENERASI MILENIAL yang bekerja sebagai guru perlu memiliki kemampuan digital yang mumpuni, agar bisa memberikan pengetahuan secara lebih baik dan lebih lengkap kepada para muridnya.

Ferdy Aleksander Liubana, seorang guru penggerak dari kabupaten Timor Tengah Selatan, mengatakan bahwa guru milenial harus mampu mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan teknologi informasi.

“Mengingat kondisi teknologi yang selalu berubah, diperlukan kemampuan adaptasi yang tinggi agar tidak ketinggalan zaman,” tutur Ferdy, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Senin 15 November 2021.

Ferdy mengatakan penggunaan smartphone, laptop, dan media sosial dalam pengajaran tidak bisa ditinggalkan oleh guru milenial. Tujuannya tentu saja untuk mempermudah dan menunjang pekerjaan guru.

Ferdy menjelaskan secara umum, generasi milenial berbeda dengan generasi sebelumnya yang masih analog. Sebagai generasi digital, milenial lebih banyak mengakses informasi melalui media digital, tidak bisa jaduh dari gadget, dan selalu terhubung dengan media sosial.

Generasi milenial juga lebih sering mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking) dan menaruk perhatian lebih banyak pada gambar, grafik, warna, dan musik daripada tulisan.

Netizen Diajak Pahami Tantangan Generasi Milenial di Ruang Digital

“Karena itu, milenial bisa mengajari teman, orangtua, adik, di sekolah maupun lingkungannya, tentang bagaimana menggunakan media digital dengan baik dan pantas,” paparnya lagi.

Memahami literasi digital menjadi cara untuk menularkan pengetahuannya, lewat edukasi empat pilar, yakni kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital.

Tentu saja mengajarkan orang lain tentang literasi digital bukanlah hal yang mudah. Ada tantangan-tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial, di antaranya:

  • Belum meratanya akses internet di seluruh daerah
  • Mahalnya kuota
  • Perangkat yang digunakan belum sesuai
  • Kemampuan adaptasi teknologi yang berbeda untuk setiap orang

“Digitalisasi membuat seseorang memiliki sikap toleran yang tinggi walaupun berbeda kultur, akan tetapi kelemahan di era digital ini juga ada contohnya seseorang memiliki sifat individualis dan egosentris,” tutupnya.

Dalam webinar ini hadir juga Qamaril Hazhiyah Adani (General Manager PT Gifera Odo Technology), Alaika Abdullah (Virtual Assistant & Digital Content Creator), dan Tisa Caca (key opinion leader).

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.R (KANALBALI/RLS)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.