Yang Tinggal Setelah Pujungan

Angga Wijaya (kanan) bersama Mpu Jaya Prema Ananda - IST
Angga Wijaya (kanan) bersama Mpu Jaya Prema Ananda - IST

Pengalaman jurnalistik itu membuatnya terbiasa melihat masyarakat dari berbagai sisi, termasuk melihat perubahan yang berlangsung di kampung halamannya sendiri.

Oleh: Angga Wijaya*

 HAWA dingin merasuk ketika saya dan kakak saya tiba di Pasraman Manikgeni di Pujungan, Tabanan. Waktu itu sekitar 2004. Saya masih mahasiswa Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Bersama kakak kandung saya, I Made Indah Gunawan Saputra, yang biasa saya panggil Dede, saya sedang senang berkeliling Bali dengan sepeda motor.

Kami mengunjungi sejumlah pura dalam perjalanan itu. Pujungan menjadi salah satu persinggahan ketika hari mulai sore. Kami tidak berencana tinggal lama karena harus kembali ke Denpasar. Di pasraman itu, kami disambut hangat oleh Putu Setia, wartawan dan penulis asal Bali yang kelak menjalani kehidupan sebagai sulinggih dengan nama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda.

Saya belum banyak mengetahui perjalanan hidupnya. Bagi saya waktu itu, Putu Setia adalah seorang wartawan yang namanya sudah saya kenal. Ia kemudian menunjukkan perpustakaannya. Buku-buku agama bercampur dengan buku sastra Indonesia. Salah satu nama yang saya ingat adalah Goenawan Mohamad.

Koleksi itu dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Sebagian dibeli dengan menyisihkan penghasilan ketika bekerja sebagai wartawan. Setelah menjalani kehidupan sebagai sulinggih, kebiasaan membeli buku juga tidak berhenti. Saya melihat rak-rak itu seperti menyimpan perjalanan panjang seseorang yang hidupnya dekat dengan kata-kata.

Saya tidak lagi mengingat semua judul buku yang sempat saya lihat sore itu. Percakapan kami pun sudah banyak hilang dari ingatan. Namun suasana ruang dengan rak-rak buku tersebut masih tersisa. Mungkin karena buku memang memiliki cara sendiri untuk tinggal dalam ingatan seseorang.

Beberapa tahun setelah kunjungan pertama itu, saya membaca Menggugat Bali karya Putu Setia. Buku tersebut pertama kali terbit pada 1986, jauh sebelum saya mengenal penulisnya melalui bacaan. Ketika membacanya, saya seperti bertemu kembali dengan lelaki yang pernah saya jumpai di Pujungan, kali ini melalui cara ia melihat dan menulis tentang Bali.

Salah satu tulisan yang paling melekat bagi saya berjudul “Good Night, Ibu Gedong….” Tulisan itu berkisah tentang Ibu Gedong Bagoes Oka dan ashramnya di Candidasa, Karangasem. Saya menyukai cara Putu Setia menulis kisah tersebut. Tulisannya mengalir, jernih, dan tidak terasa sedang menggurui pembaca.

Saya menyukai tulisan yang memberi ruang kepada pembacanya untuk berpikir sendiri. Putu Setia memiliki kemampuan itu. Ia tidak perlu terlalu banyak menjelaskan agar sebuah kisah menjadi berarti. Pengamatan, detail, dan cara bertuturnya sudah cukup membawa pembaca masuk ke dalam persoalan.

Tulisan-tulisan lain dalam Menggugat Bali semakin memperlihatkan cara pandangnya terhadap Bali. Agama, adat, kesenian, sastra, pariwisata, dan perubahan sosial hadir sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak. Bali tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang selalu indah dan harus dipuji.

Mungkin itu yang membuat buku tersebut terasa dekat bagi saya. Putu Setia menulis Bali sebagai tempat yang dicintai sekaligus perlu dipertanyakan. Ia mengenal Bali dari dalam, tetapi pengalaman hidup yang panjang di Jakarta memberinya jarak untuk melihat pulau ini dengan cara yang berbeda.

Putu Setia merupakan bagian dari generasi Bali yang sejak muda merantau ke Jakarta dan menekuni dunia jurnalistik. Ia kemudian menjalani perjalanan panjang di TEMPO, menulis berita, feature, esai, dan buku. Pengalaman jurnalistik itu membuatnya terbiasa melihat masyarakat dari berbagai sisi, termasuk melihat perubahan yang berlangsung di kampung halamannya sendiri.

Saya kira pengalaman merantau sering membuat seseorang mengenali rumah dengan cara berbeda. Ketika berada jauh, sesuatu yang dulu terasa biasa bisa tiba-tiba terlihat penting. Ketika pulang, kita mungkin tidak lagi menemukan tempat yang sama. Bali berubah, orang-orang berubah, dan kita sendiri juga berubah.

Hampir satu dekade setelah saya mengenal Menggugat Bali, pada 2013, Putu Setia menerbitkan Wartawan Jadi Pendeta. Buku otobiografi itu merekam perjalanan hidupnya dari masa kecil, dunia jurnalistik, hingga jalan spiritual yang membawanya menjadi sulinggih. Dalam perjalanan tersebut, nama Putu Setia berubah menjadi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda.

Buku itu memberi konteks lain bagi sosok yang pernah saya temui di Pujungan. Saya mulai melihat bahwa menjadi sulinggih bukan sebuah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang telah dilalui sebelumnya. Dunia jurnalistik, pengalaman merantau, kegemaran membaca, dan perjalanan spiritual bertemu dalam diri yang sama.

Nama lama tersebut tidak sepenuhnya hilang. Putu Setia masih menulis. Tulisan-tulisannya tetap hadir melalui ruang jurnalistik yang telah menjadi bagian panjang dari kehidupannya. Jalan hidupnya berubah, tetapi kebiasaan melihat, membaca, dan menulis terus berjalan.

Barangkali manusia memang tidak pernah sepenuhnya meninggalkan dirinya yang lama. Kita hanya berpindah jalan dan menjalani peran yang berbeda. Pengalaman yang pernah dimiliki tetap ikut berjalan, meskipun bentuknya berubah.

Lebih dari dua puluh tahun setelah kunjungan pertama saya ke Manikgeni, pada September 2026, saya kembali bertemu dengan Mpu. Pertemuan itu tidak direncanakan. Mpu sedang berada di Denpasar untuk suatu keperluan. Setiap kali berada di Denpasar, ia biasanya mampir ke kedai Kubukopi milik sahabat sahabat saya, Rofiqi Hasan yang juga adalah kontributor di Media Tempo Group.

Saya kebetulan sedang berada di kedai ketika Mpu datang. Wajahnya telah berubah oleh usia. Ia sudah lanjut usia. Namun ketika mulai berbicara, saya seperti menemukan kembali lelaki yang pernah saya temui di Manikgeni. Cara bicaranya tetap penuh daya, kritis, cerdas, terbuka, tetapi juga hangat dan rendah hati.

Kami berbicara tentang berbagai hal. Salah satu yang cukup lama dibicarakan adalah kehidupan para lansia dan jaminan sosial bagi mereka, terutama sulinggih dan rohaniwan Hindu. Menurut Mpu, perhatian tersebut belum merata di seluruh Bali dan pelaksanaannya masih bergantung pada kebijakan pemerintah di masing-masing kabupaten dan kota.

Saya mendengarkannya sambil sesekali teringat pada Putu Setia yang saya kenal melalui tulisan. Di hadapan saya kini seorang sulinggih, tetapi cara melihat persoalan sosialnya masih terasa seperti seorang wartawan yang telah puluhan tahun mengamati kehidupan masyarakat.

Mpu masih seperti dulu. Kritis ketika melihat persoalan, tetapi tidak kehilangan keramahan ketika menyampaikannya. Usia tidak menghilangkan daya pikirnya. Ia masih memperhatikan kehidupan di sekitarnya, termasuk persoalan orang-orang yang mungkin tidak selalu mendapat ruang dalam pembicaraan publik.

Kemudian kami berbicara tentang buku. Saya teringat perpustakaan di Manikgeni yang pertama kali saya lihat lebih dari dua puluh tahun lalu. Mpu bercerita bahwa ia pernah memiliki keinginan membangun perpustakaan umum untuk warga di sekitar pasraman.

Rencana itu akhirnya tidak berlanjut. Ia melihat minat membaca anak-anak dan remaja di sekitarnya semakin menurun. Mendengar cerita tersebut, ingatan saya kembali kepada rak-rak buku yang pernah saya lihat ketika masih menjadi mahasiswa.

Buku-buku itu dikumpulkan dengan menyisihkan penghasilan seorang wartawan. Sebagian dibeli setelah ia menjadi sulinggih. Koleksi tersebut terus dirawat selama bertahun-tahun. Namun sebuah perpustakaan tidak hanya membutuhkan buku. Ia membutuhkan orang yang datang, duduk, membuka halaman, lalu bersedia tinggal lebih lama bersama sebuah bacaan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa anak-anak dan remaja sekarang tidak suka membaca. Persoalannya tentu lebih rumit. Dunia membaca telah berubah. Telepon genggam membuat informasi begitu mudah ditemukan, tetapi kemudahan memperoleh informasi belum tentu sama dengan kebiasaan membaca secara mendalam.

Kegelisahan Mpu tetap membuat saya berpikir. Seorang lelaki yang sepanjang hidupnya dekat dengan buku justru melihat kesulitan menemukan pembaca. Perpustakaan, pada akhirnya, bukan hanya persoalan ruangan dan rak. Ia membutuhkan lingkungan yang membuat seseorang ingin membuka buku dan kembali membacanya.

Ketika mengingat dua pertemuan itu, saya merasa waktu telah membawa kami ke tempat yang berbeda. Pada 2004, saya dan Dede datang ke Pujungan sebagai dua anak muda. Kami hanya ingin berkeliling Bali, mengunjungi pura, melihat tempat-tempat yang belum kami kenal, kemudian pulang ke Denpasar sebelum malam.

Saya belum menjadi wartawan. Saya belum menerbitkan buku. Saya belum mengetahui bagaimana panjangnya perjalanan menjadi penulis. Dua puluh dua tahun kemudian, saya duduk di hadapan Mpu sebagai wartawan dan penulis. Saya telah melewati perjalanan sendiri dengan segala kegembiraan, kesulitan, dan ketidakpastian yang menyertainya.

Mpu pun telah menempuh jalan yang lebih jauh. Putu Setia telah menjadi Mpu Jaya Prema. Wartawan itu menjadi sulinggih. Namun bagi saya, keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.

Saya mengenalnya melalui Menggugat Bali. Saya mengingat “Good Night, Ibu Gedong….” Saya membaca perjalanan hidupnya dalam Wartawan Jadi Pendeta. Jauh sebelum pertemuan kedua di kedai, tulisan-tulisan itu telah membuat saya mengenal sebagian kecil dari perjalanan hidupnya.

Kemudian saya bertemu lagi dengannya dalam kehidupan yang berbeda. Saya tidak tahu apakah Mpu masih mengingat dua anak muda yang datang ke pasramannya pada suatu sore pada 2004. Mungkin bagi beliau, kami hanyalah dua dari sekian banyak orang yang pernah singgah di Manikgeni. Bagi saya, sore itu menyimpan sesuatu yang baru saya pahami bertahun-tahun kemudian.

Saya masih mengingat hawa dingin Pujungan, perjalanan dengan sepeda motor bersama Dede, dan cara Mpu menyambut kami. Terutama rak-rak buku itu. Saat itu saya hanya melihatnya sebagai koleksi seorang wartawan. Belakangan, buku-buku tersebut seperti membuka jalan lain untuk mengenali pemiliknya.

Ketika kami berjumpa kembali di kedai Rofiqi, Mpu bercerita tentang rencana perpustakaan yang tak jadi dibangun. Saya membayangkan kembali ruang buku di Manikgeni, rak-rak yang pernah saya lihat ketika masih menjadi anak muda, dan buku-buku yang telah menemani perjalanan hidupnya.

Mpu kemudian berpamitan. Saya tidak tahu kapan akan berjumpa lagi dengannya. Mungkin di Denpasar, mungkin di Pujungan, atau barangkali tidak lagi. Tetapi sore itu, sebelum pulang, saya sempat membayangkan kembali perjalanan menuju Manikgeni dua puluh dua tahun silam.

Di sana, di udara dingin Pujungan, seorang wartawan pernah menunjukkan perpustakaannya kepada dua anak muda yang sedang berkeliling Bali. Saya baru menyadari sekarang, barangkali saat itu ia sedang menunjukkan lebih dari sekadar buku.

Sehat selalu, Mpu.

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan sekitar 20 buku berupa puisi dan esai. Karyanya banyak mengangkat sastra, kebudayaan Bali, kehidupan sehari-hari, ingatan, manusia, dan persoalan sosial.

 

Apa Komentar Anda?