Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat; Menafsir Seni Kriya Inty Nahari (1)

Suasana pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA) - IST
Suasana pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA) - IST

Karya yang dipamerkan dalam pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, menghadirkan tenun kluwung berbahan serat daun nanas dari kawasan Gunung Kelud.

Oleh: Angga Wijaya*

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan, tetapi juga berusaha mengembalikan perhatian kita kepada asal-usul material itu sendiri.

Bahan tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai medium untuk melahirkan bentuk, melainkan sebagai pembawa ingatan, pengetahuan, bahkan cara pandang terhadap kehidupan.

Pembacaan seperti itulah yang muncul ketika membaca karya Barik ciptaan Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya.

Karya yang dipamerkan dalam pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, menghadirkan tenun kluwung berbahan serat daun nanas dari kawasan Gunung Kelud.

Namun, yang ditawarkan Barik sesungguhnya jauh melampaui persoalan teknik menenun atau eksplorasi material. Karya ini mengajak kita membaca hubungan yang nyaris terlupakan, yakni hubungan manusia dengan alam yang melahirkannya.

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan teknologi dan produksi massal, kita terbiasa melihat material sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kehendak manusia. Kayu dipotong agar lurus.

Batu dipahat hingga sesuai rancangan. Kain diproduksi agar seluruh permukaannya sama. Standar industri membentuk cara kita memandang keindahan, bahwa semakin seragam, semakin dianggap sempurna.

Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya. bersama karya yang dipamerkan - IST
Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya. bersama karya yang dipamerkan – IST

Barik memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menghapus karakter alami serat daun nanas, Inty Nahari justru mempertahankannya. Perbedaan warna, garis-garis kecokelatan, ketebalan serat, hingga tekstur yang muncul selama proses pengolahan menjadi bagian dari bahasa visual karya.

Tidak ada usaha menyembunyikan ketidakteraturan. Yang terjadi justru sebaliknya; ketidakteraturan dirayakan sebagai identitas material.

Pilihan artistik ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang cukup tajam terhadap cara pandang modern. Kita hidup dalam budaya yang selalu ingin menyempurnakan segala sesuatu. Sesuatu yang retak dianggap rusak, yang berbeda dipandang cacat, dan yang tidak sesuai standar, segera disingkirkan.

Padahal alam tidak pernah bekerja dengan logika seperti itu. Tidak ada dua helai daun yang benar-benar sama. Juga, tidak ada dua batang pohon yang tumbuh dengan bentuk identik.

Bahkan, bebatuan di dasar sungai pun memiliki permukaan yang berbeda-beda. Alam selalu menghadirkan variasi, dan justru di sanalah letak keindahannya. Barik mengajak kita kembali belajar dari cara alam bekerja.

Sebagai penulis dan jurnalis yang pernah mengenyam studi Antropologi Budaya, saya selalu percaya bahwa benda tidak pernah benar-benar diam. Setiap benda membawa sejarahnya sendiri.

Sebilah keris memuat pengetahuan metalurgi, kepercayaan, sekaligus perjalanan sebuah kebudayaan. Gerabah menyimpan cerita tentang tanah, api, dan masyarakat yang menggunakannya. Demikian pula serat daun nanas dalam karya ini.

BACA JUGA: Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat; Menafsir Seni Kriya Inty Nahari (2)

Ia tidak hanya berasal dari tanaman, ia juga membawa jejak hujan, cahaya matahari, tanah vulkanik Kelud, musim yang berganti, tangan petani yang memanen, hingga tangan perupa yang mengolahnya menjadi tenunan. Serat itu adalah arsip ekologis yang masih hidup. Ia menyimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya hadir sebagai karya seni.

Oleh Inty Nahari, dijelaskan bahwa setiap perubahan warna pada serat merupakan bagian dari proses alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Perbedaan itu bukan kekurangan, melainkan identitas yang perlu dipertahankan. Pandangan tersebut menjadikan material bukan sekadar objek yang dibentuk, tetapi mitra yang ikut menentukan arah penciptaan.

Saya kira, di sinilah letak kekuatan Barik. Karya ini tidak berbicara tentang alam sebagai pemandangan yang indah, melainkan berbicara tentang alam sebagai subjek yang mempunyai suaranya sendiri.

Dalam banyak kebudayaan Nusantara, hubungan manusia dengan alam memang tidak pernah dipahami sebagai hubungan penguasaan. Orang Bali mengenal konsep Tri Hita Karana yang menempatkan harmoni dengan lingkungan sebagai salah satu dasar kehidupan.

Di berbagai daerah lain, masyarakat adat memiliki aturan mengenai hutan, mata air, atau gunung yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Semua itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Modernitas perlahan mengubah cara pandang tersebut. Hutan menjadi angka produksi, gunung menjadi cadangan tambang, sungai menjadi saluran industri, dan tanah menjadi komoditas. Dalam logika seperti itu, nilai alam ditentukan terutama oleh manfaat ekonominya.

Yang tidak menghasilkan keuntungan mudah kehilangan makna. Pilihan Inty Nahari menggunakan serat daun nanas menjadi penting dibaca dalam konteks tersebut.

Selama ini, daun nanas lebih sering dipandang sebagai sisa pertanian. Setelah buah dipanen, daunnya jarang memperoleh perhatian. Melalui Barik, material yang dianggap limbah justru memperoleh kehidupan baru. Ia berubah menjadi medium estetik sekaligus medium refleksi.

Transformasi ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan bahan baru. Kadang-kadang inovasi justru lahir dari kemampuan membaca kembali apa yang selama ini kita abaikan.

Di tangan seniman, limbah berubah menjadi pengetahuan; yang biasa menjadi luar biasa, dan yang nyaris dibuang menjadi sesuatu yang mengundang perenungan. Di sinilah seni bekerja. Bukan semata menghasilkan benda yang indah, melainkan membuka kemungkinan baru untuk membaca dunia.

Jika diperhatikan lebih lama, kekuatan Barik tidak hanya terletak pada pilihan materialnya, tetapi juga pada cara material itu disusun menjadi bahasa visual. Di sinilah karya Inty Nahari bergerak melampaui fungsi wastra sebagai benda pakai dan memasuki wilayah seni rupa.

Permukaan tenunan itu tidak mengejar komposisi yang simetris. Garis-garis serat bergerak dengan ritme yang berubah-ubah, kadang rapat, kadang renggang, seolah mengikuti cara alam menumbuhkan daun yang tidak pernah benar-benar lurus.

Warna-warna alaminya, dari krem pucat hingga cokelat yang lebih pekat, tidak membentuk gradasi yang dirancang secara matematis. Perbedaan itu lahir dari perjalanan material itu sendiri, yakni, dari cahaya matahari yang berbeda, kadar air yang berubah, proses pencucian, hingga waktu pengeringan.

Yang kita lihat bukan sekadar hasil akhir, melainkan jejak dari sebuah proses panjang.

Mata tidak diarahkan untuk mencari satu pusat perhatian sebagaimana pada lukisan yang mengandalkan titik fokus. Sebaliknya, pandangan bergerak perlahan menyusuri permukaan tenunan, mengikuti irama yang dibentuk oleh tekstur.

Ruang-ruang kosong yang muncul di sela-sela serat tidak terasa sebagai kekurangan komposisi. Ia justru menjadi jeda yang membuat keseluruhan karya memperoleh napas. Dalam pengertian ini, Barik lebih menyerupai lanskap yang terus berubah daripada selembar kain yang telah selesai dikerjakan.

Di titik inilah karya tersebut menemukan kualitas puitisnya. Kita tidak sedang melihat representasi Gunung Kelud atau hamparan kebun nanas. Lanskap itu tidak hadir sebagai gambar, ia hadir sebagai pengalaman material.

Cahaya, hujan, tanah vulkanik, panas matahari, dan waktu seolah mengendap menjadi tekstur. Yang ditampilkan bukan bentuk alam, melainkan bekas-bekas kehidupan yang ditinggalkan alam pada setiap helai serat.

Cara kerja seperti ini mengingatkan saya pada pandangan antropolog Tim Ingold tentang material. Menurutnya, proses membuat bukanlah tindakan memaksakan bentuk kepada bahan, melainkan mengikuti kecenderungan yang telah dimiliki material itu sendiri.

Perajin tidak sepenuhnya mengendalikan kayu, tanah, atau serat. Ia belajar memahami arah geraknya, lalu bekerja bersamanya. Pemikiran tersebut terasa menemukan pantulannya dalam Barik. Inty Nahari tidak memaksa serat daun nanas kehilangan wataknya. Ia justru memberi ruang agar karakter alami material ikut menentukan wajah karya.

Pendekatan semacam ini terasa penting pada masa ketika manusia semakin yakin mampu mengendalikan segala sesuatu. Kita membangun bendungan untuk mengatur sungai, merekayasa benih agar panen lebih cepat, dan mengubah bentang alam demi memenuhi kebutuhan industri.

Berbagai kemajuan itu memang membawa manfaat, tetapi juga melahirkan ilusi bahwa manusia adalah penguasa tunggal atas bumi.

Sejarah berkali-kali membuktikan bahwa keyakinan tersebut rapuh. Letusan gunung api, banjir, kekeringan, hingga perubahan iklim mengingatkan bahwa alam selalu memiliki hukumnya sendiri. Manusia dapat mengelola sebagian proses alam, tetapi tidak pernah benar-benar menguasainya.

Kesadaran akan keterbatasan itu justru terasa hadir dalam Barik. Karya ini tidak memuja alam secara romantis, tetapi juga tidak menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu.

Yang dibangun adalah hubungan yang lebih setara, hubungan yang lahir dari penghormatan terhadap karakter material dan kesediaan untuk mendengarkan apa yang disampaikan alam. (bersambung ke tulisan 2)

*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

Apa Komentar Anda?