Ada kalanya keindahan tumbuh dari bekas-bekas yang ditinggalkan waktu, dari tekstur yang tidak rata, dari warna yang berubah karena perjalanan panjang bersama alam.
oleh Angga Wijaya
TEMA besar pameran di ARMA Ubud, yakni Becoming, menemukan gaungnya dalam proses penciptaan Barik oleh Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya – IST
Menjadi, dalam pengertian tersebut, bukanlah bergerak menuju keadaan yang sempurna, melainkan menerima bahwa kehidupan selalu berada dalam perubahan.
Serat daun nanas tidak lahir sebagai karya seni. Ia tumbuh sebagai bagian dari tanaman, dipanen, dipisahkan dari daunnya, dicuci, dikeringkan, lalu ditenun. Setelah memasuki ruang pamer, ia kembali mengalami kehidupan baru melalui tatapan dan tafsir setiap pengunjung.
Dengan demikian, karya tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio. Ia terus hidup di dalam pengalaman orang yang membacanya. Setiap orang mungkin menemukan makna yang berbeda.
Ada yang melihat kegigihan tangan perajin, ada pula yang membaca kegelisahan ekologis. Juga, ada pula yang menemukan renungan tentang waktu dan kesabaran. Seluruh kemungkinan itu membuat Barik tetap bergerak. Ia terus menjadi, sebagaimana tema pameran yang menaunginya.
Pada akhirnya, saya melihat Barik bukan sebagai karya yang menawarkan jawaban atas krisis lingkungan, melainkan sebuah undangan untuk mengubah cara memandang dunia.
Perubahan besar tidak selalu lahir dari teknologi yang revolusioner atau kebijakan yang ambisius. Sering kali ia dimulai dari perubahan yang jauh lebih sederhana, yakni cara kita memperlakukan benda-benda yang selama ini dianggap biasa.
Di dalam Barik, serat daun nanas tidak lagi diposisikan sebagai sisa pertanian yang kehilangan fungsi. Ia menjadi medium yang mempertemukan tanah, tumbuhan, manusia, dan ingatan. Yang semula dipandang sebagai limbah memperoleh kehidupan baru melalui proses kreatif.
BACA JUGA:Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat; Menafsir Seni Kriya Inty Nahari (1)
Perubahan itu bukan sekadar perubahan fungsi material, melainkan juga perubahan cara berpikir. Seni, dalam pengertian ini, tidak menciptakan alam baru. Seni mengajari manusia melihat kembali alam yang telah lama berada di hadapannya, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.
Pembacaan seperti itu sekaligus mengembalikan martabat seni kriya. Selama bertahun-tahun, kriya sering ditempatkan sebagai wilayah keterampilan tangan, seolah-olah gagasan hanya menjadi milik seni rupa murni.
Padahal, karya seperti Barik memperlihatkan bahwa kriya dapat menjadi ruang penelitian material, ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi, sekaligus ruang untuk merumuskan kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.
Melalui tenun kluwung dan serat daun nanas, Inty Nahari menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia tetap hidup karena terus dibaca ulang dan dipertemukan dengan persoalan-persoalan zaman.
Perlunya Netiket di Ruang Digital
Di tengah industri tekstil yang mengejar keseragaman, Barik justru merayakan perbedaan. Setiap helai serat memiliki warna, tekstur, dan arah yang tidak sama. Tidak ada yang dipaksa menjadi identik. Sikap artistik itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang relevan bagi kehidupan yang lebih luas.
Kebudayaan pun sesungguhnya tumbuh melalui keragaman, bukan keseragaman. Identitas tidak lahir dari upaya menyeragamkan segala sesuatu, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.
Tema Becoming akhirnya menemukan maknanya bukan hanya pada proses penciptaan karya, tetapi juga pada pengalaman kita sebagai pembaca. Kita datang kepada sebuah karya dengan pengetahuan tertentu, lalu pulang dengan kemungkinan pemahaman yang baru.
Karya seni yang baik tidak berhenti pada kekaguman visual. Ia bekerja lebih lama di dalam pikiran, mengubah cara kita melihat benda-benda yang selama ini terasa biasa.
Sesudah membaca Barik, barangkali kita tidak lagi memandang sehelai kain dengan cara yang sama. Kita mulai menyadari bahwa setiap serat menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di permukaannya.
Ada tanah yang pernah dibasahi hujan, ada matahari yang mengeringkannya. Ada tangan yang sabar memisahkan serat demi serat. Juga, ada pengetahuan yang diwariskan tanpa banyak kata. Semua pengalaman itu tidak hilang ketika serat berubah menjadi tenunan. Ia tetap tinggal sebagai ingatan yang melekat pada material.
Barangkali itulah yang ingin diingatkan Inty Nahari melalui karya ini. Alam tidak pernah berhenti menulis kisahnya. Setiap pohon, setiap daun, setiap serat membawa catatan mengenai waktu yang telah dilaluinya. Persoalannya bukan apakah alam masih bercerita, melainkan apakah manusia masih memiliki kesediaan untuk mendengarkannya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Barik justru mengajarkan nilai yang semakin langka, yakni, kesabaran. Kesabaran untuk mengamati, kesabaran untuk menghargai proses, dan kesabaran untuk menerima bahwa tidak semua keindahan lahir dari sesuatu yang sempurna.
Ada kalanya keindahan tumbuh dari bekas-bekas yang ditinggalkan waktu, dari tekstur yang tidak rata, dari warna yang berubah karena perjalanan panjang bersama alam.
Pada akhirnya, mungkin Barik tidak sedang mengajarkan cara menenun. Karya ini mengajarkan cara membaca. Membaca tanah yang melekat pada serat, membaca waktu yang tinggal pada warna, dan membaca alam yang selama ini terlalu sering kita perlakukan sebagai latar belakang kehidupan.
Padahal, jauh sebelum manusia menciptakan kebudayaan, alamlah yang terlebih dahulu mengajarkan bagaimana kehidupan dapat ditenun, dengan pelan, tekun, dan penuh penghormatan. ***
BACA : Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat; Menafsir Seni Kriya Inty Nahari (1)
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.


