IMAJI, Film Dokumenter tentang Anak-anak yang “Melihat” Tanpa Mata

Ka-Ki: Ida Ayu Pradnyani Manthara (Ketua Yayasan Pendidikan Dria Raba), Tria Hikmah Fratiwi (penulis naskah), Yoga Anugraha (Composer musik) ,, Adi Putra Pratama (videografer) Heri Windi Anggara (sutradara) - IST
Ka-Ki: Ida Ayu Pradnyani Manthara (Ketua Yayasan Pendidikan Dria Raba), Tria Hikmah Fratiwi (penulis naskah), Yoga Anugraha (Composer musik) ,, Adi Putra Pratama (videografer) Heri Windi Anggara (sutradara) - IST

DENPASAR, kanalbali.id – Bagaimana seseorang membayangkan warna, bentuk, atau wajah jika sejak lahir ia tidak pernah melihat cahaya? Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat IMAJI, sebuah film dokumenter karya sutradara Heri Windi Anggara yang akan menggelar pemutaran perdananya pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 17.00 WITA di Aula ITB STIKOM Bali.

Diproduksi oleh Yayasan Pendidikan Dria Raba, film ini mengajak penonton memasuki dunia anak-anak difabel netra melalui pengalaman yang jarang disorot: bagaimana imajinasi tumbuh ketika penglihatan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Alih-alih berfokus pada keterbatasan, IMAJI menempatkan anak-anak difabel netra sebagai subjek utama yang memperlihatkan cara mereka memahami dunia melalui suara, sentuhan, ingatan, dan pengalaman hidup. Melalui proses kreatif bermusik, menulis, dan menggambar, film ini merekam jejak-jejak batin yang selama ini nyaris tak terdengar dalam ruang publik.

“Film ini bukan tentang apa yang tidak bisa mereka lihat, melainkan tentang bagaimana mereka membangun dunia di dalam pikiran mereka,” ujar Heri Windi Anggara.

Dalam prosesnya, IMAJI mengikuti sejumlah anak difabel netra dari berbagai daerah yang diajak mengeksplorasi pengalaman sensorik dan imajinatif mereka. Narasi film dibangun dari keseharian para anak itu sendiri, menjadikan suara mereka sebagai pusat cerita.

Pendekatan tersebut kemudian diperkaya dengan pendampingan psikolog dan dokter spesialis neurologi. Kehadiran para ahli bukan untuk mendominasi cerita, melainkan membantu menjelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan bagaimana otak membentuk gambaran, mimpi, dan imajinasi tanpa pengalaman visual.

Menurut Yayasan Pendidikan Dria Raba, film ini lahir dari keinginan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai disabilitas, sekaligus menantang cara pandang masyarakat yang sering kali melihat difabel melalui kacamata kekurangan semata. Dalam proposal produksinya disebutkan bahwa film dokumenter ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik, mempromosikan inklusi, sekaligus menyediakan ruang bagi penyandang disabilitas netra untuk menyampaikan pengalaman dan perspektif mereka sendiri.

Lebih jauh, IMAJI juga berupaya menjembatani dunia seni, pendidikan, dan sains. Melalui perpaduan dokumentasi keseharian, proses kreatif, serta penjelasan ilmiah, film ini menghadirkan pertanyaan yang sederhana namun mendalam: bagaimana manusia membangun gambaran tentang dunia ketika mata bukan sumber utama pengetahuan?

Tema tersebut menjadi semakin relevan di tengah upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif. Ketika sebagian besar pengalaman manusia didominasi budaya visual, IMAJI mengingatkan bahwa ada banyak cara lain untuk mengenali, memahami, dan merasakan kehidupan.

Film ini merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP. Setelah pemutaran perdana, film ini direncanakan akan didiseminasikan melalui platform digital agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan menjadi sumber inspirasi bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah Indonesia.

Melalui IMAJI, penonton tidak hanya diajak menonton, tetapi juga belajar mendengar dengan lebih saksama. Sebab mungkin, ada dunia yang selama ini luput terlihat justru karena kita terlalu bergantung pada mata.

Apa Komentar Anda?