Melalui Mitra Bali, Agung Alit memperjuangkan Fair Trade yang menguntungkan para pekerja maupun pengusahanya. Bersama istrinya Hani Wardani, sudah 32 tahun dia mewujudkan mimpi memberikan kehidupan yang layak, berkeadilan dan berkelanjutan
“Visi kami, praktek bisnis peduli perajin dan planet,” tegas Agung Alit, Selasa (24/2/2026). Ia bersyukur kepada Sang Hyang Widi, Mitra Bali bertahan dengan segala dinamikanya sejak berdiri 1993 lalu hingga Februari 2026 ini.
Bagimana keduanya mewujudkannya?. Resep awet berbisnis langgeng bersama perajin dan pelanggan, salah satu kuncinya ada di toliet.
Semua dapat diawali dengan kenyamanan bekerja, kebersihan hingga kesehatan dari sebuah ruangan toilet.
Ruang kerja, khususnya bengkel berkarya perajin itu harus memiliki ruang toilet yang bersih. Tak perlu mewah, tak perlu mahal. Intinya bersih, air ada, cukup sirkulasi udara. Sehat berbisnis itu dapat dimulai dari bersihnya sanitasi alias toilet di tempat kerjamu.
Bagi Agung Alit itu hal kecil tetapi utama dan serius. “Bagaimana mau menghasilkan karya kerajinan yang bagus jika sanitasinya berantakan, tidak nyaman, bahkan ada yang tidak punya. Sebenarnya sama saja ketika kita berada di rumah. Apakah bisa tanpa toilet?” katanya.
Menyoal sanitasi tempat kerja, berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Jurnal Laporan Akuntansi Terpadu, 4 Desember 2024. Penelitian itu mengenai “Kebersihan Toilet dan Pengaruhnya Terhada Pengelolaan Manajemen Perusahaan/Organisasi” oleh Erwin Idris, Ayaatullah, Tika OKtaria T, Harries Madiistriyantno dari Universitas Mitra Bangsa, hasilnya menang ada korelasinya.
Peneliti menemukan adanya hubungan positif antara kebersihan kamar mandi (toilet) dan pengelolaan manajemen perusahaan atau organisasi. Perusahaan yang menerapkan praktik pengelolaan yang lebih bisa dipasatikan memiliki kamar mandi yang lebih bersih dan pengguna yang lebih baik.
Toilet bersih dan terawat mencerminkan kualitas, citra serta reputasi perusahaan/organisasi tersebut.
Maka, Agung Alit tak segan membantu membangun toilet dengan jaminan para perajin bersedia merawat dan menjaga. Hingga tentunya, meminta perajin mau mengubah perilaku bekerjanya menjadi lebih sehat, bersih dan baik.
Dan ia pun menjaga tanggung jawab sebagai mitra perajin turut serta berkomitmen sama dan jujur. Ia bersama istri pantang menunda kewajiban pembayaran kepada para perajin. Jadi jangan heran jika salah satu pintu tempat kerja Mitra Bali, di Kabupaten Gianyar, tertera tulisan : Jangan lupa bayar tukang untuk hidupmu lebih tenang di dunia dan akhirat.

Soal keahlian, Mitra Bali memegang teguh kesetaraan gender. Semua sama, pembayaran sama, semua mendapatkan jaminan kesehatan, semua harus aman. Apalagi urusan kesejahteraan, perajin perempuan tetap mendapatkan harga yang sama sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.


Made Nusa, salah satu perajin yang bergabung dengan Mitra Bali mulai 2008. Ia dan teman perempuan lainnya sesama perajin senang menerima apresiasi yang setara dengan laki-laki, dari persoalan gaji hingga jaminan kesehatan. Mereka merasakan kehangatan seperti keluarga. (Sumber foto : website Mitra Bali)
Soal produk, asal usul dari hulu ke hilir bahannya harus jelas. Itulah fair trade.
Agung Alit tegas menuliskan dalam website Mitra Bali : “Sistem Verifikasi Legalitas Hasil Hutan (SVLK) menerbitkan sertifikat yang dikenal sebagai V-Legal, kami merupakan bagian dari sistem ini untuk mendukung minimalisasi dampak negatif yang disebabkan oleh industri kayu. Kita harus menyelamatkan hutan hujan tropis Indonesia, demi diri kita sendiri dan dunia”. Demi apa? Demi planet!

Ya, karena demi planet ini,maka Mitra Bali memutuskan untuk tak hanya urusan kayu menjadi kerajinan, Mitra Bali juga menanam pohon, seperti pohon sengon atau albasia (Falcataria moluccana). Penanamannya juga menggunakan model fair trading. Agung Alit berkerja sama dengan pemilik lahan dan menggunakan model bagi hasil yang beragam, misalnya 50 persen-50 persen.
Pelan-pelan selama 32 tahun ini, Mitra Bali turut mempraktikan fair trede ini dari hulu ke hilir. Hingga tahun 2026 ini, ratusan pohon sudah tertanam dan terawat.
Jauh sebelum itu, sebenarnya pilihan berbisnis secara fair trade menjadi pilihan Agung Alit salah satunya berawal dari keprihatinannya terhadap perkembangan pariwisata Bali yang sama sekali tidak menguntungkan perajin kerajinan. Padahal mereka bagian penting pula dalam perjalanan parirwisata itu. Keuntungan ekonomi banyak berhenti di toko oleh-oleh atau toko kerjinan (art shop).
Rantai industri pariwisata di Bali itu timpang. Pasar bebas yang ada, malah menjadi sebebas-bebasnya mengeruk keuntungan. Menurutnya, Bali bagai menjadi “tambang” pariwisata untuk para pemilik relasi kuasa hingga pemilik uang baik warga domestik maupun asing.
Ada kasus, menurut Agung Alit, perajin itu hanya mendapatkan beberapa mi instan sebagai bayaran, bukan rupiah seperti yang dijanjikan. Dan perajin-perajin ini merana dan miskin.
Mitra Bali merintis dan menjadi anggota fair trade dunia yang harus memenuhi 10 prinsip menurut World Fair Trade Organization. Yaitu, menciptakan peluang bagi produsen kecil, transparansi, praktik perdatangan adil, pembayaran layak, larangan pekerja anak, komitmen kesetaraan gender, kondisi kerja aman, pengembangan kapasitas, promosi fair trade, dan penghormatan lingkungan.
“Impian kita adalah untuk dapat memberikan penghidupn yang layak dan berkelanjutan. Semua jujur, kebersamaan, simpati dan empati,” ujar Agung Alit.
Mitra Bali, lanjutnya, selalu membayar uang muka 50 persen kepada perajin. Memastikan produknya benar-benar asli buatannya, menyiapkan pelatihan untuk barang berkualitas.

Hanya saja, tren itu semakin menentukan kekiniannya. Apalagi setelah pandemi Covid, pangsa pasar juga berubah dari orderan ekspor makin menurun. Tapi, ia tak menyerah. Saat ini, ia menekuni pasar domestik dan ternyata tak mengecewakan.
Hantaman pandemi Covid tak main-main. Hantaman pandemi Covid meruntuhkan sumber pundi-pundi Mitra Bali yang lebih 50 persen berasal dari ekspor. Karenanya, pasca pandemi, Agung Alit banting setir mengarah ke pangsa pasar domestik guna menopang tak runtuhnya rantai kehidupan perajin selama perjalanan bersama Mitra Bali.
Pangsa pasar berubah, ternyata, tren produk pun berubah-ubah. Misalnya, dua tahun lalu tren kerajinan berukuran kecil bisa berganti ke barang guna paka di tahun sekarangi. Tidak lagi banyak pemesanan untuk hiasan atau cindera mata. Barang guna pakai ini seperti mangkuk kayu, sendok garpu kayu, gelas kayu.
Tapi kami tetap optimis. Karena, lanjut Agung Alit, Mitra Bali jujur, transparan, bayar pajak, bersertifikat SLVK, sehat, aman. Intinya menjalankan 10 prinsip fair trade.

Yang penting, bagi Agung Alit, Mitra Bali tetap konsisten dan keberlanjutan hingga bisnis berkeadilan selamanya ada. “Lagi-lagi, jangan lupa bayar tukang untuk dunia dan akhirat. Pantang makan rejeki orang. Astungkara, bisnis kami berkelanjutan. Demi peduli perajin dan planet ini…,” kata Agung Alit, tanpa basa-basi. (KanalBali.id/Ayu Sulistyowati)


