Ketika Istri Membiayai Perjuangan Suami

Foto: Birmingham Museums Trust/Unsplash. Lukisan The Briar Rose Series - Study for ‘The Garden Court’, 1889, karya Sir Edward Burne-Jones. Watercolour, koleksi Birmingham Museum & Art Gallery.
Foto: Birmingham Museums Trust/Unsplash. Lukisan The Briar Rose Series - Study for ‘The Garden Court’, 1889, karya Sir Edward Burne-Jones. Watercolour, koleksi Birmingham Museum & Art Gallery.

Hidup sederhana demi mempertahankan idealisme merupakan pilihan yang sah. Namun, membiarkan pasangan menanggung seluruh akibat dari pilihan tersebut adalah persoalan yang berbeda. 

Oleh Angga Wijaya*

 SIANG tadi saya mendengarkan Sunset di Tanah Anarki milik Superman Is Dead. Ada sesuatu dari lagu itu yang membuat saya kembali memikirkan kata gerilya. Tentang kekasih yang saling merindukan, perjalanan yang tidak mudah, serta perjuangan yang membuat seseorang harus meninggalkan kenyamanan.

Namun, kali ini saya tidak ingin membicarakan gerilya dalam pengertian yang biasa. Saya ingin membicarakan bentuk gerilya yang berlangsung lebih sunyi, di dalam rumah, dilakukan oleh perempuan yang setiap hari memikirkan bagaimana keluarganya tetap hidup ketika penghasilan suaminya tidak banyak atau bahkan tidak menentu.

Kita bisa menemukannya dalam keluarga seniman, wartawan, pengarang, penyair, pekerja kebudayaan, buruh proyek, pekerja lepas, pedagang kecil, dan berbagai pekerja informal lainnya. Mereka menjalani pekerjaan dengan penghasilan yang kadang datang, kadang tersendat. Sebagian menunggu honor tulisan, sebagian menunggu lukisan terjual, sementara yang lain menanti pembayaran dari mandor.

Persoalannya, kebutuhan rumah tangga tidak mengenal masa tunggu. Beras harus dibeli, anak perlu biaya sekolah, listrik dan air mesti dibayar, kendaraan membutuhkan bahan bakar, sementara pulsa serta internet menjadi kebutuhan kerja. Ketika seseorang sakit, keluarga juga harus menyediakan uang untuk berobat.

Dalam keadaan semacam itu, seorang istri sering mengambil peran yang tidak tercatat dalam perjalanan karier suaminya. Ia bekerja, berjualan, menerima pekerjaan tambahan, atau mengatur pengeluaran supaya uang yang sedikit dapat bertahan hingga akhir bulan. Perannya mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sanalah kehidupan rumah tangga sering kali terus bergerak.

Ia mungkin tidak pernah menulis puisi atau menerbitkan buku. Namanya barangkali tidak tercetak pada sampul karya suaminya dan fotonya tidak muncul dalam pemberitaan. Namun, tanpa pekerjaan yang dilakukannya di rumah, karya itu mungkin tidak pernah selesai.

Ada lelaki yang merasa sedang memperjuangkan sesuatu melalui karya. Ia duduk berjam-jam di depan laptop, membaca buku, menulis catatan, membuat puisi, melukis, atau memikirkan gagasan tentang kehidupan. Itu bukan sesuatu yang keliru. Dunia memang membutuhkan orang-orang yang bersedia berpikir, mencipta, dan mempertahankan keyakinannya.

Persoalannya muncul ketika perjuangan tersebut berubah menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab kepada orang lain. Hidup sederhana demi mempertahankan idealisme merupakan pilihan yang sah. Namun, membiarkan pasangan menanggung seluruh akibat dari pilihan tersebut adalah persoalan yang berbeda.

Seorang seniman boleh hidup sederhana. Seorang penyair mungkin tidak terkenal dan seorang pengarang dapat berkali-kali mengalami penolakan penerbit. Kegagalan ekonomi tidak mengurangi nilai sebuah karya, tetapi kondisi tersebut juga tidak membebaskan seseorang dari kewajibannya terhadap keluarga.

Di Indonesia, seni pun belum selalu mampu menyediakan kehidupan yang layak bagi penciptanya. Banyak seniman bekerja dalam ekosistem yang rapuh. Karya dibuat dengan kesungguhan, tetapi hasilnya belum tentu mampu membayar kebutuhan sehari-hari. Buku selesai ditulis, puisi dimuat, lukisan dipamerkan, tetapi penghasilan yang datang sering tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan.

Kondisi itu semakin terasa ketika seorang seniman berhadapan dengan pasar yang tidak selalu adil. Seorang pelukis dapat menjual karya karena sedang membutuhkan uang, lalu melihat lukisannya berpindah tangan dengan harga berkali-kali lipat. Nilai ekonominya tumbuh setelah karya meninggalkan tangan penciptanya, sementara sang pelukis hanya memperoleh bagian yang kecil.

Di mana letak keadilannya? Kita sering memuji idealisme seniman, tetapi idealisme tidak dapat menggantikan kebutuhan hidup. Orang boleh percaya bahwa seni harus terbebas dari kepentingan ekonomi, tetapi tubuh yang menciptakan seni tetap membutuhkan makanan. Seorang penyair tetap perlu membayar listrik, seorang pelukis membutuhkan cat, dan seorang pengarang membutuhkan waktu untuk bekerja tanpa terus-menerus dihantui kebutuhan paling dasar.

Persoalan ini juga berkaitan dengan perlindungan sosial. Di Indonesia, perhatian kepada seniman sering terasa lebih besar ketika mereka telah meninggalkan dunia. Nama mereka kemudian dikenang, karya mereka dipamerkan, perjalanan hidupnya ditulis, dan kontribusinya kepada kebudayaan mulai dibicarakan. Ketika masih hidup, sebagian justru berhadapan dengan persoalan yang sangat sederhana seperti biaya berobat, tempat tinggal, atau uang sekolah anak.

Di balik kehidupan semacam itu, sering terdapat seorang perempuan yang ikut menanggung beban. Ia mungkin bekerja di luar rumah, menjalankan usaha kecil, menerima pekerjaan tambahan, atau menjadi orang yang paling pandai mengatur uang belanja. Perjuangannya jarang disebut karena pekerjaan domestik sering dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya dilakukan.

Padahal, dari sanalah seorang lelaki mendapatkan ruang untuk terus berkarya. Saya membayangkan seorang perempuan yang bangun lebih pagi karena harus bekerja, sementara suaminya masih tidur setelah semalaman menulis. Ketika honor belum juga datang, ia menghitung kembali uang yang tersisa. Ia mungkin mengurangi kebutuhannya sendiri supaya anak tetap mendapatkan apa yang diperlukan.

Perempuan semacam ini mungkin memiliki cita-cita yang pernah ditunda. Ia bisa saja mempunyai pekerjaan, kegemaran, atau kehidupan yang ingin dijalaninya dengan cara berbeda. Namun, ketika keadaan keluarga menuntutnya mengambil bagian lebih besar, banyak keinginan pribadi akhirnya disimpan di tempat yang tidak terlihat.

Pengorbanan seperti itu sering berlangsung begitu lama hingga dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, seseorang dapat terbiasa menanggung beban tanpa pernah benar-benar berhenti merasa lelah. Diam bukan selalu tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Kadang, diam adalah cara seseorang menjaga rumahnya agar tidak semakin gaduh.

Karena itu, saya merasa kita perlu berhati-hati ketika memuja seorang lelaki karena kegigihannya berkarya. Kita sering melihat buku yang selesai, lukisan yang dipamerkan, atau puisi yang dibacakan di panggung. Di belakang semua itu mungkin terdapat kehidupan domestik yang memungkinkan karya tersebut lahir.

Jangan hanya melihat seorang penyair dari puisinya. Lihat pula kehidupan yang membuatnya bisa terus menulis. Jangan hanya mengagumi lukisan di dinding galeri. Ingat bahwa sebelum sampai ke sana, ada seseorang yang mungkin memastikan dapur di rumah tetap mengepul.

Hal ini menjadi semakin ironis ketika seorang lelaki begitu rajin mengkritik ketidakadilan di luar rumah, tetapi tidak menyadari ketidakadilan yang mungkin berlangsung di dalam rumahnya sendiri. Ia berbicara tentang negara, masyarakat, kapitalisme, kemiskinan, dan nasib rakyat, sementara pasangan hidupnya diam-diam menanggung sebagian besar kebutuhan keluarga.

Media sosial membuat keadaan tersebut semakin mudah terlihat. Seseorang dapat menghabiskan berjam-jam di depan telepon genggam, menulis kemarahan tentang berbagai persoalan bangsa, berdebat dengan orang yang tidak dikenalnya, lalu merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Persoalan paling dekat dengan dirinya mungkin justru belum pernah diselesaikan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kritik sosial tidak penting. Justru sebaliknya, kritik diperlukan. Namun, keberanian berbicara tentang dunia seharusnya berjalan bersama kesediaan mengurus kehidupan yang berada paling dekat dengan kita. Perubahan yang besar kehilangan maknanya ketika tanggung jawab kecil di rumah terus dibebankan kepada orang lain.

Barangkali kita perlu membedakan antara perjuangan dan pelarian. Perjuangan menuntut keberanian menghadapi kenyataan, sedangkan pelarian sering menggunakan sebuah cita-cita sebagai tempat bersembunyi dari kewajiban. Keduanya dapat terlihat serupa dari luar, terutama ketika seseorang pandai menjelaskan alasan atas pilihan hidupnya.

Dalam rumah tangga, ukuran perjuangan akhirnya menjadi lebih sederhana. Siapa yang memastikan anak tetap sekolah? Siapa yang memikirkan uang ketika pendapatan belum masuk? Siapa yang mencari jalan keluar ketika kebutuhan datang bersamaan? Pertanyaan semacam itu sering membawa kita kepada orang yang selama ini berdiri sedikit di belakang.

Ia adalah perempuan yang mungkin tidak memahami seluruh dunia yang sedang dikejar suaminya. Ia barangkali tidak membaca buku-buku yang memenuhi meja kerja, tidak mengerti mengapa sebuah lukisan membutuhkan waktu berbulan-bulan, dan tidak mengikuti perdebatan tentang estetika atau kebudayaan.

Namun, ia memahami sesuatu yang sangat mendasar. Keluarga harus tetap hidup. Mungkin karena itu saya memikirkan kembali Sunset di Tanah Anarki siang tadi. Lagu tentang gerilya dan kerinduan itu membawa saya kepada sebuah bentuk perjuangan yang tidak pernah masuk ke dalam lagu. Perjuangan itu berlangsung di dapur, kamar tidur, pasar, tempat kerja, sekolah anak, dan meja makan.

Tidak ada panggung yang disiapkan untuk perempuan semacam itu. Namanya jarang masuk ke dalam cerita tentang keberhasilan suaminya. Ketika sebuah buku terbit atau sebuah lukisan akhirnya terjual, perhatian biasanya tertuju kepada orang yang namanya tercetak sebagai pencipta.

Padahal, sebelum karya itu sampai kepada pembaca atau pembeli, mungkin ada seseorang yang telah lebih dahulu membayar ongkos perjalanan panjang tersebut.

Istri. Ia bukan sekadar pendamping seorang seniman, penyair, pengarang, buruh proyek, atau pekerja yang sedang berjuang. Dalam banyak keluarga, ia merupakan bagian dari tenaga yang membuat perjuangan itu bisa bertahan.

Mungkin suatu hari buku itu benar-benar terbit. Lukisan akhirnya menemukan pembeli. Honor tulisan masuk ke rekening. Nama sang suami mulai dikenal. Orang-orang kemudian mengagumi ketekunannya dan menyebutnya sebagai seseorang yang berhasil mempertahankan idealisme.

Tetapi di balik cerita itu, ada perempuan yang pernah memastikan keluarga mereka tetap berjalan ketika hasil perjuangan belum terlihat.

Ia mungkin tidak ikut menciptakan karya tersebut, tetapi ia ikut membiayai kemungkinan lahirnya karya itu. Dan mungkin sudah waktunya kita melihat perjuangan semacam itu dengan penghargaan yang sama. Sebab ada karya yang lahir dari tangan seorang seniman, tetapi bertahan karena tangan seorang perempuan yang diam-diam menjaga kehidupan di belakangnya. Barangkali itulah gerilya yang paling sunyi. ***

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan sekitar 21 buku berupa puisi dan esai. Karyanya banyak mengangkat sastra, kebudayaan Bali, kehidupan sehari-hari, ingatan, manusia, dan persoalan sosial.

 

Apa Komentar Anda?