Mewaspadai ‘Split Personality’ dalam Pernikahan (1)

Photo by Jeremy Wong Weddings
Photo by Jeremy Wong Weddings

Pernikahan yang sehat adalah ketika dua orang dapat hidup bersama dengan nyaman sebagai dirinya sendiri. Mereka tidak perlu terus-menerus memakai topeng demi menyenangkan pasangannya.

Oleh Angga Wijaya

BERDASARKAN pengamatan saya sejak kecil hingga sekarang, saya melihat bahwa pernikahan yang sehat dan bertahan lama bukanlah pernikahan yang tampak sempurna dari luar. Bukan pula pernikahan yang tidak pernah diwarnai pertengkaran atau perbedaan pendapat.

Menjadi diri sendiri di sini tentu bukan berarti bebas melakukan apa saja. Saya tidak sedang berbicara tentang kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai kesadaran. Termasuk dalam cara berekspresi, berbicara, bergaul, berpakaian, berpikir, hingga bertingkah laku.

Semua itu berada dalam kerangka yang baik dan patut. Bukan semata-mata karena takut kepada norma, adat, budaya, agama, atau hukum. Manusia yang telah dewasa secara emosional tidak menunggu cambuk untuk berbuat baik. Ia tidak seperti kerbau yang baru berjalan setelah dilecut. Ia sadar bahwa menghormati orang lain adalah bagian dari menghormati dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang hanya berbuat baik karena takut dihukum akan merasa bebas melakukan apa saja ketika tidak ada yang mengawasi. Kesadaran seperti itu masih bertumpu pada rasa takut, bukan pada kematangan.

Dari pengamatan itulah saya kemudian memikirkan istilah split personality. Saya sengaja menggunakan istilah ini sebagai metafora, bukan sebagai diagnosis psikologis. Yang saya maksud bukan gangguan kejiwaan, melainkan keadaan ketika seseorang memperlihatkan wajah yang sangat berbeda di hadapan orang-orang yang berbeda.

Di depan pasangan, ia tampak tenang. Di depan keluarga besar, ia terlihat sopan. Di kantor, ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, murah senyum, dan mudah bekerja sama. Teman-temannya mengenalnya sebagai pendengar yang baik.

Namun, ketika pintu rumah ditutup, orang yang sama berubah menjadi sangat sensitif. Hal-hal kecil mudah memancing kemarahan. Nada bicaranya meninggi, kata-kata yang keluar terasa kasar. Kesabaran yang tadi dipertontonkan kepada dunia luar seolah menghilang begitu saja.

Atau justru sebaliknya; ada pula orang yang tampak pendiam di luar rumah, tetapi berubah menjadi sangat hangat ketika bersama pasangan. Ada yang terlihat biasa saja di kantor, tetapi menjadi pribadi yang penuh perhatian ketika berada di rumah.

Artinya, perubahan perilaku itu tidak selalu menuju arah yang buruk. Namun, perbedaan tersebut tetap menarik untuk direnungkan.

Saya pernah memperhatikan orang-orang yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah warung kopi. Mereka tertawa lepas. Semua persoalan hidup diceritakan dengan santai.

Keluhan tentang pekerjaan, keresahan tentang masa depan, bahkan masalah keluarga pun mengalir begitu saja. Tidak jarang mereka pulang dengan wajah lebih ringan.

Saya lalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa cerita-cerita seperti itu justru lebih mudah keluar kepada teman daripada kepada pasangan sendiri? Mengapa seseorang dapat begitu sabar mendengarkan keluh kesah sahabatnya, tetapi sulit menyediakan waktu lima belas menit untuk mendengarkan cerita suami atau istrinya?.

Mengapa senyum paling ramah diberikan kepada pelanggan, sedangkan wajah paling lelah justru diberikan kepada orang yang setiap hari menunggu kepulangannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apakah ini yang disebut kepribadian ganda? Namun semakin banyak membaca, saya menyadari bahwa istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk menggambarkan fenomena sehari-hari seperti ini.

Saya kemudian menemukan penjelasan menarik dari psikiater dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ(K). Menurut beliau, media sosial sering membuat kita terlalu cepat memberi label kepada seseorang. Sedikit-sedikit disebut toxic. Sedikit-sedikit dianggap memiliki gangguan kepribadian. Padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Penjelasan itu membuat saya berhenti sejenak. Mungkin selama ini kita memang terlalu tergesa-gesa mencari nama untuk sebuah masalah, padahal yang dibutuhkan adalah memahami akar persoalan.

Penjelasan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ(K) membuat saya melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda. Selama ini kita terlalu mudah menyimpulkan bahwa seseorang memiliki karakter buruk hanya karena ia bersikap berbeda di rumah dan di luar rumah. Padahal, belum tentu demikian.

Bisa jadi, pasangan justru melihat versi dirinya yang paling lelah. Bayangkan seseorang yang sejak pagi harus menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan. Ia harus bersikap profesional kepada atasan. Menahan emosi ketika menghadapi pelanggan yang sulit.

Menjaga tutur kata agar tidak menyinggung rekan kerja. Menghadapi kemacetan lalu lintas ketika pulang. Semua itu membutuhkan energi, bukan hanya energi fisik, tetapi juga energi mental.

Psikologi mengenal istilah regulasi emosi, yakni kemampuan seseorang mengenali, mengendalikan, dan mengekspresikan emosinya secara tepat.

Kemampuan ini tidak selalu berada pada tingkat yang sama sepanjang hari. Sama seperti baterai telepon genggam yang terus berkurang setelah digunakan, kemampuan mengendalikan emosi juga dapat menurun setelah seseorang menghadapi tekanan selama berjam-jam.

Ketika akhirnya tiba di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, seluruh beban itu kadang-kadang keluar tanpa disadari. Nada bicara menjadi lebih tinggi. Kesabaran berkurang. Hal-hal kecil terasa menjengkelkan.

Penjelasan ini bukanlah pembenaran terhadap perilaku kasar kepada pasangan. Kelelahan tidak boleh dijadikan alasan untuk menyakiti orang yang kita cintai.

Namun, penjelasan tersebut membantu kita memahami bahwa persoalan hubungan tidak selalu berakar pada niat buruk. Sering kali yang sedang bermasalah bukan cintanya, melainkan kemampuan seseorang mengelola tekanan hidup.

  •  

    Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan esais. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

 

 

Apa Komentar Anda?