Pemimpin Milenial Harus Wujudkan Visi Kebangsaan

pixabay by Joko_Narimo

MENJAWAB tantangan di era digital, untuk menjadi seorang pemimpin butuh digital culture yang mumpuni agar negara ini bisa berjalan beriringan dengan kecanggihan peradaban zaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur yang menjadi pemersatu bangsa ini.

Hal itu dikatakan oleh Fredirikus Seda, S.Fil, Kepala Sekolah SDK ST.Kanisius Panite dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Senin 22 November 2021, bahwa tantangan generasi milenial saat ini memang mewujudkan visi kebangsaan.

“Kita lihat saat ini teknologi sangat membantu mempercepat kegiatan manusia dan segala proses perubahannya berkembang dengan cepat dan kita kita terima sebagai dampak positif. Tapi kehadirannya bisa juga menghancurkan manusia dan lingkungan. Sekali klik saja bisa berefek besar,” ujar Seda dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.

Untuk itu, lanjut Seda dibutuhkan digital culture untuk mewujudkan visi kebangsaan. Digital Culture adalah sebuah konsep yang menggambarkan bahwa teknologi dan internet secara signifikan membentuk cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat.

“Pentingnya digital culture untuk meningkatkan kualitas penggunaan teknologi untuk mempermudah, mempercepat, pekerjaan, memperluas jangkauan menciptakan inovasi dan kreativitas , fleksibilitas serta memperluas jaringan dan memperluas bisnis,” imbuhnya.

Memahami Digital Culture dan Kebebasan Berekspresi

Pemimpin di era digital ini ditantang agar nilai kemanusiaan ini tetap dijaga, selain itu untuk menjaga keutuhan alam kita supaya lestari. Sebab teknologi produksi bisa menghancurkan alam dan  kita ditantang untuk sebagai pemimpin untuk tetap menjaga keutuhan alam yaitu sebagai pemimpin peradaban yang bisa menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kehidupan manusia.

Sebab seperti yang diketahui bahwa perkembangan teknologi digital baik itu teknologi komunikasi dan informasi, persenjataan medis dan lain-lain sebagainya sangat membantu memperlancar segala proses pembangunan ini berkembang dengan cepat .

Namun kehadirannya dapat dengan sekejap bisa menghancurkan dunia, baik manusia dan lingkungan seperti senjata nuklir, penyebaran hoax , bullying dan lainnya. “Dan sebagai pemimpin di era digital ditantang agar nilai kemanusiaan dijaga, juga menjaga keutuhan alam ciptaan Tuhan agar tetap dilestarikan.  Pemimpin yang dituntut sebagai pembimbing peradaban dan tujuan dari seluruh peradaban adalah kemuliaan Tuhan,” terangnya lagi.

Tuntutannya adalah pemimpin yang bukan anti Tuhan dan inilah nilai-nilai yang termuat dalam pembukaan UUD 45 atau Pancasila sehingga visi kebangsaan bukan sekedar ajaran atau perayaan tapi harus diwujudnyatakan.

Selain Seda juga hadir pembicara lainnya yaitu Cenuk Widyastrisna Sayekti, Dosen dan Peneliti, Fajar Sidik, Zinester dan Podcaster dan Fitriyani sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.