NUSA DUA, kanalbali.id – Bali kembali menjadi contoh penting dalam pemulihan dan pertumbuhan pariwisata Indonesia.
Sepanjang 2025, Bali mencatat 6,95 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 9,72 persen dibandingkan 2024, dan mewakili hampir separuh dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“Kekuatan Bali perlu menjadi pintu masuk untuk memperluas perjalanan wisatawan ke destinasi lain,” kata Menteri Widiyanti Putri Wardhana saat membuka Bali Travex padaBali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, Jumat (29/5/2026).
Melalui semangat “Bali and Beyond”, buyers dan pelaku industri didorong untuk mengeksplorasi Lombok, Manado, Jakarta, berbagai desa wisata, serta destinasi lain di nusantara yang memiliki kekuatan budaya, alam, gastronomi, dan pengalaman lokal.
Menteri Pariwisata menyampaikan bahwa BBTF bukan sekadar pameran pariwisata, melainkan ruang bisnis yang mempertemukan destinasi dengan pasar, sellers dengan buyers, serta narasi Indonesia dengan produk wisata yang siap dijual.
“BBTF adalah tempat Indonesia mengubah keindahan menjadi destinasi bisnis wisata, budaya menjadi pengalaman, dan promosi menjadi peluang pasar yang nyata,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Mengangkat tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage,” BBTF 2026 mempertemukan buyers internasional, sellers, asosiasi pariwisata, perwakilan destinasi, pemerintah, pelaku industri, dan media untuk mendorong peluang bisnis pariwisata yang lebih terukur.
Tahun ini, BBTF menghadirkan 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers yang mewakili Indonesia, Malaysia, China, dan Namibia, termasuk pelaku industri dari 12 provinsi di Indonesia. Tingkat partisipasi ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat dalam peta pariwisata global, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan pasar yang lebih fokus, berkualitas, dan konsisten.
Menteri Pariwisata menekankan bahwa pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, penguatan destinasi, produk, dan kesiapan industri perlu diarahkan pada hasil yang nyata, mulai dari pertemuan bisnis, potensi transaksi, kemitraan baru, hingga tindak lanjut kerja sama.
Menurut Menteri Pariwisata, persaingan pariwisata global tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alam atau popularitas destinasi. Negara-negara kini bersaing melalui kualitas produk, kekuatan brand, kesiapan industri, keberlanjutan, serta kemampuan memberikan pengalaman wisata yang dapat dipercaya.
Menteri juga mendorong para sellers Indonesia untuk bergerak melampaui penawaran wisata yang generik. Hotel, operator tur, destinasi, dan pelaku perjalanan perlu membangun produk yang jelas, terpercaya, memiliki harga yang kompetitif, mudah dijual oleh buyers, dan mampu memberikan pengalaman yang konsisten.
“Dunia tidak hanya membeli destinasi. Dunia membeli produk yang jelas, dipercaya, dikemas dengan baik, dan siap memberikan pengalaman yang dijanjikan,” lanjutnya.
Dalam konteks tema BBTF 2026, gastronomi dinilai menjadi salah satu kekuatan diferensiasi Indonesia di pasar global. Menteri Pariwisata menyampaikan bahwa gastronomi Indonesia tidak boleh berhenti sebagai narasi promosi, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk wisata yang terstruktur, terkurasi, dan dapat dijual.
Kementerian Pariwisata juga mendorong Wonderful Indonesia Gastronomy sebagai flagship program untuk memperkuat positioning kuliner Indonesia. Pada kesempatan tersebut, peserta juga diajak mengunjungi booth Wonderful Indonesia yang menampilkan desa-desa wisata inspiratif melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia. ( Kanalbali/rLS/RFH )


