MFW11: Pendidikan, Inklusivitas, dan Lahirnya MFW Education

Pelatihan film untuk siswa SD di Denpasar - Dok MFW 11
Pelatihan film untuk siswa SD di Denpasar - Dok MFW 11

DENPASAR, kanalbali.id – Minikino Film Week 11 (MFW11), yang akan berlangsung pada 12–19 September 2025, bukan hanya sebuah festival film pendek internasional. Ia adalah ruang belajar, wadah inklusif, dan titik temu lintas komunitas.

Sejak awal berdirinya, Minikino percaya bahwa film pendek bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana untuk membuka percakapan, menumbuhkan empati, dan melatih cara berpikir kritis.

Keyakinan inilah yang semakin ditegaskan dengan hadirnya MFW Education, sebuah divisi baru yang resmi diperkenalkan sejak 2024, dan kini memainkan peran penting dalam festival.

Edo Wulia, Direktur Festival MFW11, menegaskan bahwa pendidikan dan inklusivitas adalah bagian tak terpisahkan dari festival.

“Sejak awal, kami percaya film pendek punya kekuatan untuk menghubungkan orang dan menumbuhkan empati. Pendidikan dengan film pendek bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tapi membuka ruang dialog, memberi pengalaman kolektif, dan mendorong kita memahami dunia dengan cara yang lebih manusiawi. Inilah yang membuat MFW terus relevan dan penting,” ujarnya.

MFW Education lahir dari kesadaran bahwa potensi film pendek dalam dunia pendidikan sangatlah besar. Dengan durasinya yang singkat namun padat makna, film pendek mampu membawa penonton pada isu-isu penting, seringkali lewat sudut pandang personal dan intim.

Dari ruang kelas hingga ruang komunitas, film pendek menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk belajar tentang dunia, sekaligus bercermin pada pengalaman hidup yang dekat dengan keseharian mereka.

Tahun ini, dari 143 official selected film MFW11 asal 59 negara, terpilih 58 film pendek dalam 11 program edukasi telah dipilih secara khusus untuk mendukung kegiatan MFW11. Setiap program dilengkapi Panduan Nonton dan Belajar, yang berisi metadata film dan daftar pertanyaan pemantik diskusi.

Panduan ini dirancang agar penonton, terutama pelajar dan mahasiswa, tidak berhenti pada pengalaman menonton semata, tetapi diajak untuk merenung, berdiskusi, dan melatih keterampilan berpikir kritis.

“Film pendek memicu rasa ingin tahu, membangun empati, dan melatih daya pikir kritis. Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan sekolah dan komunitas untuk memperluas akses dan menghadirkan pengalaman menonton yang mendalam,” jelas Ritaro Hari Wangsa, dari tim MFW Education.

Sebagai bagian dari program edukasi, MFW11 mengundang guru, pelajar, mahasiswa, dan komunitas dari Denpasar, Badung, Tabanan, hingga Buleleng untuk terlibat langsung.

Dengan menghadirkan festival ke wilayah-wilayah di luar pusat kota, Minikino ingin memastikan akses terhadap pengalaman sinematik ini tidak hanya terbatas di lingkaran urban, melainkan juga menjangkau audiens muda yang lebih luas.

Selain program berbasis sekolah dan komunitas, MFW11 juga menghadirkan kembali Community Screening, sebuah inisiatif yang tumbuh dari kerja sama dengan komunitas lokal di berbagai titik Bali.

Tahun ini, pemutaran akan berlangsung di ruang-ruang kreatif, sekolah, hingga pusat kebudayaan — dari Alliance Française Bali di Denpasar, Noema Resort Pererenan, hingga SMAN Bali Mandara di Buleleng.

Konsepnya sederhana: film pendek dibawa ke tengah masyarakat, diputar bersama, lalu didiskusikan. Hasilnya adalah pengalaman kolektif yang memperkuat ikatan sosial sekaligus memperluas wawasan.

I Made Suarbawa, Ketua Yayasan Kino Media, menegaskan pentingnya peran komunitas dalam strategi jangka panjang festival: “Kami memberi pengetahuan tentang cara menayangkan film. Harapannya, komunitas-komunitas ini bisa menerapkan ilmu ini ke depannya, memperluas jejaring tempat-tempat penayangan di Bali,” ujarnya.

Sejalan dengan semangat memperluas akses, MFW11 juga menegaskan komitmennya pada inklusi melalui Sinema Inklusif. Tahun ini, festival menghadirkan 5 film dengan Audio Description untuk penonton dengan hambatan visual, serta 5 film dengan Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing (SDH).

Dengan langkah ini, MFW11 mengupayakan agar pengalaman menonton film pendek benar-benar bisa dinikmati semua orang, tanpa terkecuali.

“Film pendek harus bisa diakses semua kalangan. Inklusivitas bukan sekadar opsi, melainkan tanggung jawab. Kami ingin penonton dengan kebutuhan khusus juga punya kesempatan penuh untuk menikmati cerita, merasakan emosi, dan menjadi bagian dari percakapan,” ujar Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW11. Kutipan ini menegaskan bahwa aksesibilitas adalah bagian integral dari strategi kuratorial festival, bukan sekadar tambahan.

MFW Education juga hadir melalui berbagai aktivasi interaktif selama festival. Ada kegiatan mewarnai dan menulis cerita untuk anak-anak, tur wilayah festival bersama tim edukasi, hingga pameran perangkat pra-animasi yang memperkenalkan sejarah awal sinema.

Semua aktivitas ini dirancang untuk mempertemukan edukasi dengan pengalaman kreatif, membangun jembatan antara pengetahuan dan imajinasi.

Sejak diluncurkan sebagai divisi pada 2024, MFW Education melanjutkan misi Yayasan Kino Media yang sejak awal berdirinya pada 2002 telah menekankan peran film pendek sebagai alat pendidikan.

Dengan hadirnya divisi ini, seluruh program pendidikan kini terintegrasi, lebih fokus, dan lebih mudah diakses oleh sekolah maupun komunitas. Hal ini menunjukkan arah baru bagi Minikino: bahwa festival bukan hanya perayaan film, tetapi juga sarana transformasi sosial dan kultural melalui pendidikan.

Tahun ini, semangat edukasi dan keberlanjutan juga hadir dalam bentuk simbolis melalui medali penghargaan MFW11. Seluruh pemenang kompetisi akan menerima medali hasil karya Kunang Jewelry, studio perhiasan berbasis di Bali yang mengusung konsep ramah lingkungan.

Medali dirancang menggunakan material upcycle metal, mengubah sisa logam menjadi karya seni baru yang bernilai. Filosofi ini sejalan dengan komitmen MFW11: merawat ekosistem bukan hanya di ranah film, tetapi juga dalam praktik keberlanjutan sehari-hari.

Dengan menghadirkan film pendek ke sekolah, komunitas, dan ruang publik, MFW11 berupaya menciptakan jembatan antara dunia pendidikan dan dunia sinema

. Festival ini tidak lagi sekadar menayangkan film untuk audiens yang sudah akrab dengan festival, tetapi juga membuka pintu bagi audiens baru yang mungkin pertama kali berinteraksi dengan film pendek. Dari anak-anak hingga remaja, dari komunitas lokal hingga penonton dengan kebutuhan khusus, setiap orang diajak menjadi bagian dari percakapan besar yang lahir dari film pendek.

Pada akhirnya, kekuatan MFW11 ada pada konsistensinya dalam merawat ekosistem film pendek dengan cara yang inklusif. Melalui MFW Education, Community Screening, dan Sinema Inklusif, festival ini memberi ruang bagi semua lapisan masyarakat untuk terlibat. Dari ruang kelas hingga ruang komunitas, dari anak-anak hingga penonton dengan kebutuhan khusus, MFW11 mengajak semua orang untuk menjadikan film pendek sebagai pengalaman kolektif yang memperkaya. ( kanalbali/RLS)

Apa Komentar Anda?