Di banyak tempat, puisi hanya menjadi catatan kecil di buku pelajaran sekolah, dibaca seperlunya, lalu dilupakan.
Ia tak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang dapat membuat dada sesak atau membuat mata basah tiba-tiba. Namun di Tegalmengkeb, sebuah desa di Selemadeg Timur, Tabanan, puisi menemukan rumahnya kembali. Ia tidak hanya dibaca, tetapi dipanggil, dipertaruhkan, dan dirayakan.
Pada Minggu siang, 15 Pebruari 2026, di ruang yang sederhana namun hangat bernama Tegalmengkeb Art Space (TAS), puluhan pasang mata menunggu kata-kata dilahirkan kembali lewat suara manusia. Suasana tidak sepenuhnya sunyi, tetapi ada semacam ketegangan yang lembut, seperti sebelum doa dimulai.
Di tempat itu, para finalis berdiri bukan untuk sekadar tampil, melainkan untuk membuktikan bahwa puisi masih memiliki daya: daya mengguncang batin.
Di sinilah Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 digelar, sebuah perhelatan sastra yang tidak hanya menawarkan kompetisi, tetapi juga menghadirkan peristiwa kebudayaan.
Puisi dan Desa yang Menolak Dilupakan
Lomba baca puisi ini merupakan kerja sama antara Tegalmengkeb Art Space (TAS), Pesraman Kayu Manis, dan Luh Luwih Foundation. Tema yang diangkat, “Kekuatan Cinta”, terdengar sederhana, tetapi menyimpan medan tafsir yang luas.
Cinta bisa berarti harapan, bisa berarti kehilangan, bisa berarti keberanian untuk bertahan, bahkan bisa berarti luka yang tetap dipeluk.
Lomba ini diikuti oleh 40 peserta dari berbagai daerah di Bali. Yang menarik, lomba ini bersifat gratis, terbuka untuk umum, tanpa batasan usia maupun jenjang pendidikan. Tidak ada sekat formal antara pelajar dan dosen, antara murid dan guru. Di panggung puisi, semua orang sama: sama-sama harus berhadapan dengan kata-kata dan dirinya sendiri.
Peserta datang dari beragam latar: murid sekolah, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum. Dalam konteks Bali yang kaya tradisi seni, lomba seperti ini menjadi semacam pengingat: bahwa sastra juga memiliki tempat yang layak di tengah dominasi seni pertunjukan lain.
Babak Penyisihan
Babak penyisihan tidak dilakukan secara langsung. Para peserta mengirimkan video pembacaan puisi kepada panitia. Dari layar-layar kecil itulah, suara peserta menempuh perjalanan panjang menuju meja penilaian.
Dewan juri yang terdiri dari Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya menonton dan menilai setiap video dengan ketelitian. Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa aspek utama: ketepatan tafsir puisi, penghayatan, vokal, ekspresi, serta totalitas penampilan.
Namun dalam lomba baca puisi, aspek teknis hanyalah permukaan. Yang paling sulit dicari adalah momen ketika pembaca puisi benar-benar “masuk” ke dalam teks, ketika kata-kata berhenti menjadi bacaan, dan berubah menjadi pengalaman.
Pada babak penyisihan, peserta membacakan satu puisi yang telah disediakan panitia. Daftar puisi yang dipilih menunjukkan keberanian panitia dalam menghadirkan karya-karya yang tidak ringan, yakni: “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” (Frans Nadjira), “Prelude” (Umbu Landu Paranggi), “Senja Menggantung di Langit” (Putu Vivi Lestari), “Warna Jiwa dalam Gerimis” (I Wayan Arthawa), “Rumah Hening” (Reina Caesilia). Puisi-puisi itu tidak sekadar menuntut pembacaan yang jelas. Ia menuntut pemahaman. Ia menuntut kedalaman rasa.
Kurang Penghayatan
Setelah penyisihan, dewan juri memberikan catatan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Menurut mereka, salah satu kelemahan peserta adalah kurangnya pemahaman terhadap isi puisi yang dibacakan. Wayan Jengki Sunarta menyampaikan bahwa peserta seharusnya membedah puisi terlebih dahulu sebelum tampil.
“Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” ujarnya.
Dalam bahasa lain, juri seakan berkata: banyak yang membaca puisi, tetapi belum banyak yang berani menyelam ke dalamnya.
Sepuluh finalis diumumkan pada 10 Pebruari 2026. Mereka kemudian melangkah menuju babak final untuk memperebutkan posisi Juara I, II, III, serta Juara Harapan. Babak final diselenggarakan secara langsung pada Minggu, 15 Pebruari 2026, pukul 13.00 Wita, bertempat di Tegalmengkeb Art Space, Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.
Pada babak final, para finalis membacakan dua puisi: puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi, serta satu puisi pilihan yang telah mereka bawakan pada babak penyisihan. Di sinilah pertarungan sesungguhnya dimulai.
Puisi wajib bukan sekadar syarat. Ia adalah ujian kesetaraan. Semua finalis harus berdiri di titik yang sama, memegang teks yang sama, lalu menunjukkan bagaimana mereka menghidupkan teks itu dengan tubuh dan jiwa mereka sendiri.
Pesan dari Tegalmengkeb
Ketua Panitia, I Gede Astika, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk menghidupkan kembali semangat berkesenian, terutama sastra, di Tegalmengkeb. Kegiatan ini diselenggarakan secara swadaya dan swadana, tanpa bantuan pemerintah.
“Lomba ini diselenggarakan untuk menghidupkan kembali semangat berkesenian, terutama sastra, di Tegalmengkeb yang jauh dari pusat-pusat kesenian. Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujar I Gede Astika.
Pernyataan itu seperti sebuah manifesto kecil: bahwa pusat kebudayaan tidak harus selalu berada di kota. Desa pun bisa menjadi pusat, selama ada ruang, ada niat, dan ada orang-orang yang menjaga nyala itu.
Pinisepuh Pesraman Kayu Manis sekaligus pendiri Tegalmengkeb Art Space, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menegaskan bahwa lomba ini penting untuk menularkan kecintaan pada sastra, khususnya puisi. Bagi beliau, puisi bukan sekadar kesenian, tetapi jalan pembentukan rasa, jalan memperhalus batin.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, menyampaikan apresiasi kepada Tegalmengkeb Art Space atas perannya dalam menghidupkan kembali semangat berkesenian di desa.
“Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar seperti ajakan sekaligus doa. Seni budaya bukan hanya hiburan, tetapi bisa menjadi jalan promosi desa, jalan memperkuat identitas, bahkan jalan membangun masa depan.
Pertarungan yang Ketat
Pertarungan final berlangsung ketat. Satu per satu finalis maju. Di hadapan penonton dan dewan juri, mereka tidak hanya membawa teknik, tetapi juga membawa ketegangan pribadi: apakah mereka mampu menanggung beban kata-kata yang akan diucapkan?
Di lomba baca puisi, suara tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus didukung pemahaman. Ia harus memiliki akar. Ketika pembaca tidak memahami isi puisi, ekspresi akan jatuh menjadi sekadar artifisial. Tetapi ketika pemahaman itu ada, satu jeda saja bisa menjadi gemuruh batin.
Secara umum, dewan juri menyampaikan bahwa para finalis telah berusaha tampil maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Namun mereka kembali menegaskan hal mendasar: dalam membaca puisi, yang pertama harus dilakukan adalah membedah isi puisi.
“Setelah itu, penghayatan akan tumbuh secara alami. Penghayatan yang baik tidak dibuat-buat. Ia muncul dari dalam batin, bukan dari keinginan untuk terlihat hebat,” ujar Muda Wijaya, salah satu juri.
Dan di Tegalmengkeb siang itu, puisi-puisi seperti hidup kembali. Kata-kata yang tadinya hanya diam di atas kertas, tiba-tiba menjadi suara, menjadi getar, menjadi peristiwa.
Para Pemenang
Setelah melalui diskusi panjang dan perdebatan yang intens, dewan juri akhirnya menetapkan para juara: Juara I: Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja), Juara II: I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar), Juara III: I Putu Gede Pradipta (Denpasar). Sementara itu, enam Juara Harapan diraih oleh: Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Jembrana), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis atas nama Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem) mengundurkan diri karena sakit.
Hadiah yang diberikan berupa uang pembinaan: Juara I memperoleh Rp3 juta, Juara II Rp2 juta, Juara III Rp1 juta, sedangkan enam Juara Harapan masing-masing memperoleh Rp500 ribu. Pada babak final, panitia secara spontan juga menambahkan hadiah uang bagi para Juara Harapan sebesar Rp200 ribu. Selain uang pembinaan, para pemenang juga menerima piala dan piagam penghargaan.
Namun barangkali hadiah terbesar bukan uang atau piala. Melainkan pengalaman: berdiri di panggung, menyebut kata demi kata, dan merasakan bagaimana puisi bekerja di dalam diri.
Puisi yang Kembali Menemukan Rumah
Di akhir acara, Tegalmengkeb Art Space tidak sekadar menutup lomba. Ia seperti menutup sebuah upacara kecil: upacara untuk sastra.
Di tempat yang jauh dari keramaian pusat kota, puisi justru menemukan ruangnya. Ia tumbuh dari desa, disambut oleh masyarakat, dan dipertaruhkan oleh para peserta. Tegalmengkeb menjadi saksi bahwa seni tidak selalu lahir dari gemerlap, tetapi sering lahir dari ketekunan orang-orang yang setia.
Dan tema “Kekuatan Cinta” terasa nyata di sana. Cinta pada kata-kata. Cinta pada seni. Cinta pada desa. Cinta pada tradisi yang terus ingin dijaga agar tidak hilang.
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 ini akhirnya bukan hanya sebuah kompetisi, melainkan sebuah pesan: bahwa sastra masih hidup, dan ia masih memiliki daya untuk menyatukan orang-orang dalam satu ruang, dalam satu waktu, dan dalam satu getaran batin yang sama. ( kanalbali/RLS )


