Terkenal Sebagai Netizen Tak Sopan, Ini Etika Digital yang Mesti Dimiliki Masyarakat Indonesia

KEMAJUAN teknologi digital yang begitu cepat, seringkali tidak diimbangi dengan kecakapan dan etika dalam penggunannya. Maka tidak heran jika tingkat literasi digital di Indoensia masih relatif rendah.

Bahkan, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan teknologi Microsoft, netizen Indonesia dinilai sebagai salah satu yang tidak sopan. Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Dengan hasil tersebut, Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara.

Oleh sebab itu, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Ternate, Maluku Utara, Kamis, (25/11/2021), Pemilik Diva Wedding dan Event, Forita Deva, memaparkan pentingnya seorang untuk bisa memahami etika digital.

“Etika itu secara umum ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakatnya,” ujar Forita dalam webinar tersebut.

Sedangkan etika digital sendiri merupakan kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola menyesuaikan diri, merasionalkan, etika digital (netiquet) dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan Sampai Terjadi Perpecahan di Indonesia karena Digitalisasi

Dalam kaitannya dengan etika digital, Forita menjelaskan bahwa seorang harus memiliki kesadaran dalam menggunakan internet atau media sosial. Artinya, ia mesti sadar segala hal yang ia bagikan di dunia digital serta konsekuensi yang mungkin bisa muncul.

“Hal lain yang juga mesti diperhatikan bahwa dalam etika digital kita harus menjadi contoh dalam setiap perilaku di internet. Kemudian kita juga mesti mampu menyesuaikan diri, karena internet dipenuhi orang dengan berbagai latar belakang,” ujar Forita.

Kemudian, hal lain yang juga diingatkan oleh Forita ialah harus rasional dalam menggunakan dunia digital. Selanjutnya juga harus bertanggung jawab serta melakukan pengembangan dalam penggunaannya.

Dalam webinar tersebut juga hadir pembicara lainnya, yakni Randy Mandala Putra, Kepala Uni IT RS Anggrek Mas Jakarta M DR Herman Usman, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, dan Ahmad Affandy sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.