Ayo Lindungi Informasi Identitas Diri di Medsos

pixabay by StartupStockPhotos

Fakta tentang penggunaan ruang digital di dunia per Januari 2021 dari total total populasi dunia sebanyak 7,803 milliar. Sementara, pengguna gadget tercatat sebanyak 5,2 miliar dan pengguna internet sebanyak 4,606 miliar serta yang aktif di media sosial sebanyak 4,20 miliar.

Adinda Atika, VP Business Development dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis 23 September 2021, mengatakan internet sekarang menjadi poin paling penting dalam sehari-hari kita. Dulu kita kalau menonton TV harus di TV kalau sekarang kita bisa dari HP dari YouTube.

“Lalu dikarenakan pandemi kita tidak bisa nongkrong-nongkrong dan sekarang kita bisanya oom seperti yang kita lakukan sekarang. Belanja juga dulu belanja harus ke tokonya langsung sekarang bisa lewat online,” ujar Adinda dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.

Lebih lanjut, kata Adinda, saat ini kita tidak berpaling dari ruang digital yang faktanya memang sangat membantu kehidupan sehari-hari manusia dalam bidang apapun. Informasi digital adalah proses mengubah berbagai informasi kabar atau berita dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi disimpan dikelola dan didistribusikan.

“Dalam ruang digital ada identitas digital yang merupakan instrumen yang digunakan untuk membuktikan eksistensi seseorang di dunia digital. Dan segala informasi informasi digital itu telah berubah menjadi identitas digital,” lanjutnya.

Oleh karena itu, setiap pengguna ruang digital harus menyadari apapun interaksi kita di ruang digital akan terdata sebagai jejak digital. Jejak digital atau digital footprint adalah tapak data yang tertinggal setelah beraktivitas di internet.

“Jadi semua yang kita cari di internet akan selamanya tersimpan di situ. Informasi digital akan berubah menjadi identitas digital lalu akan menjadi jejak digital,” jelasnya.
Untuk itulah setiap pengguna internet wajib melindungi segala data yang dimiliki seperti data pribadi, pembayaran, dan kesehatan. Sebagai contoh jejak digital adalah unggahan foto chatting, mengunjungi situs komentar pada konten, isi data pribadi, mengirim email dan internet banking.

Selain itu kita harus memahami bahayanya jejak digital karena berbagai alasan. Diantaranya adalah bisa memberi peluang terjadinya phising, penipuan online biasanya melalui email dan SMS. Selain itu jejak digital akan mempengaruhi reputasi professional. Misalnya sudah beberapa lama belakangan ini perusahaan-perusahaan lewat aktivitas merek melihat aktivitas pegawainya lewat ruang digital.

Karenanya ada sejumlah cara untuk melindungi data di dunia digital, dengan memperbarui perangkat lunak. Semisal ada pembaharuan anti-virus atau werewolf kita juga ikuti untuk mengupdate supaya sulit orang untuk nge-hack device kita.

Selain itu bisa juga dengan membuat password yang panjang dan gunakan pengelola sandi. Aktifkan 2 factor authentication. Periksa selalu T&C, ini yang jarang sekali dilakukan oleh orang-orang dan hindari penggunaan wi-fi publik. Ditambah lagi untuk mengaktifkan mode hapus data, matikan pengisian otomatis, memilih platform yang tepat, supaya data-data kita terjaga.

Yang juga sangat penting dipahami adalah apapun yang ingin kita unggah di ruang digital terutama di medsos haruslah sudah dipikirkan terlebih dahulu. “Think before sharing, Jangan membagikan sesuatu yang sifatnya personal. Berhati-hati kepada orang tidak dikenal, misalnya ada yang ngajak kenalan dicek dulu ini orang siapa sih,” bebernya.

Serta hindari penyebaran data-data penting, seperti nomor rekening, kartu kredit karena berbahaya dan data-data ini harus kita lindungi.

Selain Adinda hadir pembicara lainnya yaitu Jonny, Head IT GELtech, Dr. Agus Adiarta, Koorprodi Pendidikan Teknik Elektro UNDIKSHA dan Fischa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.