“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

Pada banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang sekali ada ruang bagi suara lain yang justru paling sunyi, paling lama menyimpan luka, dan paling sulit mengucapkannya. Suara itu adalah suara anak.

oleh: A Rakasiwi

LEWAT single terbarunya, “Sing Nyidang Ngomong”, Mr. Rayen membuka ruang yang lama tertutup itu. Ia tidak sekadar bercerita tentang pengkhianatan dalam rumah tangga, tetapi menggali sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana konflik orang tua diam-diam meretakkan batin anak, bahkan ketika tak satu kata pun terucap.

Mr. Rayen, yang memiliki nama asli I Komang Rayendra Umbara, adalah musisi asal Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Ia telah berkarya sejak pertengahan 2000-an dan dikenal sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang konsisten mengangkat tema kehidupan sehari-hari, terutama soal keluarga, relasi, dan realitas sosial masyarakat Bali. Ia sempat tergabung dalam Blueberry Band sebelum kemudian menempuh jalur solo.

Dalam perjalanan kariernya, Mr. Rayen telah merilis sejumlah lagu yang cukup dikenal, seperti “Demi Iluh”, “Liunan Masalah”, “Gara-Gara Hoax”, “Percuma”, hingga “Tresna Butuh Materi” yang sempat viral. Album perdananya bertajuk “Demi Iluh” dirilis pada 2018 bersama Mr. Rayen Band dan berisi sepuluh lagu dengan tema sosial dan relasi rumah tangga.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, Mr. Rayen juga dikenal lewat kolaborasinya bersama anak perempuannya, Omang Verly. Duet keduanya menjadi warna tersendiri dalam karya-karyanya, karena tidak hanya menghadirkan harmoni vokal, tetapi juga menghadirkan hubungan ayah dan anak secara nyata di dalam musik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lagu “Tresna Butuh Materi”, di mana interaksi vokal mereka terasa natural dan emosional, sekaligus memperkuat tema cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi ini tidak berhenti sebagai gimmick musikal. Kehadiran Omang Verly justru menjadi bagian dari narasi yang lebih luas dalam karya-karya Mr. Rayen, terutama ketika ia mulai mengangkat tema keluarga dari sudut pandang yang lebih personal. Dalam konteks inilah, “Sing Nyidang Ngomong” terasa seperti kelanjutan yang lebih dalam, sekaligus jembatan menuju proyek berikutnya yang akan memberi ruang lebih besar bagi suara sang anak.

Di balik produksi lagu ini, ada nama-nama yang turut membentuk warna musikal dan visualnya. Aransemen musik digarap oleh Abel Dipayana, sementara penggarapan video klip dipercayakan kepada Andremians sebagai videografer.

Ide lagu ini, menurutnya, bukan sekadar imajinasi. Ia berangkat dari peristiwa nyata yang sempat viral.

“Betul, ide itu muncul dari kisah nyata. Beberapa waktu lalu sempat ada kejadian viral, maaf, perselingkuhan, yang kebetulan terjadi di salah satu tempat usaha kami,” ungkapnya.

Dari sana, ia tidak hanya melihat konflik sebagai drama orang dewasa, melainkan sebagai peristiwa yang meninggalkan jejak panjang pada anak. Di titik ini, “Sing Nyidang Ngomong” mengambil jarak dari lagu-lagu sejenis. Jika selama ini kisah perselingkuhan cenderung berputar pada pelaku, pada rasa bersalah atau pembelaan diri, Mr. Rayen memilih berdiri di sisi yang berbeda. Ia melihat dari posisi seorang ayah.

“Kenapa ada perspektif anak dalam cerita ini, karena saya memandang dari sudut sebagai orang tua, sebagai seorang ayah yang juga merasakan konflik dalam rumah tangga. Entah itu masalah percintaan, faktor ekonomi, atau hal lain yang menimbulkan kegaduhan, sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak dan keluarga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konflik yang terus-menerus terjadi akan meninggalkan dampak serius.

“Konflik orang tua apa pun itu pasti berdampak negatif terhadap perkembangan mental dan kebahagiaan anak,” tambahnya.

Keterlibatan Omang Verly dalam lagu ini, meski hanya muncul sekilas, menjadi bagian penting dalam narasi yang dibangun.

“Omang Verly terlibat dalam klip ini karena tujuannya untuk memberi pesan moral supaya pendengar bisa terhanyut dalam alur cerita ini,” kata Mr. Rayen.

Ia juga ingin menghadirkan sudut pandang yang jarang disentuh. “Biasanya lagu bertema perselingkuhan hanya dilihat dari sudut pandang pelakunya saja. Di lagu ini saya gali lebih dalam. Tak ada satu pun anak yang ingin menyaksikan orang tuanya berpisah,” ucapnya.

Menariknya, ia melibatkan langsung keluarganya dalam video klip. “Yang membedakan dari lagu ini karena diangkat dari kisah yang sempat viral di media sosial. Lagu ini juga menceritakan luka batin yang mendalam. Dalam video klip, saya melibatkan langsung istri dan anak agar lebih bisa menjiwai dan memvisualkan ceritanya,” jelasnya.

Judul “Sing Nyidang Ngomong” sendiri menyimpan makna yang dalam.

“Sing nyidang ngomong bisa diartikan ungkapan perasaan hancur yang tidak bisa diutarakan lagi, karena tekanan batin dan luka yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Di situlah letak kekuatan lagu ini. Ia tidak berteriak, tetapi justru memilih diam. Dalam diam itu, luka menjadi lebih terasa.

Bagi Mr. Rayen, musik tidak hanya soal hiburan. “Lagu ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi sebuah cerita perjalanan hidup. Banyak makna yang bisa kita jadikan bahan renungan, pengendalian diri, ego, dan sebagai bahan introspeksi,” katanya.

Menariknya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan karya yang berdiri sendiri. Lagu ini menjadi awal dari rangkaian cerita yang juga akan memberi ruang lebih besar bagi Omang Verly.

“Lagu ini memang berkonsep bersambung. Bakal ada balasan dari sudut pandang sang anak. Di mana nanti Omang Verly akan bernyanyi penuh,” ungkapnya.

Dengan konsep ini, kolaborasi ayah dan anak itu tidak lagi sekadar duet, tetapi berkembang menjadi dialog emosional dalam bentuk karya musik. Sebuah upaya menghadirkan suara anak yang selama ini kerap tersembunyi di balik konflik orang tua.

Pada akhirnya, “Sing Nyidang Ngomong” bukan hanya tentang perselingkuhan. Ia adalah tentang keluarga, tentang luka yang diwariskan, tentang suara yang hilang, dan tentang anak-anak yang tumbuh dalam sunyi yang tidak mereka pilih.

Dan mungkin, setelah mendengarnya, kita akan mulai menyadari, di balik setiap konflik orang tua, selalu ada satu suara yang tak pernah benar-benar didengar. Suara yang “sing nyidang ngomong”. ( kanalbali/IST )

Apa Komentar Anda?