Jangan Asal Cepat Menyebarkan Berita di Medsos, Cek Dulu Kebenarannya

pixabay by WilliamsCreativity

MEDIA sosial atau internet bukan saja menjadi gaya hidup orang sekarang ini. Tetapi juga sudah menjadi kebutuhan hidup untuk semua pengguna ruang digital atau yang sering bergelut di internet.

“Karena di tengah pandemi covid semua kegiatan dilakukan dari rumah atau work from home, mau anak sekolah ataupun bekerja di kantor. Banyak sekali sekarang yang dilakukan bangun pagi itu sekarang sudah pegang handphone Jadi sekarang handphone itu sudah menjadi kebutuhan pokok,” ujar Florentina Momang, ST, Penggiat Literasi dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Kamis 25 November 2021.

Meski banyak manfaat, kita sebagai pengguna juga harus memikirkan sisi negatifnya termasuk masifnya penyebaran hoax di ruang digital. “Jadi di sini orang yang membuat berita hoax dia akan membuat apa yang dia buat seolah-olah benar adanya bagaimanapun caranya sehingga sang pembaca dapat mempercayainya sebagai sebuah fakta tetapi sebenarnya itu adalah berita hoax,” imbuhnya dalam webinar yang dipandu oleh Idfi Pancani ini.

Bahaya berita hoax ini banyak termasuk akan menimbulkan perselisihan terhadap pengguna 1 dan pengguna lainnya. Karena sekarang banyak sekali masalah-masalah yang muncul di media sosial jika kita tidak mampu atau tidak mengimbangi kemampuan kita untuk pandai dalam bermedia sosial maka kita akan terbawa dengan hal negatif tadi.

Jadi bahaya yang sering muncul di media sosial atau tersebarlah berita hoax itu adalah keributan dan penyebaran kebencian. Kadang banyak orang yang membuat menyebarkan berita berita atau menggambarkan sesuatu yang tidak benar membuat seolah-olah ada masalah yang benar terjadi. Sekarang pemerintah sangat sangat bekerja keras untuk Bagaimana caranya sehingga berita-berita hoax yang tersebar di dunia maya ini dapat diatasi dengan baik sehingga banyak orang yang selamat. Jadi hoax itu seolah berita yang seolah-olah benar padahal bohong.

Banyaknya berita hoax yang beredar makin diperparah oleh penyebarannya di media sosial. Jalurnya bisa berupa online media sosial hingga chatting aplikasi. Jadi perkembangan aplikasi internet itu sangat sangat cepat sehingga semakin mudahnya para pembuat berita hoax atau manusia manusia memang kerjanya ingin mengadu domba satu sama lain dalam media sosial ini.

Cara Bijak Memberikan Komentar di Media Sosial

Mereka membuat berita yang tidak benar mereka sering ke orang-orang pengguna media sosial sehingga kadang para pengguna media sosial yang tidak pandai atau kurangnya ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara mengecek media sosial itu langsung percaya beritahoax sebagai sebuah kebenaran.

Sehingga terjadinya banyak perselisihan atau banyak masalah yang muncul. Sekarang banyak sekali orang yang begitu gesitnya memberikan informasi sehingga informasi yang mereka percaya benar yang mereka bagikan itu tercepat entah benar atau tidak itu urusan belakang.

Intinya berita ini bisa cepat-cepatdi informasikan ke orang lain padahal sebelum kita menyampaikan informasi itu kita perlu mengecek dulu apakah informasi yang kita sudah bagikan itu benar atau tidak. Sehingga para pembaca atau seorang yang sudah menerima informasi yang masuk dari kita menerima informasi yang tidak salah.

“Intinya mereka ingin jadi yang pertama menyebarkan informasi baik informasi yang sudah benar adanya ataupun tidak. Di sini memang medsos hanya ajang untuk mencari sensasi. Jadi dia merasa hebat karena dia sudah menjadi orang pertama yang memberikan informasi tersebut,” bebernya lagi.

Dan hoax menyebar dari banyak cara diantaranya pengguna medsos cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Dan kelompok tersebut bertumpu pada opini pemimpin mereka yang memiliki pengaruh di jejaring. Serta hoax tersebar juga karena kabar bohong yang berada di medsos menjadi besar ketika diambil oleh situs atau pihak terkemuka yang memiliki banyak pengikut.

Selain Yohana juga hadir pembicara lainnya yaitu Fjar Sidik, Zinester & Podcaster, Nurul Amalia, Digital Content Creator dan Eryvia Maronie sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.