“Banjir” Sepeda Motor Jadi Beban Emisi Bali, Capai 41 Persen

Perilaku kita masih “barbar” sebagai masyarakat. Di jalan, sopan santun sering hilang, seakan helm hanya formalitas dan lampu lalu lintas tak lebih dari hiasan kota.
Kepadatan pariwisata di wilayah Bali selatan menimbulkan sejumlah masalah, salah-satunya soal kemacetan - IST

DENPASAR, kanalbali.id –  Dominasi kendaraan pribadi dalam aktivitas mobilitas masyarakat menjadi salah satu persoalan serius dalam upaya Bali mengejar target emisi nol bersih. Tingginya penggunaan sepeda motor dan mobil membuat sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di Pulau Dewata, dengan kontribusi mencapai sekitar 41 persen pada 2024.

Transport Decarbonisation Project Lead WRI Indonesia, Haikal Zaldi, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan emisi Bali tidak bisa dilepaskan dari pola mobilitas masyarakat. Ketika kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama, tekanan terhadap lingkungan dan kualitas udara akan semakin besar.

“Besarnya porsi kendaraan pribadi menunjukkan bahwa pembenahan transportasi harus menjadi bagian penting dari strategi pengurangan emisi Bali. Peralihan menuju angkutan publik perlu dibuat semakin mudah, nyaman, dan menarik bagi masyarakat,” ujar Haikal dalam Workshop Pekan Iklim Kedua, Selasa (6/10).

Data yang dipaparkan WRI Indonesia menunjukkan jumlah kendaraan di Bali telah mencapai 5.227.554 unit pada 2024, jauh melampaui jumlah penduduk yang sekitar 4,6 juta jiwa. Jumlah kendaraan juga terus bertambah rata-rata sekitar 5 persen setiap tahun dalam satu dekade terakhir.

Dominasi tersebut terlihat dari pilihan moda perjalanan masyarakat. Sepeda motor menyumbang sekitar 62 persen, disusul mobil 33 persen. Sementara angkutan berat sekitar 3 persen dan angkutan umum hanya 1 persen. Kondisi ini menunjukkan sistem mobilitas Bali masih bertumpu pada kendaraan bermotor pribadi, ketika pilihan transportasi publik belum mampu menjadi alternatif utama masyarakat.

WRI Indonesia menilai perubahan pola mobilitas menjadi kunci untuk memangkas emisi transportasi. Penguatan angkutan umum perlu berjalan beriringan dengan penerapan Kawasan Rendah Emisi (KRE) atau Low Emission Zone (LEZ), sehingga masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang lebih rendah emisi.

“Transportasi umum itu diperlukan untuk menurunkan emisi sektor transportasi di Bali yang berkisar 40 persen,” tegas Haiqal

Di sisi lain, tantangan lainnya adalah masih terbatasnya cakupan angkutan umum di kawasan Sarbagita. Layanan seperti Trans Metro Dewata, Trans Sarbagita dan Shuttle Intaran disebut baru menjangkau sekitar 10 persen wilayah Sarbagita. Karena itu, WRI mendorong konsep Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) yang mengintegrasikan transportasi, tata ruang, serta keterlibatan pelaku usaha dan komunitas.

“Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menekan emisi, tetapi sekaligus mengubah ruang perkotaan agar lebih ramah bagi pejalan kaki, pesepeda dan pengguna transportasi publik,” tukasnya. (kanalbali/NAN)

Apa Komentar Anda?