Di sebuah sudut keramaian kota Denpasar, Bali, di dekat lapangan atau taman budaya, kadang tampak sosok pria memanggul ransel besar.
Bukan menjajakan produk komersial, ia menawarkan sesuatu yang semakin langka disentuh masyarakat yakni buku sastra.
Dialah I Wayan Suardika, sastrawan yang memilih jalan hidup tak biasa—menjual bukunya sendiri, dari tangan ke tangan.
“Buku itu harus proaktif, harus mendatangi masyarakat,” ujarnya tegas. Suardika sadar betul bahwa daya baca di Indonesia masih rendah.
Ia tak mau menunggu bukunya dibeli di toko. Ia turun langsung ke jalan. “Kalau mau hidup dari buku, pengarang harus berani menjual bukunya berkeliling,” katanya, pada Minggu (22/6/2025).
Langkahnya ini bukan tanpa risiko. Hasil penjualan mungkin belum sebanding dengan upaya, tapi Suardika tidak semata-mata mengejar laba.
“Yang pertama, saya ingin melatih mental. Berani tidak saya seperti sekarang ini, menjual buku dengan gaya jelata?” ucapnya. Ia menyebut kegiatannya ini sebagai semacam latihan eksistensi, sekaligus promosi literasi jalanan.
Ia kerap membawa ransel berisi buku ke tempat ramai. Di depan kantor imigrasi, kantor samsat, taman budaya, taman kota, bahkan sudut-sudut pasar. Ia sodorkan buku dan selebaran kecil. Kalau ditawar, ia siap lepas murah.
“Modal sudah balik. Misalkan harga buku Rp90.000, kalau ditawar Rp50.000, saya bisa pura-pura naikkan ke Rp80.000, lalu dilepas di Rp75.000,” jelasnya santai. Ia percaya, menjual buku adalah seni negosiasi—dan pembaca yang jujur perlu dirangkul, bukan dijauhi oleh harga.
Salah satu momen paling menyentuhnya adalah saat seorang remaja SMA jongkok di depannya, tertarik pada buku kumpulan cerpen I Kolok karyanya. “Pak, bisa tidak saya beli Rp20.000?” tanya remaja itu. Suardika langsung mengiyakan. “Sebenarnya saya ingin beri gratis. Tapi supaya ada usaha juga, saya lepas,” ungkap penulis novel Ni Meri, Orang Kalah, dan Orang Menang ini.

Berjualan Nasi Bungkus
Jiwa dagang Suardika memang bukan hasil instan. Ia lahir dari keluarga sederhana, bahkan sebelum masuk SD sudah menjual nasi bungkus. Ibunya yang penuh disiplin mengajarkannya untuk mandiri sejak dini.
“Jam empat subuh saya mulai berjualan, jam sembilan sudah habis. Lalu lanjut jual kerupuk, jual tum. Ibu saya tahu saya nakal, jadi disibukkan berdagang,” kisahnya.
Kedisiplinan itu menyelamatkan Suardika dari lingkungan keras masa kecilnya. Anak-anak di wilayahnya sering diadu berkelahi oleh orang dewasa, dan ia termasuk yang sering “dilepas” di arena. “Besar kecil harus berani,” katanya getir.
Ibunya bahkan meminta adik bungsunya—seorang ketua karate di Bali—untuk mendidik Suardika. Tapi sang paman enggan, dan Suardika akhirnya belajar karate diam-diam.
Meski sempat tinggal kelas dua kali, bukan karena bodoh, melainkan terlalu suka bermain, titik balik hidupnya datang di kelas 4 SD. Seorang guru bernama Ni Made Nadri menyadarkannya. “Anak ini sebenarnya bisa, tapi tidak terlalu hirau,” kata sang guru.
Kalimat itu memantik gairah belajarnya. Ia mulai mencatat rumus matematika, membaca buku sebelum diajarkan. Hasilnya, Suardika jadi juara kelas dan lolos ke SMP Negeri 1 Denpasar—sekolah impian banyak anak pada masanya.
“Saya naik sepeda berkarat, sementara anak-anak puri banyak yang tidak lolos,” kenangnya bangga. Di sekolah itulah ia berteman dengan anak-anak pejabat dan orang kaya. Namun, ia tak pernah merasa rendah diri. “Saya anak jelata, tapi tidak minder. Justru anak-anak orang kaya itu yang kayak tikus basah,” katanya sambil tertawa.

Wayan Suardika Tak Mau Menunggu Nasib
Wayan Suardika mulai menulis sejak SMP. Puisinya pertama kali dimuat di majalah nasional Mutiara pada 1986. Ia mendapat honor Rp7.500 untuk tiga puisi—jumlah besar di masa itu. Cerita bersambungnya “Lelaki Luar Pagar” di Bali Post bahkan menjadi buah bibir di Bali.
Ia juga pernah memenangkan lomba novel di Bali Post, meski menulis tanpa outline. Karyanya tentang dunia mode dipuji juri karena penguasaan materi. “Saya memang bergaul dengan perancang busana dan model. Saya tahu betul dunia mereka,” ujarnya. Pengetahuan itu ia sulam dalam narasi fiksi yang kuat.
Namun, Suardika tak puas hanya sebagai penulis. Ia juga pengamat dan kritikus. Ia menyayangkan dunia kritik sastra yang terlalu akademis dan menjauh dari pembaca. “Kenapa tidak pakai bahasa biasa? Kenapa harus pakai istilah seperti dekonstruksi dan kosmologi yang tidak semua orang paham?” kritiknya tajam.
Ia mengutip pengalaman membaca tulisan kritik sastra di majalah Tempo yang menggunakan bahasa sederhana tapi tetap indah. “Saya ingin seperti itu. Bahkan Plato pun kalau bisa bicara, mungkin marah. Kenapa zaman sekarang masih ngutip-ngutip terus? Berpikirlah sendiri,” tegasnya.
Hormat kepada Puisi
Meski produktif menulis prosa, Wayan Suardika tetap menaruh hormat besar pada puisi. Baginya, puisi adalah inti dari sastra. “Puisi itu kecil, padat, tapi punya daya ledak luar biasa. Seperti bom atom,” katanya. Namun justru karena beban itulah, ia mengaku jarang menulis puisi.
“Puisi harus membebankan perasaan yang tak mampu diucapkan oleh narasi besar. Itu luar biasa indah, tapi sangat berat,” jelas Suardika.
Sebagai penulis, Suardika memadukan antara ketekunan, kecerdasan, dan keberanian jalanan. Ia tahu bahwa sastra bukan sekadar seni di menara gading, melainkan sesuatu yang harus mendatangi pembaca—meski itu berarti berdiri di trotoar dan menawarkan buku dari dalam ransel.
“Saya berani diadu dengan siapa saja, dengan para sastrawan nasional. Karena saya paham tulis-menulis. Saya tidak asal bikin novel,” ucapnya penuh keyakinan.
I Wayan Suardika hari ini adalah sosok langka. Ia penulis yang tak menunggu pembaca, tapi mendatangi mereka. Ia tahu bahwa karya harus bekerja keras menyentuh hati masyarakat, dan itu hanya mungkin jika pengarang bersedia turun tangan—secara harfiah.
Ia menjual bukan hanya buku, tapi keberanian, idealisme, dan semangat literasi yang hidup. Di tengah zaman yang serba digital dan pasif, Suardika menunjukkan bahwa kata-kata tetap punya tempat, asalkan dibawa dengan niat dan keberanian.
Di antara suara kendaraan dan langkah kaki di kota, suara lembutnya masih terdengar: “Buku, Pak… Buku, Bu….” KanalBali/Angga Wijaya.


