DENPASAR, kanalbali.id – Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2025 digelar di Desa Getting Three Zero, Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, Senin (26/5/2025).
Acara dimaksudkan untuk mengingatkan kembali tekad desa ini dalam mencapai target Three Zero pada 2030, yakni tidak adanya lagi infeksi, kematian akibat AIDS dan stigma serta diskriminasi.
“Kami akan terus memperkuat komitmen dan kapasitas kader,” kata Perbekel Desa Dauh Puri Klod Nengah Suartha dalam acara yang diikuti sekitar 30 Kader Desa Peduli AIDS dan Narkoba (KDPAN) itu.
BACA JUGA: Dauh Puri Klod Promosikan Desa Getting Three Zero di Lokakarya Nasional Adinkes
Acara diawali dengan pembekalan kader yang disampaikan oleh tiga narasumsber. Yakni, I Putu adi Suryadi Putra dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Denpasar serya Rofiqi Hasan dan Ika Rayni dari Forum Peduli AIDS (FPA) Denpasar.
I Putu Adi Suryadi Putra menungkapkan, secara kelembagaan, Kota Denpasar sudah menyediakan layanan yang lengkap dari mulai tes Voluntary Consulting Test (VCT) hingga penyediaan Anti Retorviral (ARV) bagi ODHIV.
Namun masalah putus obat masih menjadi penghambat untuk mencapai target tidak adanya kematian karena AIDS. “Kalau soal stigma itu juga masih harus kita selesaikan bersama-sama,” katanya.

Sementara itu, Rofiqi Hasan menyebut, tantangan utama bagi KDPA adalah kesiapan menghadapi kasus yang nyata di desa itu. “Kalau soal pengetahuan sebenarnya sudah cukup. Tapi nanti kalau ada kasus harus siap menangani dan melakukan pendampingan,” sebutnya.
KDPA Dauh Puri Klod, kata dia, adalah yang paling intens di Denpasar dan terus mengadakan berbagai kegiatan sehingga mendapat apresiasi banyak pihak.
Ni Wayan Ika Ayu Rayni yang berlatar belakang sebagai LSM pendamping ODHIV berbagi pengalaman dalam menangani penjangkauan dan pendampingan ODHIV di Kota Denpasar.
Saat ini, kata dia, jumlah ODHIV yang ada di Denpasar dan mengakses pengobatan sudah cukup banyak. Tapi mereka harus didampingi dan diingatkan karena karena kadang-kadang merasa putus asa saat mendapat tekanan stigma.
“Ada juga yang merasa sudah sehat dan lupa bahwa ARV harus digunakan seumur hidup,” tegasnya.
Sejumlah kasus di Denpasar juga ditemukan saat ODHIV sudah dalam kondisi sakit sehingga sudah sulit diselamatkan apalagi tanpa dukungan dari keluarga dan warga di sekitar mereka.
Kurangnya kepedulian umunya dikaitkan dengan perilaku ODHIV di masa lalu atau karena ketidaksiapan keluarga menerima kondisi sebagai ODHIV. “Kita harapkan hal itu tidak terjadi di desa ini,” ujarnya.
( kanalbali/RFH )



Be the first to comment