Dulu, kata revolusi membuat orang dipenjara, dibuang, bahkan kehilangan nyawa. Hari ini ia bisa menjadi sablon pada selembar kaos, slogan promosi, atau tagar yang menghilang di antara ribuan unggahan media sosial.
Oleh Angga Wijaya*
SORE itu saya mampir ke sebuah warung bakso dan soto ayam di Denpasar. Warungnya sederhana. Beberapa meja plastik berderet di bawah atap seng. Di sudut ruangan, kipas angin berputar pelan mengusir hawa panas. Seorang pengemudi ojek daring baru saja menyelesaikan makan siangnya. Dua mahasiswa bercakap sambil sesekali melirik telepon genggam mereka. Seorang ibu membungkus bakso untuk dibawa pulang. Tidak ada yang tampak istimewa.
Kecuali satu hal; penjual warung itu mengenakan kaos hitam dengan tulisan besar di dadanya: Revolution. Saya memesan semangkuk bakso. Namun sebelum suapan pertama, mata saya berkali-kali kembali pada satu kata itu; Revolution.
Aneh rasanya. Kata itu terasa begitu akrab, tetapi sekaligus asing. Akrab karena ia pernah memenuhi masa muda saya. Saya pernah menjumpainya dalam buku-buku sejarah, teori politik, dan sastra. Kata itu pernah terdengar lantang di ruang-ruang diskusi kampus, di warung kopi yang dipenuhi mahasiswa dengan cita-cita mengubah dunia, juga di halaman-halaman puisi yang percaya bahwa kata-kata dapat menggoyang kenyataan.
Kini, kata yang sama saya temukan di sebuah kaos yang dikenakan penjual bakso. Saya tidak tahu apakah ia menyadari makna tulisan itu. Mungkin kaos itu dibeli karena murah, mungkin hadiah dari seseorang, atau ungkin hanya karena desainnya menarik. Saya juga tidak bertanya. Ia tetap sibuk menyendok kuah, merebus bakso, menerima pembayaran, lalu melayani pembeli berikutnya. Sementara saya justru larut memikirkan satu yang mungkin bahkan tidak sedang ia pikirkan.
Barangkali begitulah nasib kata-kata. Ia lahir dari sebuah zaman, diperebutkan oleh banyak orang, lalu perlahan berpindah ke ruang-ruang yang sama sekali berbeda. Dulu, kata revolusi membuat orang dipenjara, dibuang, bahkan kehilangan nyawa. Hari ini ia bisa menjadi sablon pada selembar kaos, slogan promosi, atau tagar yang menghilang di antara ribuan unggahan media sosial.
Saya mengulanginya dalam hati. Revolution. Selama beberapa menit saya hanya memandangi tulisan itu, sementara bakso di depan saya mulai kehilangan uap panasnya.
Entah sejak kapan saya mulai tertarik pada nasib kata-kata. Mungkin sejak menjadi mahasiswa antropologi, ketika saya belajar bahwa manusia hidup bukan hanya di antara benda-benda, melainkan juga di antara simbol-simbol. Kata bukan sekadar bunyi. Ia membawa sejarah, ingatan, harapan, bahkan luka. Cara sebuah masyarakat memperlakukan kata sering kali memperlihatkan bagaimana masyarakat itu memandang dirinya sendiri.
BACA JUGA:Tak Ada Revolusi Hari Ini, Yang Ada Hanya Narsisisme (2)
Barangkali karena itulah saya tidak bisa menganggap tulisan di kaos itu sebagai hiasan belaka. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Apa sebenarnya arti revolusi hari ini?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun jawabannya tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan. Ada masa ketika revolusi dipahami sebagai keberanian mengubah dunia. Ia lahir dari keyakinan bahwa sejarah dapat dibelokkan oleh tindakan manusia. Revolusi bukan sekadar pergantian penguasa. Ia adalah harapan bahwa kehidupan bisa menjadi lebih adil daripada sebelumnya.
Saya tumbuh ketika kata itu masih sering terdengar dalam diskusi, buku, maupun pidato. Kami membaca kisah-kisah tentang orang-orang yang mempertaruhkan hidup demi sebuah cita-cita. Kami percaya bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin diperjuangkan, meskipun tidak mudah dicapai.
Hari ini saya tidak lagi seantusias itu. Bukan karena saya berhenti percaya pada perubahan, melainkan karena saya mulai menyadari bahwa perubahan tidak selalu hadir melalui slogan-slogan besar.
Semakin bertambah usia, saya justru semakin sering menemukan pelajaran hidup di tempat-tempat yang tidak pernah saya duga, misalnya di ruang tunggu rumah sakit, di perjalanan pulang ke kampung, di ruang pamer seni, dalam percakapan singkat dengan orang asing, atau seperti sore itu, di sebuah warung bakso yang nyaris saya lewati begitu saja.
Mungkin usia memang mengubah cara seseorang memandang dunia. Dua puluh tahun lalu, barangkali saya akan melihat tulisan Revolution itu sebagai ajakan. Hari ini saya melihatnya sebagai pertanyaan.
Bukan pertanyaan tentang negara, bukan pula tentang siapa yang sedang berkuasa. Melainkan pertanyaan yang jauh lebih dekat; apa yang sebenarnya telah berubah dalam diri kita ketika sebuah kata yang dahulu begitu mengguncang kini terasa biasa saja?
Saya belum menemukan jawabannya. Tetapi saya merasa, sore itu, semangkuk bakso dan sebuah kaos hitam telah membuka percakapan yang jauh lebih panjang daripada yang saya bayangkan.
Ada satu hal yang belakangan sering saya pikirkan. Mungkin yang berubah bukan hanya cara kita menggunakan kata revolusi, melainkan juga cara kita membayangkan perubahan itu sendiri.
Sejak lama masyarakat kita hidup dengan imajinasi tentang hadirnya seorang penyelamat. Dalam tradisi Jawa dikenal sosok Ratu Adil, figur yang dipercaya akan datang membawa keadilan dan kemakmuran. Mitos itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah sesuai zamannya.
Setiap kali muncul pemimpin baru, harapan lama itu seperti lahir kembali. Kita menaruh begitu banyak ekspektasi pada satu orang, seolah seluruh persoalan bangsa dapat diselesaikan oleh seorang tokoh. Kita berharap ia mampu memperbaiki ekonomi, memberantas korupsi, menegakkan hukum, mengurangi kemiskinan, dan memulihkan kepercayaan masyarakat.
Harapan tentu bukan sesuatu yang keliru. Tanpa harapan, sebuah masyarakat akan kehilangan tenaga untuk bergerak. Namun harapan juga memiliki sisi lain. Ia sering membuat kita lupa bahwa perubahan hampir tidak pernah lahir dari satu orang saja.
Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kita segera berbalik arah. Tokoh yang kemarin dielu-elukan berubah menjadi sasaran kemarahan. Pujian berganti caci maki. Kekaguman berubah menjadi kekecewaan. Semua berlangsung begitu cepat, seolah-olah tidak pernah ada jarak antara mencintai dan membenci.
Saya sering bertanya, apakah yang berubah memang para pemimpinnya, atau justru cara kita memperlakukan mereka? Media sosial mempercepat perubahan itu. Di ruang digital, seseorang dapat dipuja pada pagi hari, lalu dihancurkan pada malam harinya.
Kita menyaksikan reputasi dibangun dan diruntuhkan dalam hitungan jam. Tidak selalu karena fakta baru ditemukan, tetapi sering kali karena perhatian publik telah berpindah ke arah yang lain.
Algoritma tidak mengenal kesetiaan. Ia hanya mengenal perhatian. Yang paling banyak dibicarakan akan terus muncul. Yang mulai dilupakan perlahan menghilang. Dalam ritme seperti itu, setiap orang terdorong untuk terus berbicara agar tidak tenggelam.
Saya tidak sedang menyalahkan media sosial. Saya sendiri hidup di dalamnya. Sebagai penulis, saya membagikan tulisan melalui ruang yang sama. Saya membaca berita dari sana, berkomunikasi dengan teman-teman, bahkan menemukan banyak informasi yang berguna.
Persoalannya bukan medianya, persoalannya adalah logika yang pelan-pelan kita serap tanpa sadar. Logika yang menghargai kecepatan lebih daripada kedalaman, logika yang mendorong reaksi lebih daripada perenungan, dan logika yang memberi ganjaran kepada mereka yang paling ramai, bukan selalu kepada mereka yang paling jernih.
(bersambung tulisan ke-2)
*) Angga Wijaya adalah penulis, jurnalis, dan penyair yang menetap di Denpasar, Bali. Ia telah menerbitkan 20 buku yang meliputi puisi, esai, dan kumpulan artikel. Tulisannya banyak mengangkat tema kebudayaan Bali, kesehatan mental, masyarakat, serta perubahan sosial, dan dipublikasikan di berbagai media, antara lain Tatkala.co, Kanalbali.id, Podiumnews.com, dan Bicarabalinews.com.


