UBUD, kanalbali.id – Ubud Writers & Readers Festival mengumumkan jajaran pertama para pencerita internasional dan Indonesia yang akan bergabung dalam Festival di Ubud pada 21–25 Oktober.
Salah-satunya adalah investigatif dan pembuat film Dandhy Laksono, yang film dokumenternya kerap memicu perbincangan publik. Misalnya, film Sexy Killers hingga Dirty Vote dan yang terbaru, Pesta Babi.
“Ubud Writers & Readers Festival terus menjadi mercusuar bagi kisah-kisah luar biasa dan suara-suara berani dari Indonesia dan seluruh dunia,” ujar Pendiri dan Direktur Festival Janet DeNeefe dalam rilisnya, Jumat (3/7/2026).
“Jajaran penulis tahun ini merepresentasikan yang terbaik dari apa yang kami perjuangkan, keberagaman, keberanian, dan kekuatan transformatif kata-kata,” tegasnya.
Penulis Indonesia lainnya adalah Dian Purnomo yang novel debutnya Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam mengungkap tradisi brutal kawin tangkap, penculikan pengantin paksa di Pulau Sumba.
2 Pertemuan Internasional Jelang G20 Digelar di Bali, 1.610 Personil TNI dan Polri Siap Amankan
Festival juga merayakan para pencerita Indonesia seperti penulis dan sejarawan Raisa Kamila, yang Perkara Keramat menelaah ketangguhan dan ingatan sejarah masyarakat Aceh.
Kemudian, Valiant Budi, yang memoarnya Kedai 1001 Mimpi merekam sudut pandang pekerja migran di Arab Saudi. Lalu, penyair Cyntha Hariadi, yang karyanya menelaah bahasa dan warisan kolonial melalui permainan kata yang inovatif.
Ada juga Louie Buana, yang menghubungkan naskah La Galigo, teks epik Bugis dari Sulawesi Selatan yang terjaga dalam bentuk puisi, dengan penceritaan kontemporer.
“Memasuki tahun ke-23, Festival merayakan kisah-kisah luar biasa dan menguatkan suara-suara berani,” kata Janet.
Sementara itu, penulis internasional yang hadir antara lain pemenang Booker Prize Kiran Desai, yang akan membahas The Loneliness of Sonia and Sunny, epik kaya dan ramai yang mengeksplorasi migrasi dan identitas.
Penulis Malaysia Tash Aw, yang masuk longlist Booker Prize, membawa The South, di mana ia mengenang masa penuh perubahan yang ia habiskan di lahan pertanian keluarganya yang terbengkalai saat remaja.
Finalis Booker Prize Katie Kitamura mempersembahkan novel terbarunya yang menegangkan, Audition, yang menelaah pertunjukan yang kita tampilkan untuk orang lain dan mengungkap kepalsuan di baliknya.
Turut bergabung tahun ini adalah desainer Nepal-Amerika yang bermukim di New York, Prabal Gurung, yang telah menerima banyak penghargaan dan yang gaunnya pernah dikenakan oleh mantan Ibu Negara Amerika Michelle Obama dan Duchess of Cambridge.
Ia membawa visi kreatifnya ke Festival dan akan mempersembahkan memoar debutnya, Walk Like a Girl, yang menghadapi kenyataan pahit menjadi desainer independen saat ini.
Tampil untuk pertama kalinya di Festival, Randa Abdel-Fattah, pemenang Victorian Premier’s People’s Choice Award, membawa Discipline, yang mengeksplorasi siapa yang berhak bercerita dan suara siapa yang didengar.
Novel ini memicu perdebatan besar ketika Abdel-Fattah dibatalkan undangannya dari Adelaide Writers’ Week pada 2026, memicu gelombang solidaritas luar biasa dengan lebih dari 180 penulis mengundurkan diri dan seluruh festival dibatalkan.
Akan hadir pula penulis Palestina Adania Shibli membawa Minor Detail, finalis National Book Award yang menjalin kisah kekerasan tahun 1949 dengan narasi kontemporer yang mengungkap sejarah tersembunyi Palestina.
Kemudian, penulis Pakistan Fatima Bhutto mempersembahkan The Hour of the Wolf, kisah menghancurkan tentang kekerasan dan bertahan hidup yang mempertanyakan kekuasaan dan kebungkaman.
Sejarah, sains, dan masa depan angin akan diulas oleh jurnalis Inggris-Amerika ternama Simon Winchester melalui buku nonfiksi terlarisnya versi New York Times, The Breath of the Gods
Ia akan bergabung dengan Profesor asal Australia dan pakar terkemuka dunia dalam ekologi hutan dan lahan berhutan, David Lindenmayer, yang riset puluhan tahunnya membantu kita melihat hutan sebagaimana adanya. ( kanalbali/RLS )


