Inovasi dan Adaptasi Diperlukan Agar Bertahan di Era Pandemi

ENDE – Setiap jenis usaha harus memiliki dasar yang kuat agar tidak mudah goyah bahkan runtuh. Di tengah situasi pandemi covid-19, sektor UMKM melakukan berbagai cara agar bias bertahan. Keadaanini juga memaksa setiap pelaku UMKM memanfaatkan kecanggihan dan kemudahan agar beralih ke dunia digital.

Menurut Didiet Maulana, desainer dan Edukator Wirausaha, cara agar sebuahusahamampu bertahan lama yaitu dengan memiliki pondasi yang kuat dalam membuat sebuah brand. Di mana kemudian brand atau usaha tersebut harus dihadapkan pada situasi tak terduga, seperti pandemi covid-19 ini.

“Mengubah ruang usaha dari offline ke online adalah salah satu cara bertahan saat pandemi. Adanya dunia digital membuat penjualan tetap dilakukan tanpa bertatap muka langsung dengan customer,” ujar Didiet Maulana saat berbicara dalam acara Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Selasa (22/6/2021).

Lanjutnya, dalam menjalankan sebuah usaha, pelaku usaha harus mempersiapkan 3 (tiga) tahap, yaitu situasi, adaptasi, dan pola pikir. Layaknya yang terjadi  saat ini, situasi berubah karena pandemi. Sebelum pandemi, orang banyak menghabiskan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam aktualisasi diri, seperti membeli baju, tas, dan hal lain yang membuat dirinya merasa lebih keren.

ilustrasi – transaksi non tunai – pixabay

“Situasi sekarang ini berbalik, orang jauh lebih memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang paling mendasar, yaitu kebutuhan psikologis yang menyangkut cara agar sehat, menaikkan imun tubuh, dan kebutuhan dasar lainnya,” tuturnya.

Proses adaptasi bagi pelaku usaha yaitu merespon keadaan yang sedang terjadi. Adaptasi dapat dilakukan dengan cara berinovasi terhadap produk yang akan dijual, seperti membuat masker dari kain tenun atau menjual minuman yang memiliki khasiat untuk menyehatkan badan dan meningkatkan imunitas.

Pada tahapan pola pikir, pelaku usaha harus pandai mencari, merespon, dan memasarkan produknya.

“Mencari peluang di tengah situasi sulit bisa dengan menyajikan konten yang menarik minat pembeli. Merespon pembeli dengan cepat, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan calon pembeli/klien. Memasarkan dengan tepat sasaran, seperti pemilihan target pasar, harga, dan cara mempromosikannya,” ujar Didiet.

Tips yang juga diberikan oleh Didiet Maulana yaitumengejar passion dalam membangun usaha. Hal ini bertujuan agar selalu bias berinovasi, berkembang, memperdalam bisnis, serta menghasilkan sebuah brand yang kuat.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersamaSiberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Selasa(22/6/2021) ini juga menghadirkan pembicara Ruhut Marhata (Legal Counsel Advance AI), Martinus Satban (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende), Mansyur Abdul Hamid (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Flores, dan Rahmad Ramadhan (Dhan Geisha).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruhpenjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan CakapBermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.