USAI “tirtayatra” Camino de Santiago di tanah kaum Nasrani Eropa, Putu Suasta -menyebut dirinya pengelana global- melanjutkan perjalanan spiritualnya ke India, Januari 2025 nanti.
India sudah bukan negeri asing bagi Putu. Negeri Hindu terbesar di dunia ini kerap disambanginya terkait dengan pekerjaan atau bisnisnya belasan tahun silam.
Selain itu belakangan, setelah ia memilih “pensiun” dari urusan bisnis, kunjungannya ke India lebih terkait pengelanaannya sebagai aktivis kebudayaan. Kalau tidak salah, Festival Bali Jatra tahun lalu adalah kunjungan kebudayaannya terkini ke sana.
Sebagaimana diketahui Festival Bali Yatra merupakan peringatan tahunan yang diadakan oleh pemerintah negara bagian Odisha, India Timur, guna memperingati hubungan bilateral berabad-abad via pelayaran laut antara Kerajaan Kalingga India dengan Nusantara khususnya Pulau Bali, sejak abad 3 M.
Rupanya India, khususnya Negara Bagian Odisha, mencatat dengan baik riwayat hubungan berabad-abad ini sehingga mereka dapat merekonstruksi sejarah tersebut dan menjadikannya sebagai peringatan tahunan terhadap peristiwa pelayaran pelaut, saudagar dan para pengajar umat ke Nusantara.
Sebagai catatan, di Nusantara sendiri kemudian, pada abad 6 M, muncul kerajaan bernama Kalingga juga, di pesisir utara Pulau Jawa.
Sepertinya persiapan ziarah Putu kali ini tidak seheboh ziarah camino de Santiago.
Tetapi kalau ditilik dari sisi pengelanaan batin, ini mungkin ziarah yang lebih mendalam, lebih mengarungi samudera diri sendiri ketimbang samudera antar benua yang membutuhkan hal-hal bersifat fisik dan “duniawi”.
Ini tentu membutuhkan persiapan batiniah yang jauh lebih “menantang”
Ini karena tirtayatra India yang ia pilih dan tuju kali ini adalah Maha Kumbh Mela.
National Geographic dan beberapa sumber kebudayaan menyebut India memiliki setidaknya 10 peristiwa atau perhelatan spiritual yang unik dan menarik, terutama terkait dengan ritus dan sistem keyakinan Hinduistic. Maha Kumbh Mela adalah salah satunya.
Maha Kumb Mela, dari sumber tersebut di atas, tercatat di UNESCO PBB sebagai warisan budaya tak benda dunia (intangible cultural heritage).
Dalam peristiwa ini jutaan umat Hindu seantero dunia berkumpul tumplek blek di satu wilayah, berbaur bersama jutaan wisatawan asing yang tertarik berkunjung. Titik-titik jumpa jutaan manusia itu nanti ada di empat area: Haridwar, Allahabad, Nashik dan Ujjain.
Keempat daerah ini mewilayahi perjumpaan antar anak sungai-anak sungai yang bersumber dari sungai suci Gangga.
Di perjumpaan antar sungai itulah umat melakukan ritual berendam (“Kumkum”) atau “pelukatan” membersihkan diri dari segala noda dan dosa untuk menjadi ciptaan baru kembali. Menjadi ciptaan yang telah beroleh amrta atau nectar, sari madu kehidupan yang dipercaya menjamin hidup abadi lepas dari segala bentuk ikatan dan penghambaan.
Yang menarik nanti adalah sebelum umat awam turun ke sungai, harus didahului oleh para sadhu, pertapa, pendeta yang turun gunung atau keluar dari kuil-kuil dan hutan pertapaannya. Ini pemandangan unik tersendiri menyaksikan berbagai tipe dan penampakan aneka rupa para aulia dari berbagai sekte atau tarekat itu berduyun-duyun jalan kaki menuju sungai untuk menyucikan diri.
Dari sisi astronomi, peristiwa ini disebutkan bertepatan dengan posisi planet Jupiter di rasi Bintang Kumbh atau rasi astrologi Aquarius, dan bersamaan dengan matahari memasuki rasi domba (Aries). Keunikan Maha Kumbh Mela juga pada rotasi peringatannya, 3 tahunan, 6 tahunan, 12 tahunan dan 144 tahunan.
Selamat buat Putu Suasta. Selamat siap-siap berkelana kembali. Menjadi bukan siapa-siapa di lautan jutaan manusia yang akan melarung segala pahit manis kehidupan di sungai-sungai suci di upacara Kumbh Mela.
Rupanya tidak cukup “I Swasta Setahun di Bedaulu” (Novel – AA Panji Tisna, 1955), bagi seorang Putu Suasta, si gelisah beringas dari Pagan, Denpasar Bali ini! Rahayu. (kanalbali/IST)
Mewujudkan Internet Aman dan Sehat



Be the first to comment