Yuk Simak Tips Hadapi Ujaran Kejulidan Warganet

pixabay by Firmbee

MEDIA SOSIAL telah menjadi sarana hiburan masyarakat yang terhubung dengan internet. Di media sosial, seseorang bisa membagikan aktivitas kesehariannya mulai dari hal sepele, hobi hingga urusan pekerjaan dan bisnis.

Sayangnya tak semua orang bisa bersikap bijak dalam bermain media sosial. Akan ada saja komentar bernada negatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan kesalahpahaman hingga perseteruan.

Itu juga yang diamini dan dialami oleh Rizky Rahmawati, Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associates. Berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Lanny Jaya, Papua, Kamis (25/11/2021), Rizky mengatakan bagaimana dirinya juga sempat mendapat komentar bernada julid di media sosial.

“Ada yang komentarin fisik aku, dan lucunya dia laki-laki. Tapi aku bawa santai aja,” kata Rizky Rahmawati.

Ia melanjutkan, jika ujaran kejulidan berbeda dengan ujaran kebencian. Meski sama-sama negatif, namun komentar julid tidak memiliki implikasi sebesar komentar kebencian.

“Konten ujaran kebencian berarti ada unsur kebencian yang mana itu dilarang dalam UU ITE. Sementara ujaran dan komentar warganet lebih sering ujaran kejulidan, hanya nyinyir aja pas melihat orang punya badan bagus, terus julid,” tambahnya.

Juga ujaran julid tersebut kemudian mengarah pada komentar yang menyinggung SARA, maka hal tersebut sudah masuk dalam danah ujaran kebencian.

Lalu, bagaimana cara menghadapi ujaran julid warganet? Dikatakan Rizky, warganet umumnya hanya senang melontarkan komentar iseng, jadi sebaiknya jangan tanggapi serius.

BACA JUGA:

Mengapa Kontrol Diri Sangat Penting Saat Berinteraksi di Ruang Digital?

“Sebenarnya itu nyinyir, tanggapi saja dengan santai jangan sampai terpancing. Karena kalau kita bisa meninggapi dengan santai, yang nyinyir dan julid akan diam. Selamanya mereka hanya akan komen yang penuh kebencian ini,”

“Kalau ujungnya untuk menghina kita berdasarkan latar belakang kita, laporkan dan report serta blok. Media sosial sudah memberi akses itu, jangan lupa di screen capture,” pungkas Rizky Rahmawati.

Selain Rizky Rahmawati, Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associates hadir pula dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Lanny Jaya, Papua, Kamis (25/11/2021) yaitu Descha Muchtar, Founder Indopinups & CSE Educator, Ofir Victor Soumokil, Analis Business Continuity Management (BCM), dan Ichal Muhammad sebagai key opinion leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.