- Anggapan penyintas gangguan mental lebih tahan rasa sakit tak sepenuhnya benar
- Menerima curhat sering memancing kembalinya trauma
- Persetujuan emosional saat curhat perlu dipelajari bersama
Penulis: Angga Wijaya
ADA anggapan bahwa penyintas gangguan mental harus selalu siap mendengar curhat orang lain karena dianggap lebih memahami rasa sakit. Anggapan itu terdengar baik di permukaan, terdengar penuh empati, bahkan kadang terdengar seperti pujian.
Seolah-olah orang yang pernah jatuh ke dalam depresi, kecemasan, bipolar, atau skizofrenia otomatis memiliki kapasitas lebih besar untuk menampung luka orang lain. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Penyintas gangguan mental tetap manusia biasa. Mereka bukan pusat layanan darurat emosional yang selalu siaga dua puluh empat jam menerima ledakan kesedihan, kemarahan, trauma, dan keputusasaan orang lain. Mereka juga sedang berusaha menjaga dirinya sendiri agar tetap stabil di tengah kehidupan yang sering kali tidak ramah.
Ada hari-hari ketika mereka terlihat tenang, bekerja seperti biasa, tertawa, bercakap santai, tetapi diam-diam sedang sibuk menjaga pikirannya agar tidak kembali kacau.
Saya mengetahui hal itu bukan dari buku psikologi, bukan pula dari seminar kesehatan mental. Saya mengetahui itu dari pengalaman hidup sebagai penyintas skizofrenia paranoid sejak 2009.
Bertahun-tahun hidup berdampingan dengan suara-suara di kepala, kecemasan, paranoia, dan ketakutan membuat saya memahami satu hal sederhana. Pulih bukan berarti menjadi kebal, tetapi hanya berarti belajar hidup bersama luka tanpa terus-menerus tenggelam di dalamnya.
Karena itu ada percakapan-percakapan tertentu yang kadang terasa sangat berat untuk didengar. Cerita tentang pertengkaran rumah tangga, kekerasan, penghinaan, bunuh diri, pengkhianatan, utang, kehilangan pekerjaan, atau tekanan hidup yang terus-menerus dapat menjadi trigger yang diam-diam mengganggu kepala selama berhari-hari.
Ada cerita yang tidak selesai ketika telepon ditutup atau pesan WhatsApp berhenti dikirim. Ia menetap di kepala, berputar-putar, memantul ke mana-mana, lalu perlahan mengusik kestabilan yang susah payah dijaga.
Saya pernah mengalami malam-malam ketika setelah mendengar curhat seseorang, tidur menjadi sulit. Pikiran terasa ramai. Tubuh lelah, tetapi kepala tidak mau diam. Ada kecemasan yang datang tanpa alasan jelas.
Kadang emosi ikut jatuh meski masalah itu bukan milik saya. Hal-hal semacam ini mungkin sulit dipahami oleh orang yang belum pernah mengalami gangguan mental. Banyak orang mengira mendengar hanyalah mendengar. Padahal bagi sebagian penyintas, mendengar juga bisa berarti menyerap.
Beberapa tahun lalu, saya pernah mematikan ponsel semalaman karena merasa terlalu lelah menerima cerita dari banyak orang. Hari itu ada beberapa pesan masuk hampir bersamaan.
Seseorang bertengkar dengan pasangannya. Orang lain mengeluhkan tekanan pekerjaan. Ada pula yang mengirim pesan panjang tentang keinginan menyerah hidup. Saya membaca semuanya dengan perasaan campur aduk. Bukan karena saya tidak peduli, tetapi karena kepala saya terasa penuh. Saat itu saya sadar, bahkan empati pun punya batas.
Ironisnya, cukup banyak orang datang kepada penyintas gangguan mental justru hanya ketika mereka sedang punya masalah. Mereka bercerita panjang tanpa bertanya lebih dulu apakah lawan bicaranya sedang cukup kuat untuk mendengar atau tidak.
Seolah-olah orang yang pernah sakit mental otomatis memiliki stok empati tanpa batas. Atau, karena pernah merasakan sakit, maka ia wajib selalu siap menjadi tempat pelampiasan luka orang lain.
Budaya seperti ini semakin terasa di zaman media sosial dan komunikasi digital. Orang bisa tiba-tiba mengirim pesan panjang tengah malam berisi kekacauan hidupnya. Ada yang menelepon sambil menangis selama berjam-ja, atau yang mengirim ancaman bunuh diri, ada juga yang meluapkan kemarahan tanpa jeda.
Semua itu sering dilakukan tanpa persetujuan emosional dari orang yang menerima cerita.
Dampak Media Sosial
Media sosial juga membuat batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin kabur. Orang meluapkan kesedihan di story Instagram, membuat utas panjang tentang trauma di X, atau menulis status penuh kemarahan di Facebook.
Kita membaca semua itu hampir setiap hari tanpa benar-benar punya kesempatan untuk mempersiapkan diri secara emosional. Timeline berubah menjadi lorong panjang berisi kecemasan kolektif.
Saya kadang merasa generasi sekarang terlalu akrab dengan istilah healing, tetapi lupa memahami makna menjaga kesehatan mental secara nyata. Semua orang ingin didengar, tetapi tidak semua orang belajar menjadi pendengar yang sehat.
Banyak yang menganggap curhat adalah hak mutlak, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain. Seolah selama seseorang mau mendengar, maka semua luka boleh ditumpahkan begitu saja.
Kita hidup di masa ketika curhat dianggap sebagai solusi cepat bagi tekanan hidup. Semua orang dianjurkan untuk “bercerita saja”, “jangan dipendam”, atau “luapkan saja biar lega”.
Nasihat itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun yang sering dilupakan adalah kenyataan bahwa tidak semua orang siap menerima luapan emosi tersebut. Curhat memang bisa menjadi jalan pelepasan bagi seseorang, tetapi di saat yang sama bisa menjadi beban baru bagi orang lain.
Yang lebih menyakitkan, kadang penyintas gangguan mental merasa bersalah ketika tidak mampu mendengar cerita orang lain. Saya pernah berada di titik itu. Ketika menolak telepon atau tidak membalas pesan panjang seseorang, ada rasa bersalah yang muncul.
Saya merasa jahat, tidak punya empati, merasa menjadi manusia yang buruk hanya karena tidak cukup kuat mendengar masalah orang lain hari itu.
Padahal setelah dipikir-pikir, mengapa seseorang harus merasa bersalah hanya karena ingin menjaga dirinya sendiri? Selama ini kita terlalu sering memuliakan orang-orang yang sanggup menjadi tempat curhat siapa saja.
Kita menyebut mereka pendengar yang baik, orang yang tulus, orang yang sabar. Tetapi jarang ada yang bertanya bagaimana keadaan mental orang yang setiap hari menerima beban emosi dari banyak orang. Jarang ada yang memikirkan bahwa pendengar juga bisa lelah. Bahwa orang yang tampak tenang pun bisa diam-diam sedang retak.
Penyintas Gangguan Mental Bukan Orang Kuat
Ada kecenderungan aneh dalam masyarakat kita. Orang sering menganggap siapa pun yang terlihat kuat pasti mampu menanggung semuanya. Penyintas gangguan mental yang sudah tampak pulih sering diperlakukan seolah sudah sepenuhnya selesai dengan dirinya sendiri.
Ketika seseorang sudah bisa bekerja, menulis, bercanda, nongkrong, atau tampak produktif, masyarakat mengira ia sudah benar-benar aman dari kemungkinan kambuh, cemas, atau kelelahan mental.
Padahal kenyataannya tidak begitu. Sebagian penyintas hidup dengan energi mental yang terbatas. Ada hari ketika suara-suara di kepala terasa lebih ramai, atau ketika kecemasan datang tanpa sebab jelas.
Ada kalanya ketika sekadar bangun pagi dan menjalani rutinitas saja sudah menghabiskan tenaga besar. Dalam kondisi seperti itu, menerima ledakan emosi orang lain bisa terasa seperti menambah beban di punggung yang sebenarnya sudah berat.
Karena itu menjaga jarak dari percakapan tertentu bukan berarti tidak peduli. Menolak mendengar curhat bukan berarti membenci seseorang. Kadang itu hanyalah bentuk bertahan hidup. Sama seperti orang yang sedang sakit fisik membutuhkan istirahat, kesehatan mental juga membutuhkan ruang aman agar tidak terus-menerus diguncang emosi negatif dari luar.
Sayangnya, batas emosional masih sering dianggap sesuatu yang egois. Ketika seseorang berkata, “Maaf, saya sedang tidak bisa mendengar cerita berat,” kalimat itu kerap diterima sebagai penolakan pribadi. Padahal sebenarnya itu adalah bentuk kejujuran. Sebuah pengakuan bahwa dirinya sedang tidak cukup kuat.
Tentang Persetujuan Emosional
Saya pikir kita perlu mulai belajar tentang persetujuan emosional. Sesederhana bertanya sebelum bercerita panjang kepada seseorang. “Kamu sedang ada energi untuk mendengar cerita berat tidak?” Kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi bagi sebagian orang bisa sangat berarti. Setidaknya ada penghormatan terhadap keadaan mental lawan bicara.
Tidak semua orang memiliki kapasitas emosional yang sama. Ada yang mampu mendengar cerita berat tanpa terlalu terpengaruh. Namun, ada pula yang mudah menyerap emosi di sekitarnya. Penyintas skizofrenia, depresi, bipolar, maupun gangguan kecemasan sering kali berada di kelompok kedua. Mereka bisa ikut tenggelam dalam cerita yang sebenarnya bukan milik mereka.
Saya kadang merasa masyarakat terlalu terburu-buru menjadikan sesama manusia sebagai tempat sampah emosi. Sedikit-sedikit meluap, seedikit-sedikit mencari tempat pelarian. Padahal tidak semua luka harus ditumpahkan saat itu juga. Tidak semua kesedihan harus dibebankan kepada orang lain tanpa jeda.
Ada orang-orang yang terlihat tenang di luar, tetapi sebenarnya sedang mati-matian menjaga kepalanya sendiri agar tetap waras. Mereka tersenyum sambil menahan kekacauan di dalam diri. Mereka tetap bekerja sambil diam-diam bertarung dengan pikirannya sendiri. Mereka mendengar orang lain sambil berusaha agar dirinya tidak kembali jatuh.
Mungkin karena itulah saya semakin percaya bahwa empati tidak cukup hanya berupa keberanian bercerita. Empati juga berarti tahu kapan harus berhenti membebani orang lain. Tahu kapan harus mencari bantuan profesional. Tahu kapan harus menyimpan sebagian luka untuk diri sendiri tanpa melemparkannya kepada siapa saja yang terlihat bersedia mendengar.
Penyintas gangguan mental berhak berkata tidak. Berhak menjaga jarak dab memilih percakapan yang aman bagi dirinya sendiri. Sebab proses pulih sering kali bukan perkara sembuh total, melainkan belajar mengenali batas kemampuan diri sendiri.
Dan mungkin kita memang perlu belajar satu hal sederhana. Tidak semua orang harus dijadikan tempat curhat. Tidak semua telinga siap menerima semua luka. Terutama telinga milik orang-orang yang sebenarnya juga sedang berusaha menyembuhkan dirinya sendiri (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.


