DENPASAR, kanalbali.id – Situasi low season yang berbarengan dengan konflik di teluk persia memicu kekhawatiran industri pariwisata Bali.
Namun, hotel di Griya Santrian, Sanur, Bali, justru menunjukkan tren yang positif karena pada bulan Maret 2026, properti ini mencatatkan tingkat hunian yang cukup tinggi sekitar 80 persen.
“Angka ini mencerminkan permintaan yang tetap kuat, terutama dari wisatawan mancanegara yang menjadikan Sanur sebagai destinasi utama selama berada di Bali,” kata Resident Manager Griya Santrian, I Gusti Arta Wibawa, Selasa (28/4/2026).
Pencapaian ini menjadi indikator bahwa kawasan Sanur masih memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan beberapa destinasi lain di Bali, khususnya bagi wisatawan yang menginginkan suasana lebih tenang dan nyaman.
“Angka tersebut menjadi rekor terbaik sepanjang sejarah operasional hotel, terutama karena diraih pada periode low season yang biasanya identik dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan,” kata Arta Wibawa, saat ditemui di Griya Santrian, Rabu 29 April 2026.
Tingginya tingkat hunian ini tidak terlepas dari kontribusi pasar utama yang selama ini menjadi andalan Griya Santrian. Wisatawan asal Australia dan Eropa mendominasi jumlah tamu yang menginap, dengan negara seperti Belanda, Jerman, dan Prancis menjadi penyumbang terbesar.
Selain itu, karakteristik tamu yang didominasi oleh repeater guest turut memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas okupansi.
“Banyak tamu yang kembali menginap setiap tahun, bahkan dalam beberapa waktu, datang lebih dari satu kali dalam setahun,” bebernya.
Ia juga mengungkapkan bahwa, kedekatan antara tamu dan staf hotel juga menjadi salah satu faktor pendorong loyalitas tersebut. Para tamu tidak hanya datang untuk menikmati fasilitas, tetapi juga untuk merasakan kembali pengalaman pelayanan yang sudah mereka kenal sebelumnya.
Di sisi lain, kondisi global juga memberikan pengaruh terhadap tingkat hunian. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, misalnya, sempat berdampak pada peningkatan lama tinggal tamu. Sejumlah wisatawan yang mengalami kendala penerbangan memilih untuk memperpanjang masa inap mereka antara tiga malam hingga satu minggu.
“Perpanjangan masa tinggal ini turut berkontribusi terhadap peningkatan okupansi secara keseluruhan, sekaligus memberikan tambahan pada pendapatan hotel,” ucapnya.
Selain itu lanjut dia, Sanur juga dinilai masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di Bali. Dibandingkan dengan beberapa area lain, tingkat hunian di Sanur cenderung lebih stabil dan bahkan unggul dalam beberapa periode tertentu.
Hal ini menjadikan Sanur tetap kompetitif di tengah persaingan industri perhotelan yang semakin ketat di Bali. Dengan kombinasi antara pasar loyal, lokasi strategis, serta suasana yang khas, kawasan ini terus menarik minat wisatawan dari berbagai negara.
Ke depan, tingkat hunian di Griya Santrian diharapkan dapat terus dipertahankan, seiring dengan berbagai upaya peningkatan kualitas produk dan layanan yang terus dilakukan oleh manajemen. ( kanalbali/RLS )


