- Di toko-toko modern, konsumennya terbiasa meninggalkan sampah yang berserakan di mejanya
- Mental Bos menjadi paradoks dalam keluhan akan krisis sampah di Bali
- Perang melawan sampah mestinya adalah perlawanan terhadap egoisme diri sendiri
Penulis: Angga Wijaya
DI sebuah toko modern yang bagian terasnya dipenuhi meja dan kursi untuk nongkrong, saya melihat seorang anak muda menghabiskan kopi kemasan dan sebungkus roti. Setelah selesai, ia berdiri, memainkan ponselnya, lalu pergi begitu saja. Gelas plastik dan bungkus roti tetap tertinggal di atas meja.
Beberapa menit kemudian, akan datang pengunjung lain. Ia melihat meja itu kotor, lalu memilih duduk di tempat lain. Tidak lama setelahnya, meja demi meja dipenuhi sampah kecil. Tisu bekas, sedotan, bungkus makanan, puntung rokok, hingga sisa es batu yang mencair.
Pemandangan seperti itu terasa biasa di Bali saat ini, terutama di kota dan kabupaten padat seperti Denpasar dan Badung. Kita bahkan nyaris tidak lagi menganggapnya sebagai masalah. Sampah di meja toko modern dianggap sesuatu yang lumrah.
Ada semacam keyakinan diam-diam dalam pikiran banyak orang, bahwa nanti pasti ada petugas yang membersihkan. Kebersihan dianggap urusan orang lain.
Di situlah persoalan sesungguhnya bermula. Saya menyebutnya sebagai mental “bos”. Mental yang merasa dirinya pelanggan, pembeli, pengguna jasa, sehingga tidak perlu repot membereskan bekas dirinya sendiri.
Padahal, membuang sampah ke tempatnya hanya membutuhkan beberapa langkah kaki saja. Tempat sampah biasanya tersedia di sudut teras toko modern. Tetapi tangan terasa terlalu malas untuk bergerak.
Lucunya, orang-orang yang membiarkan meja penuh sampah itu sering kali juga orang yang paling keras mengeluh soal Bali yang kotor. Mereka marah melihat sampah di pantai, mengeluh soal sungai yang tercemar, dan mengutuk pemerintah karena dianggap gagal menangani sampah.
Namun, dalam keseharian, mereka sendiri tidak mampu melakukan tindakan paling sederhana, yakni membersihkan bekas makan dan minumnya sendiri.
Kritik tanpa Disiplin
Kita memang hidup di zaman ketika kritik lebih mudah daripada disiplin. Persoalan sampah di Bali kini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Timbulan sampah harian di Bali disebut mencapai sekitar 3.400 ton per hari.
Sebagian besar berasal dari rumah tangga, pasar, pusat kuliner, dan aktivitas perkotaan. Denpasar menjadi salah satu penyumbang terbesar karena kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas ekonomi.
Gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung pernah menjadi simbol betapa Bali sedang menghadapi persoalan serius yang tidak bisa lagi dianggap sepele.
Namun, saya sering merasa persoalan terbesar kita sebenarnya bukan pada jumlah sampah, melainkan cara berpikir terhadap sampah itu sendiri. Dalam kajian antropologi perkotaan, sampah tidak pernah sekadar benda kotor yang harus dibuang.
Sampah adalah jejak kebudayaan manusia kota. Ia mencerminkan pola konsumsi, gaya hidup, bahkan watak sosial masyarakatnya. Kota modern menghasilkan lebih banyak sampah karena manusia modern hidup dari budaya instan dan serba cepat. Kopi kemasan sekali minum, makanan cepat saji, kantong plastik, tisu sekali pakai, semua menjadi bagian dari rutinitas urban.
Kita hidup dalam budaya memakai lalu membuang. Antropolog Mary Douglas pernah mengatakan bahwa sesuatu menjadi kotor karena berada di tempat yang salah. Gelas plastik di tangan tidak dianggap menjijikkan.
Tetapi ketika ditinggalkan di meja, dibuang di sungai, atau tercecer di pantai, ia berubah menjadi gangguan sosial. Sampah akhirnya bukan cuma masalah benda, tetapi masalah keteraturan ruang bersama.
Masalah sampah adalah Etika Sosial
Karena itu, persoalan sampah sesungguhnya berkaitan erat dengan etika sosial. Di desa-desa tradisional, orang mungkin masih merasa malu membuang sampah sembarangan karena ada ikatan sosial yang kuat. Semua saling mengenal. Tetapi di kota, terutama di kawasan urban yang sibuk seperti Denpasar, hubungan sosial menjadi lebih longgar.
Orang datang dan pergi tanpa benar-benar merasa memiliki ruang publik yang dipakai bersama.
Mungkin itu sebabnya meja toko modern sering diperlakukan seenaknya. Orang duduk sebentar, makan, minum, merokok, lalu pergi begitu saja. Tidak ada rasa bersalah meninggalkan sampah, karena ruang itu dianggap bukan miliknya.
Padahal, justru ruang publik adalah cermin paling jujur tentang kualitas sebuah masyarakat. Bali selama ini dikenal dunia karena kebudayaannya yang menghormati keseimbangan antara manusia dan alam.
Konsep Tri Hita Karana sering dipromosikan sebagai filosofi hidup masyarakat Bali. Namun, di tengah ledakan pariwisata dan budaya konsumsi modern, hubungan harmonis itu perlahan retak. Kita semakin rajin berbicara tentang budaya, tetapi semakin malas menjaga lingkungan.
Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya sudah berupaya melakukan berbagai langkah untuk mengatasi persoalan sampah. Program Gerakan Bali Bersih Sampah mulai didorong lebih serius. Pembatasan penggunaan plastik sekali pakai terus digaungkan. Desa adat, sekolah, hotel, restoran, hingga pusat perbelanjaan diajak ikut terlibat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.
Ada juga dorongan untuk membangun “teba modern”, mengolah sampah organik dari rumah tangga, serta memperkuat bank sampah di berbagai wilayah. Pemerintah tampak sadar bahwa Bali tidak mungkin terus bergantung pada tempat pembuangan akhir semata. Sampah harus diselesaikan sejak dari sumbernya.
Tetapi pertanyaannya sederhana. Apakah semua program itu akan berhasil jika masyarakatnya sendiri masih malas membuang sampah kecil ke tempat sampah? Kita sering berharap solusi besar datang dari pemerintah, padahal banyak persoalan lingkungan justru bersumber dari kebiasaan kecil sehari-hari.
Kebiasaan meninggalkan sampah di meja toko modern mungkin terlihat sepele. Namun, dari situlah watak sosial terbentuk.
Seseorang yang terbiasa meninggalkan sampah di meja kemungkinan juga tidak terlalu peduli membuang bungkus makanan di jalan. Seseorang yang malas memilah sampah di rumah mungkin juga tidak terlalu peduli ketika sungai dipenuhi plastik. Semua saling berkaitan.
Peradaban Besar dan Kebiasaan Kecil
Kita sering lupa bahwa peradaban besar dibangun dari kebiasaan kecil. Di Jepang, banyak orang terbiasa membersihkan meja sendiri setelah makan. Anak-anak sekolah diajarkan membersihkan kelas dan toilet mereka sendiri sejak kecil. Kebersihan bukan hanya urusan petugas kebersihan, melainkan bagian dari pendidikan karakter.
Sementara di Indonesia, termasuk Bali, petugas kebersihan kadang dipandang seperti “pelayan sosial” yang bertugas membereskan semua kekacauan publik. Akibatnya, banyak orang tumbuh tanpa rasa tanggung jawab terhadap ruang bersama.
Padahal, Bali hari ini sedang menghadapi tekanan luar biasa. Pariwisata terus tumbuh, konsumsi meningkat, penduduk bertambah, sementara kapasitas pengelolaan sampah sering tertinggal.
Ketika wisatawan datang lalu melihat sungai penuh plastik atau pantai dipenuhi sampah kiriman, yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga citra Bali sendiri.
Ironisnya, di media sosial kita sangat suka memamerkan Bali yang estetik. Matahari terbenam, sawah hijau, kafe cantik, dan pantai biru. Tetapi di balik semua foto indah itu, ada gunungan sampah yang terus bertambah setiap hari.
Kadang saya berpikir, mungkin masalah terbesar kita bukan kurangnya teknologi pengolahan sampah. Bukan juga kurangnya atura, melainkan kurangnya rasa malu.
Kita sudah terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan sampah. Terlalu terbiasa melihat plastik di sungai, dan melihat meja kotor di teras toko modern. Hingga semua terasa normal.
Padahal, sesuatu yang terus dianggap normal lama-lama berubah menjadi budaya. Jika budaya membuang sampah sembarangan terus diwariskan, Bali tidak hanya menghadapi krisis lingkungan, tetapi juga krisis mentalitas sosial. Orang semakin individualistis, tidak peduli pada ruang bersama, dan merasa tanggung jawab selalu milik orang lain.
Karena itu, perang melawan sampah sebenarnya bukan cuma perang melawan plastik atau limbah rumah tangga. Ini perang melawan egoisme. Dan perang itu dimulai dari hal paling sederhana.
Dari tangan yang mau memungut gelas bekasnya sendiri. Dari langkah kecil menuju tempat sampah, dari kesadaran bahwa meja yang kita tinggalkan akan dipakai orang lain. Mungkin terdengar remeh. Tetapi justru dari hal-hal remeh itulah kualitas sebuah masyarakat terlihat.
Bali tidak akan pernah benar-benar bersih jika masyarakatnya masih menganggap kebersihan sebagai tugas orang lain. Sebab, pulau ini bukan hanya dibangun oleh hotel-hotel mewah, pura-pura megah, atau slogan pariwisata. Bali juga dibangun oleh kebiasaan sehari-hari warganya. Termasuk kebiasaan paling sederhana setelah minum dan makan di teras toko modern. (*)


