Bedah Buku “[Bukan] Anjing Malam” Panaskan Jatijagat Kehidupan Puisi di Denpasar

“Novel Saka Rosanta yang dibedah kali ini, saya telah membacanya sekilas. Ada banyak ide yang disampaikan, hanya saja pengarang gagap ketika menuangkannya dalam novel. Sementara itu, sajak-sajak Angga Wijaya dalam buku [Bukan] Anjing Malam, saya melihatnya tidak lebih dari sajak dengan gaya reportase a la jurnalis yang masih miskin diksi dan metafora”.

Pernyataan diatas disampaikan oleh GM Sukawidana, penyair senior Bali dalam sesi diskusi pada acara bedah buku karya dua penulis muda Bali, Saka Rosanta dan Angga Wijaya, di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Renon, Denpasar, Senin (29/7/2024) malam.

Tampil sebagai narasumber, Mas Ruscitadewi, sastrawati dan Galuh Febri Putra, dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana. Dan, I Made Sujaya yang dikenal sebagai kritikus sastra selain dosen sastra di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, sebagai moderator.

Mas Ruscitadewi menanggapi pernyataan GM Sukawidana yang menyebutnya “buta” dan menyarankan untuk membaca kembali novel Saka Rosanta. Ia mengatakan, dalam novel “Buku Itu Di Atas Kertas” banyak sekali terdapat serakan-serakan puisi, prosa liris bahkan cerpen. Hal itu membuktikan sang pengarang, Saka Rosanta memiliki gaya khas dalam penulisan novel.

“Bagi pembaca awam, bisa jadi akan melihat novel ini seperti melompat-lompat dari ide satu ke ide lain. Namun, jika kita perhatikan lebih saksama, itu merupakan dimensi-dimensi yang justru menawarkan hal baru yang mengejutkan pembaca,” kata mantan jurnalis Bali Post ini.

Galuh Febri Putra, saat menanggapi GM Sukawidana yang mengatakan bahwa sajak-sajak Angga Wijaya tidak ubahnya seperti reportase jurnalistik menyebut, gaya seperti itu pernah menjadi tren di Amerika Serikat pada 1960-an pada penulisan prosa (novel).

“Itu namanya narrative journalism. Novel non-fiksi yang menggunakan genre itu yakni “In Cold Blood” Yang ditulis oleh Truman Capote. Kalau dalam puisi masih jarang. Bahkan, di Indonesia saya baru pertama kali membacanya melalui sajak-sajak Angga Wijaya,” ujarnya.

Tanggapan dari dua narasumber bedah buku tersebut kemudian ditanggapi kembali oleh GM Sukawidana, sehingga acara bedah buku menjadi “panas” dengan perdebatan. Untunglah, sang moderator, I Made Sujaya dengan lihai menengahi diskusi panas yang juga disiarkan secara langsung melalui media sosial milik Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP).

“Lurah” atau koordinator JKP, Ngurah Aryadimas Hendratno menyatakan bahwa perdebatan panas itulah yang ia inginkan pada setiap diskusi sastra yang sering diadakan di komunitas sastra dan budaya tersebut. Sehingga, terjadi silang pemikiran yang akan memperkaya kehidupan sastra di Bali, khususnya di Kota Denpasar.

Pada kesempatan itu, Aryadimas juga menyampaikan kesan pribadi terhadap novel Saka Rosanta yang disebutnya memiliki lapis-lapis dimensi yang sama seperti Mas Ruscitadewi sampaikan, mengejutkan pembaca.

“Membaca novel karya Saka Rosanta seperti (mengajak) kita masuk ke dalam membran, ikut merasakan sekaligus bercermin. Sebenarnya, karya dia akan menjadi sangat menarik dan bisa menjadi referensi, serta memberi pelajaran bagi para pembaca. Bilamana, pengarang bisa secara runtun dan berkesinambungan memberi bayu/nafas dan jiwa pada cerita, suasana, dan tokoh-tokohnya,” ucap Mas Ruscitadewi yang seorang cerpenis dan novelis.

Galuh Nugraha, dalam memandang sajak-sajak Angga Wijaya dalam buku kumpulan puisi [Bukan] Anjing Malam menyebutkan bahwa sajak-sajaknya tidak mempresentasikan gerakan estetika manapun sehingga menawarkan pengalaman estetik yang lebih personal.

“Sajak-sajak dalam buku ini memiliki tema yang berbeda, yang bebas dalam mengeksplorasi estetika dari hal-hal personal. Angga Wijaya menawarkan sebuah estetika personal yang bebas nilai, sehingga pemaknaan puisi bukan berasal dari inensi politis maupun filosofis,” jelas Galuh.

Dari sana, tambah dia, pembaca mempunyai ruang pemaknaan yang lebih luas dan personal dalam mencari celah-celah makna dalam puisi Angga Wijaya yang rapat dan kadang terkesan kritis.

“Dalam sajak “Denting Penjual Bakso”, misalnya, ia mengajak pembaca untuk menggunakan rasa dalam memahami dan memecahkan peristiwa sosial, ketika logika dan politik sudah tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan. Angga Wijaya menggunakan puisi-puisinya sebagai penyambung suara komunal, sehingga pembaca merasakan sebuah kedekatan,” tutup Galuh. ( kanalbali/RLS )

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.