NUSA DUA, kanalbali.id – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka event tahunan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 pada Kamis (28/5/2026) di Nusa Dua, Bali. Dia menegaskan kesiapan Indonesia, menghadapi kondisi pariwisata global yang terdampak oleh perang dan naiknya harga minyak.
“Kita berusaha menjaga konektivitas pariwisata yang terganggu oleh perang. Kita juga berusaha membuka pasar-pasar baru,” katanya.
Pihaknya menyebut juga telah berusaha membuka konektivitas penerbangan dengan melakukan pendekatan-pendekatan kepada maskapai internasional. Diharapkan mereka dapat membuka jalur-jalur baru yang tidak terganggu oleh situasi perang khususnya untuk wisatawan dari Eropa.
Ketua DPD ASITA Bali sekaligus Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P. menyebut, momentum pariwisata Bali bergerak merespon dinamika global, di sisi konektivitas, akses menuju Bali terus diperkuat.
Pada Maret 2026, Jetstar meluncurkan layanan langsung Sunshine Coast–Bali dan Melbourne Avalon–Bali, memperluas akses dari pasar Australia yang selama ini menjadi salah satu sumber utama kunjungan ke Bali.
Virgin Australia juga telah mengumumkan layanan langsung Canberra–Bali mulai 22 Juni 2026, sementara Indonesia AirAsia membuka rute Bali–Da Nang mulai 20 Maret 2026, memperkuat konektivitas Bali dengan Asia Tenggara. Dari pasar India, IndiGo telah memperluas koneksi menuju Bali melalui rute Mumbai–Denpasar, melengkapi layanan Bengaluru–Bali yang telah berjalan sebelumnya.
“Setiap rute baru menuju Bali membawa lebih dari sekadar penumpang. Ia membuka akses pasar, mendorong permintaan hotel, belanja di restoran, pergerakan transportasi, peluang ekonomi kreatif, serta eksposur yang lebih luas bagi komunitas dan destinasi di seluruh Bali. Tugas kita adalah menjaga kualitas produk dan pengalaman berwisata, agar akses tersebut dapat berubah menjadi transaksi yang berkualitas dan nilai yang berkelanjutan.”
Perkembangan konektivitas tersebut juga menunjukkan pentingnya membaca pasar secara lebih strategis. Australia tetap menjadi pasar utama Bali, sementara India, Eropa, Asia Tenggara, dan pasar-pasar Asia lainnya semakin penting untuk diperkuat melalui produk yang tepat, narasi yang relevan, serta kemitraan yang mampu menjawab kebutuhan wisatawan masa kini.
Bagi BBTF 2026, kondisi ini memperkuat peran platform business-to-business yang mempertemukan pasar, produk, dan kesiapan destinasi. Buyer internasional mencari kejelasan produk, konsistensi layanan, akses penerbangan, keamanan, narasi budaya, dan kemampuan destinasi untuk memberikan pengalaman yang dapat dipercaya.
Tema gastronomi tahun ini memberikan relevansi yang kuat bagi Bali. Kuliner merupakan salah satu cara paling alami bagi pulau ini untuk berbicara kepada dunia – melalui bahan pangan, petani, nelayan, pasar tradisional, upacara, dapur keluarga, para chef, serta keramahtamahan yang menjadi bagian dari cara Bali menyambut tamu. Melalui gastronomi, Bali dapat menunjukkan bahwa pariwisata berakar pada budaya, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.
Pada saat yang sama, BBTF 2026 membawa pesan penting bahwa reputasi global Bali harus dijaga dengan kesadaran dan komitmen keberlanjutan yang lebih besar dari seluruh stakeholder pariwisata. ( kanalbali/RLS/RFH )


