Memanen Energi Matahari di Nusa Penida

Sumber : Paparan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali, di Sollar Sumit 2026.  
Sumber : Paparan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali, di Sollar Sumit 2026.  

DENPASAR, kanalbali.id  – Pada medio Juli 2026 lalu, Bali menjadi tuan rumah pertemuan internasional Indonesia Sollar Summit 2026. Pertemuan yang fokus membicarakan masa depan bumi melalui energi terbarukan.

Mulai dari bicara target 100 MW, praktik baik hingga bicara peran-peran daerah soal komitmen mewujudkan Net Zero Emission (NZE) 2060.

Gubernur Bali I Wayan Koster pun “ajum” (pamer) yakin mampu mewujudkan NZE lebih cepat dari target nasionl di 2045. Tak hanya itu, 2030 itu Nusa Penida, pulau yang masuk wilayah Kabupaten Klungkung, Koster taregetkan mandiri energi. Dari mana? Ya, dari menampung matahari alias pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

 “Nusa Penida menjadi salah satu program strategis yang menonjol sebagai percontohan Green Island dengan target 100 persen energi terbarukan pada 2030,” katanya.

Program ini juga diarahkan untuk mendorong seluruh mobilitas di kawasan tersebut menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai dan kami akan menjadikan Nusa Penida sebagai kawasan rendah emisi dan rendah karbon

Sejak dideklarasikan pada Agustus 2023, Pemerintah Provinsi Bali menyusun dan melaksanakan strategi untuk mengejar target Bali NZE 2045. Teramasuk pembuktian Nusa Penida dengan 100 persen energi terbarukan di 2030.

 Perjalanan realisasinya pemerintah Bali menggandeng mitra non-pemerintah yang tergabung dalam Koalisi Bali Emisi Nol Bersih. Koalisi ini terdiri dari Institute for Essential Services Reform (IESR), WRI Indonesia, New Energy Nexus Indonesia, dan CAST Foundation.

 Ada tiga alasan pokok yang menyebabkan Nusa Penida dipilih sebagai pulau dengan 100 persen energi terbarukan. Yaitu ketersediaan potensi energi terbarukan yang melimpah, letak geografis yang terpisah dari Bali daratan dan potensi ekonomi dari pengembangan pariwisata hijau (green tourism).

 Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR mengungkapkan peluang besar Nusa Penida untuk menjadi pulau percontohan berbasis energi terbarukan. Bisa jadi, kedepannya menjadi pemasok kebutuhan energi di Pulau Bali.

 “Perwujudan target 2030 di Nusa Penida dapat n menjadikan magnet yang menarik lebih banyak pengunjung atau wisatawan ke Nusa Penida. Maka, harapannya dapat berdampak pada peningkatan ekonomi daerah,” kata Febby, tahun lalu saat Media Gathering “100 Persen Energi Terbarukan di Nusa Penida”, 2024 lalu.

Berdasarkan studi IESR untuk Nusa Penida, jika pembangkit energi terbarukan ditingkatkan maka biaya produksi tenaga listrik lebih murah dibandingkan menggunakan pembangkit listrik diesel. Konsumsi bahan bakar saat ini saja untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) biaya produksi listriknya bisa mencapai Rp 4,5 ribu/kWh.

Dengan 100 persen energi terbarukan, maka biaya produksi listriknya bisa turun 30-40 persen. Dan paparan 2024 itu, diupayakan betul oleh IESR konsistensinya.

Berdasarkan analisis IESR dan Center of Excellence Community Based Renewable Energy (CORE) Udayana, potensi energi terbarukan di Nusa Penida mencapai lebih dari 3.219 MW yang terdiri dari 3.200 MW PLTS ground-mounted, 11 MW PLTS atap, 8 MW biomassa, belum termasuk potensi energi angin, arus laut, dan biodiesel.

Lalu, untuk mengatasi sifat variable renewable energy yang tersedia pada waktu-waktu tertentu dan dipengaruhi kondisi cuaca, Nusa Penida memiliki potensi penyimpanan daya hidro terpompa (PHES) hingga 22,7 MW. Selain itu, analisis ini juga memasukkan kebutuhan sistem penyimpanan energi dalam bentuk baterai (BESS).

Hasil pemodelan IESR menunjukkan untuk mencapai 100 persen energi terbarukan di Nusa Penida pada tahun 2030, sumber energi dominan yang menjadi tumpuan adalah PLTS. Memiliki teknologi yang semakin murah dan sumber yang melimpah.

Sumber : Paparan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali, di Sollar Sumit 2026. 
Sumber : Paparan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali, di Sollar Sumit 2026.

Dalam Peta Jalan Nusa Penida 100% Energi Terbarukan dari IESR (Maret 2024), investasi (CAPEX) yang dibutuhkan untuk mengimplementasi sistem 100% ET Optimal di tahun 2030 ini mencapai US$ 291 juta atau Rp 4,56 triliun; dengan harga pembangkitan listrik mencapai US$ 44,6 sen/kWh (Rp 7.003,37/kWh).

Kebutuhan investasi dan biaya pembangkitan yang tinggi ini disebabkan oleh kebutuhan kapasitas BESS yang besar untuk dapat melakukan load-shifting dari malam hari ke siang hari, sedangkan biaya teknologi baterai LFP saat ini masih cukup tinggi.

 Alvin Putra Sisdwinugraha, Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR, mengungkapkan bahwa sistem ketenagalistrikan Nusa Penida 100 persen energi terbarukan secara teknis memungkinkan dan mampu mencapai biaya pembangkitan yang lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan pembangkit diesel. Saat ini, peta jalan sedang dalam tahap finalisasi setelah mendapatkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder).

 “Tahap pertama dalam mencapai 100% energi terbarukan di tahun 2030 adalah mencapai diesel daytime-off system, yang memaksimalkan pemanfaatan sistem PLTS dan BESS di siang hari,” jelas Alvin

 “Secara bersamaan perlu juga didorong untuk kajian lebih lanjut terkait sumber energi lainnya, seperti produksi biomassa, biodiesel, arus laut dan bayu. Sehingga potensi-potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencapai pengakhiran penggunaan diesel (diesel phase-out) di 2030.” tutup Alvin.

 Bagaimana pun Nusa Penida pernah kecewa. Sembilan kincir angin sebagai sumber pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) di 2007, yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkapasitas 735 kilowatt, hanya omon-omin tertiup angin dan akhirnya rusak tak bergerak, menghasilkan proyek fosil.

 Jadi, yuk, kita bersama-sama menghitung mundur 4 tahun atau 1.400-an hari menuju Nusa Penida sukses memberi contoh baik di 2030. Bagaimana ambisi menampung matahari itu apakah mampu menyinari rumah-rumah warga tanpa jeda… Sedangkan, Koster (sepertinya) bukan lagi gubernur ketika itu. (KanalBali.id/AYS)

Apa Komentar Anda?