BADUNG, kanalbali.id – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyelenggarakan Indonesia Rendezvous, forum tahunan industri asuransi dan reasuransi yang pada tahun ini memasuki tonggak penyelenggaraan ke-30 dan digelar di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (14/10).
Dalam kegiatan ini, AAUI berencana membentuk asuransi pariwisata khusus bersama asosiasi asuransi di tingkat kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Langkah strategis ini diambil untuk memberikan perlindungan maksimal bagi wisatawan antarnegara ASEAN yang melakukan perjalanan wisata, khususnya di destinasi unggulan seperti Bali.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, pembahasan mengenai perlindungan wisatawan ini menjadi salah satu agenda prioritas yang akan dirumuskan bersama dalam forum ASEAN Insurance Council yang dijadwalkan berlangsung di Bali.
“Sesama negara ASEAN tentunya menginginkan adanya satu perlindungan terhadap warga negaranya yang melakukan kunjungan wisata ke negara-negara sesama ASEAN,” kata Budi, Rabu (14/10) sore.
Menimbang Media Sosial: Outlet atau Toilet?
Ia menerangkan, skema asuransi pariwisata ini menyasar jenis perlindungan kecelakaan diri atau personal accident serta penanganan situasi darurat selama wisatawan berlibur. Dua poin utama jaminan yang sedang digodok mencakup jaminan perawatan kesehatan dan kecelakaan. Kemudian perlindungan biaya medis apabila wisatawan mengalami sakit atau kecelakaan saat menikmati wisata di negara tujuan.
Selain itu, AAUI juga membidik asuransi repatriasi atau pemulangan jenazah jika wisatawan meninggal dunia di negara tujuan. Langkah ini dipicu oleh sejumlah kasus kecelakaan wisatawan asing di kawasan wisata yang sempat terkendala tingginya biaya pemulangan jenazah akibat tidak memiliki proteksi asuransi yang memadai.
AAUI berencana terus melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan pihak pemerintah guna menjajaki peluang penerapan asuransi wajib atau mandatory insurance bagi wisatawan mancanegara sebelum memasuki wilayah Indonesia.
Hal tersebut, diharapkan adanya kepastian proteksi dan rasa aman bagi setiap pelancong, industri pariwisata di Indonesia, khususnya di Bali dapat terus tumbuh secara berkelanjutan sekaligus memperkuat iklim bisnis asuransi di tingkat regional.
Kemudian, penyelenggaraan ke-30 Indonesia Rendezvous menjadi momentum untuk memperkuat konektivitas
industri asuransi dan reasuransi Indonesia dengan pasar internasional.
“Partisipasi 873 peserta dari 22negara menunjukkan luasnya keterlibatan pemangku kepentingan dalam forum ini,” ujarnya.
Negara yang berpartisipasi meliputi Uni Emirat Arab, Australia, Bahrain, Belarus, Swiss, Tiongkok, Siprus, Jerman, Prancis, Britania Raya, Hong Kong, Indonesia, India, Korea Selatan, Mongolia, Malaysia,Nigeria, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat.
“Keterlibatan peserta dari berbagai kawasan tersebut membuka peluang untuk memperluas jejaring profesional, memperkuat pertukaran pengetahuan, serta mengembangkan kemitraan antaraperusahaan domestik dan mitra internasional,” ujarnya.
Budi juga menyampaikan, industri asuransi dan reasuransi saat ini menghadapi beragam tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi makro hingga meningkatnya risiko perubahan iklim, ancaman siber,serta potensi kemunculan kembali pandemi.
“Perkembangan tersebut menuntut pelaku industri untuk memperkuat pengelolaan risiko, mengevaluasi strategi bisnis, dan meningkatkan kesiapan dalam
menghadapi perubahan lingkungan usaha,” ujarnya.
Ia juga menyatakan, melalui tema,“Building Confidence, Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance & Reinsurance Landscape”, Indonesia Rendezvous 2026 menempatkan kepercayaan, pertumbuhan berkelanjutan, dan ketahanan sebagai landasan utama diskusi.
“Forum ini menjadi kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk membahas implikasi risiko global terhadap pengelolaan aset dan liabilitas, profitabilitas, serta pengembangan produk asuransi,” ujarnya. (kanalbali/KAd)


