Hari ini, makanan tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, melainkan diproduksi sebagai gaya hidup. Tubuh manusia pun kian kehilangan kedaulatannya atas apa yang dikonsumsi.
Penulis : Yahya Anshori *
MANUSIA modern “dirayu” untuk makan tanpa jeda, membeli tanpa batas, dan menganggap surplus makan sebagai tanda keberhasilan hidup. Dalam logika ini, tubuh tidak lagi diperlakukan sebagai amanah biologis, melainkan direduksi menjadi ladang konsumsi.
Maka sabda Rasulullah SAW—“Berhentilah makan sebelum kenyang”—tak lagi sekadar nasihat adab, melainkan seruan perlawanan.
Ia mengkritik jebakan pasar yang membujuk manusia hidup konsumtif: melanggengkan makan berlebihan, mengubah kenyang menjadi prestise, dan menjadikan sakit sebagai komoditas.
Di tengah rezim makan berlebih ini, mengendalikan makan—melalui puasa—bukan hanya soal kesehatan, tetapi tindakan sadar untuk merebut kembali kedaulatan tubuh dari logika pasar.
Manusia modern hidup dalam rezim sebaliknya: rezim makan berlebihan. Pola makan tiga kali sehari tanpa jeda biologis, budaya restoran, dan industri kuliner global menjadikan konsumsi sebagai identitas sosial.
Kenyang menjadi simbol sukses, lapar dianggap kegagalan. Padahal tubuh tidak selalu membutuhkan suplai tanpa henti.
Makanan dan Citra Diri
Di titik ini, makanan berubah menjadi komoditas citra diri. Apa yang dimakan menunjukkan siapa kita. Fast food, minuman manis, dan makanan ultra-proses diproduksi massal, dimanipulasi rasa dan aromanya, lalu dipasarkan sebagai gaya hidup modern.
Michael Pollan (2008) menyebutnya sebagai pergeseran dari food menjadi food-like products—produk yang menyerupai makanan tetapi bekerja sebagai instrumen pasar.

Akibatnya dapat diprediksi: tubuh sakit. Kolesterol (lemak darah), diabetes, hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung meningkat (Tabel 1). Namun sakit tidak pernah dibaca sebagai kegagalan sistem makan, melainkan dipelihara sebagai peluang industri pengobatan.
Gula merusak metabolisme, tersedia obatnya. Lemak menyumbat pembuluh darah, tersedia penawarnya. Seolah-olah penyakit normal selama bisa dikontrol secara farmasi.
Di sinilah tubuh memasuki arena politik ekonomi. Tubuh menjadi pasar. Rumah sakit menjadi industri. Apotek menjadi cabang distribusi komoditas kesehatan. Penyakit bukan sekadar fakta biologis, tetapi komoditas ekonomi.
Ivan Illich (1976) menyebut proses ini sebagai medicalization of life: pengalaman tubuh diambil alih institusi medis dan diubah menjadi sumber keuntungan.
Budaya makan salah tidak pernah diperbaiki secara struktural karena justru menopang sistem tersebut. Makanan ultra-proses menciptakan penyakit; penyakit menciptakan ketergantungan obat; ketergantungan obat menciptakan loyalitas pada layanan kesehatan.
Rantai ini bukan kebetulan, melainkan mekanisme. Tubuh dibuat sakit secara sistemik lalu dipelihara ketergantungannya. Sakit bukan tragedi semata, melainkan siklus produksi.
Dalam logika kapitalisme, tubuh sehat justru tidak menguntungkan karena tidak konsumtif. Tubuh ideal bagi pasar bukan tubuh bugar, melainkan tubuh kronis: cukup sakit untuk membeli obat, tetapi cukup hidup untuk terus menjadi pelanggan. Inilah bentuk paling halus dari eksploitasi—eksploitasi metabolisme.
Ajaran Rasulullah SAW berdiri di luar logika ini. Hadis tentang sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernapas adalah etika biologis yang menolak tubuh sebagai mesin produksi pasar. Tubuh tidak diciptakan untuk terus diisi, melainkan untuk bekerja dalam ritme jeda.
Ilmu modern justru menguatkan ajaran ini. Saat tubuh berpuasa, terjadi autofagi—pembersihan sel rusak dan protein toksik. Yoshinori Ohsumi (2016) menunjukkan bahwa autofagi adalah mekanisme fundamental regenerasi sel dan perlindungan dari penyakit degeneratif.
Puasa dan Manfaat Kesehatan
Puasa memberi ruang bagi tubuh untuk membongkar kerusakan akibat konsumsi berlebih.
Riset fisiologi juga menemukan bahwa pembatasan makan memperbaiki sensitivitas insulin, menurunkan peradangan, dan memperbaiki profil lemak darah.
de Cabo dan Mattson (2019) menyimpulkan bahwa puasa intermiten menurunkan risiko penyakit metabolik dan memperpanjang fungsi sel. Longo dan Panda (2016) menegaskan bahwa jeda makan memungkinkan energi dialihkan dari pencernaan menuju perbaikan jaringan dan sistem imun.
Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah ritual, melainkan praktik pembebasan biologis. Ia membebaskan tubuh dari kolonisasi pasar, memutus rantai konsumsi tanpa henti, dan menolak tubuh diperlakukan sebagai komoditas yang harus terus diisi dan dipuaskan.
Dalam puasa, tubuh dikembalikan pada martabatnya sebagai ruang kendali diri, bukan sasaran hasrat pasar.
Berhenti makan sebelum kenyang adalah tindakan kecil, tetapi bermakna politis. Ia menolak gagasan bahwa tubuh harus selalu diisi, selalu dipuaskan, dan selalu dibeli.
Prinsip ini mengajarkan bahwa cukup adalah sehat, dan pengendalian diri adalah bentuk kedaulatan atas tubuh. Di sini, kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan persoalan etika konsumsi dan relasi kuasa atas tubuh.
Jika masyarakat ingin benar-benar sehat, tidak cukup hanya membangun rumah sakit dan apotek. Yang harus dibongkar adalah sistem makan yang justru memproduksi sakit: pola konsumsi berlebihan, makanan instan, dan budaya memuaskan hasrat tanpa batas.
Sebab kesehatan bukan terutama soal teknologi medis, melainkan soal siapa yang menguasai tubuh—manusia itu sendiri, atau pasar.
Buruknya kesehatan hari ini banyak terjadi karena manusia kehilangan kendali atas pola makannya sendiri.
Dalam konteks inilah peringatan Rasulullah, “berhentilah makan sebelum kenyang,” menjadi prinsip yang realistis sekaligus revolusioner. Hasrat makan sepuasnya tanpa memperhatikan kesehatan harus dihentikan.
Libido konsumtif perlu dikendalikan agar tubuh kembali pada fitrahnya: sehat, bugar, dan seimbang.
Puasa memaksa manusia belajar mengatur dirinya sendiri. Ia mendisiplinkan hasrat, membatasi konsumsi, dan mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Karena itu, puasa tidak cukup dipahami sebagai kewajiban musiman, melainkan perlu dibiasakan sebagai gaya hidup. Puasa menjadi keniscayaan etis agar manusia mampu mengelola kesehatannya sendiri—bukan tunduk pada pasar, melainkan berdaulat atas tubuhnya.***
- Penulis adalah pemerhati masalah kesehatan masyarakat. Tinggal di Denpasar, Bali.


