Perbincangan bersama sastrawan muda Bali multitalenta yang kini memasuki fase baru kehidupannya.
Oleh: Angga Wijaya
Dua porsi ayam lalapan terhidang di atas meja kayu kedai di Denpasar Utara, menjadi teman bincang saya bersama sahabat lama, Moch Satrio Welang.
Langit siang itu mendung, namun tak menyurutkan hangatnya diskusi kami. Lagu-lagu lama grup band DEWA mengalun dari pengeras suara kedai, mengiringi tawa dan jeda. Moch, begitu ia akrab disapa, baru beberapa hari pulang ke Bali setelah enam bulan bekerja di laut lepas, di kapal pesiar tempatnya mencari nafkah.
Kini, di usia kepala empat, Moch merasakan perubahan cara pandangnya terhadap hidup dan kesenian. “Kalau dulu gerudak-geruduk, sekarang lebih memilah ambisi,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Selama bertahun-tahun, ia menggelar berbagai acara seni dengan dana pribadi. Namun, seiring waktu, semangat “membakar” uang demi ambisi pribadi mulai mereda. “Apapun motifnya, misalnya ingin terkenal, ingin disorot, itu sekarang sudah terasa seperti masa lalu,” katanya, pada Jumat (15/8/2025).
Pengalaman bekerja di kapal pesiar turut membentuk perspektifnya. Bagi Moch, kapal adalah “hotel yang bergerak di atas laut,” tempat kru saling menguatkan layaknya keluarga. Namun, di sana ia melepaskan identitas kesenimanan: “Orang nggak peduli aku seniman atau bukan. Itu memberi aku identitas baru,” ucapnya.

Di tengah samudra, ia merasakan betapa kecilnya manusia, terutama ketika insiden berbahaya terjadi, seperti ledakan mesin yang baru-baru ini terjadi pada kapal pesiar tempatnya bekerja.
Ia mengaku, lingkaran pertemanan semakin menyempit. Banyak kawan lama kini sibuk dengan keluarga dan tanggung jawab masing-masing. “Mau nggak mau kita harus banyak berpikir,” ujarnya.
Beberapa hal yang dulu terasa asing, seperti membeli rumah dan menikah, kini mulai ia pertimbangkan, meski ia menegaskan tidak tertarik menikah karena orientasi seksualnya. Prinsipnya selama ini adalah melepaskan diri dari kemelekatan, meski ambisi berkarya tetap ada.
Di kapal, ia mendapat pelajaran berharga, yakni dunia luas menawarkan banyak pilihan. “Aku mau berbahagia, tapi punya uang juga,” ucapnya lugas.
Namun, sebagai petualang yang sering berpindah-pindah, ia belum memiliki bisnis atau usaha tetap. Profesi MC pun tak bisa ia jalani penuh waktu karena tuntutan berlayar. Meski pekerjaan di kapal kini lebih ringan secara fisik dibanding saat menjadi stage crew 13 tahun lalu, tantangan mental justru lebih berat.
Buka Rakerda Sahlikada, Wabup Buleleng Paparkan Rencana Maksimalkan Potensi UMKM Buleleng
Sejak 2017, ia bekerja sebagai fotografer kapal pesiar—pekerjaan yang memerlukan interaksi intens dengan tamu. “Toksiknya banyak,” ungkapnya. Ia pernah mengalami kelelahan mental yang membuatnya ingin menemui psikiater. “Sampai aku merasa nggak suka sama manusia,” kenangnya.
Baginya, era media sosial dan arus informasi yang deras memudahkan orang tersulut emosi atau menyebar hoaks. “Kalau nggak kuat menjaring arus ini, kita akan tergerus,” ujarnya.

Perjalanan keseniannya dimulai pada 2003. Lulus SMA tanpa biaya untuk kuliah, ia tak sengaja menonton festival drama di Universitas Udayana. Dari sana ia mengenal Teater Orok, lalu memutuskan kuliah Sastra Inggris agar bisa aktif di teater. Dunia panggung membawanya belajar pada banyak tokoh seni Bali, dari mendiang Cok Sawitri hingga almarhum Kadek Suardana.
Tahun 2008 menjadi titik balik ketika ibunya meninggal. Amarahnya pada kehidupan ia salurkan lewat puisi, melahirkan buku Keranda Emas dan sejumlah karya berikutnya, termasuk buku antologi cerpen lintas generasi Manusia-Manusia.
Kini, ia memilih menarik diri dari hiruk pikuk kegiatan seni untuk fokus menulis buku tunggal, sesuatu yang belum pernah ia wujudkan. “Teman-teman lain sudah banyak menerbitkan buku, aku satu pun belum,” ujarnya sambil tertawa kecil, sebelum menegaskan, “Sekarang ritmenya harus ritme kepala empat.”

Meski perjalanan seni Moch Satrio Welang telah membawanya melanglang buana, ia tak menutup mata terhadap perubahan lanskap kesenian di Bali. Ia mengakui, ruang publik untuk interaksi seni kini semakin minim. “Karena dunia digital, orang jadi mageran,” ujarnya sambil mengangkat alis, setengah bercanda, setengah prihatin.
Namun, di tengah perubahan itu, Moch tetap menyimpan optimisme bagi generasi muda. Ia menaruh perhatian khusus pada pelajar SMP dan SMA yang tertarik pada teater. “Kalau suka teater, bagi saya itu adalah perayaan,” ucapnya dengan semangat. Ia menekankan bahwa berkesenian bukan hanya soal tampil di panggung, tetapi juga bagaimana mengolah manfaatnya untuk kehidupan nyata.
“Pakai itu nanti dalam kehidupan bersosial, berumah tangga, dalam pekerjaan, dalam apapun,” pesannya. Teater, menurut Moch, mengasah kepekaan, melatih empati, dan membentuk pribadi yang lebih baik. (*)


