DENPASAR, kanalbali.id – Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (FRONTIER) Bali bersama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Brahmastra Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa (IGBS) Denpasar mengadakan acara Tancepan Brahmastra ke-12.
Acara dilaksanakan di Kampus UHN IGBS Denpasar dengan tajuk “Membedah Ajaran Tri Hita Karana Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Masyarakat Bali”.
Pemantik diskusi adalah Dr. I Ketut Arta Widana, S.S., M.Par selaku Dosen UHN IGBS Denpasar bersama dengan Anak Agung Gede Surya Sentana, S.Fil selaku Maneger Advokasi dan Kampanye WALHI Bali.
Selain itu terdapat pemutaran film dokumenter mengenai kondisi subak di Bali. Yang juga turut diramaikan dengan beberapa mahasiswa yang berasal dari kampus-kampus lainnya.
I Wayan Sathya Tirtayasa selaku sekjen FRONTIER Bali dalam diskusi dan dibarengi dengan pemutaran film yang menampilkan bagaimana kondisi subak yang makin terancam diakibatkan masifnya alih fungsi lahan.
akibat ledakan pariwisata yang tidak terkontrol, sertakesejahteraan petani akhir-akhir ini turut tidak diperhatikan menyebabkan masyarakat sulit menekuni pekerjaan sebagai petani.
Dalam diskusi kali ini ia juga menyoroti kebijakan-kebijakan yang selama ini telah dibuat oleh pemerintah hanya sekedar wacana, kurangnya implementasi dari kebijakan mengenai pelestarian lingkungan dan subak.
Ditambah kebijakan yang sering kali dibuat oleh pemerintah hanya tajam kepada masyarakat, sedangkan investor asing jarang diberikan sanksi keras.
“Kebijakan dari pemerintah hanya sekedar wacana semata, tidak ada sanksi keras kepada mereka yang merusak lingkungan di Bali”. Ucapnya
I Gusti Ngurah Alit Pertama selaku Pimpinan Umum LPM Brahmastra berpendapat tujuan acara ini sebagai ruang dan wadah diskusi kritis mahasiswa, melihat ruang diskusi kritis di kampus yang semakin menurun.
Tentunya dengan adanya Tancepan Brahmastra dengan mengambil tema mengenai pelestarian lingkungan terutama subak mampu diharapkan mahasiswa ikut peduli kepada kondisi lingkungan dan ekosistem subak di Bali.
Selain itu ajaran Tri Hita Karana yang merupakan ajaran luhur masyarakat adat Bali terus diingat agar tidak menjadi wacana kedepannya dan tentunya mampu diimplementasikan oleh generasi muda.
“Adanya Tancepan ini sebagai wadah kritis bagi mahasiswa dan dengan tema kali ini sebagai ruang diskusi mengenai kondisi lingkungan di Bali dan mengingatkan kembali ajaran Tri Hita Karana sebagai ajaran leluhur masyarkat adat Bali”. Ucapnya.
Sebagai penutup dalam acara ini terdapat penyerahan sertifikat penghargaan kepada para pemantik diskusi dan foto bersama dengan para peserta diskusi.
( kanalbali/RLS )


