Giri-Asa versus Kotak Kosong: Seperti Apa Sih Coblosannya?

Pasangan Calon Nyoman Giri Prasta - Ketut Suiasa saat mendaftar di KPU Badung, Bali - ACH

BAKAL Calon Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Badung I Nyoman Giri Prasta dan I Ketut Suiasa (Giri-Asa) sudah mendaftarkan diri ke KPU Badung pada Jumat (4/9). Paslon yang dibidani oleh PDIP itu tinggal menunggu waktu untuk ditetapkan sebagai calon tunggal yang akan berhadapan dengan kotak kosong.

Seperti dimafhumi, pasangan calon yang sebelumnya sempat muncul dari Koalisi Rakyat Badung Bangkit (KRBB), Diatmika-Muntra, sudah terjegal karena Golkar yang melahirkan koalisi itu pun telah berbalik mengalihkan dukungan kepada Giri-Asa.

“Syarat minimal paslon  khan harus 20 persen dari kursi DPRD yang ada atau harus ada 8 kursi kalau di Badung. Kalau mengacu dari penyerahan yang tadi yang mendaftar sudah ada 37 kursi, dan yang tersisa cuma 3 kursi, ” kata Ketua KPU Badung, I Wayan Semara Cipta, Jumat (4/9).

Ketua KPU Badung, Wayan Semara Cipta – ACH

Nah, proses yang berbeda dengan pilkada biasa alias tanpa kotak kosong, akan mulai kelihatan saat penetapan pasangan calon yang dijadwalkan pada tanggal 24 September 2020 nanti.  Sebab, proses pengundian nomor urut akan diganti menjadi pengundian posisi tempat dalam kartu suara.”Jadi yang diundi posisi paslon tunggal itu di kiri atau kanan,” kata Semara.

Kartu suara sendiri berisi dua kolom, dimana satu kolom berisi gambar pasangan calon, sedang satu kolom lagi adalah kolom kosong. “Dalam rekapitulasi, yang  mencoblos gambar paslon dianggap setuju, yang mencoblos kolom kosong berarti tidak setuju,” ujarnya.

Terkait dengan perolehan suara yang harus di dapat oleh calon tunggal, Semara menyampaikan seluruh mekanisme akan mengacu kepada Peraturan  KPU No 14 2015 dan perubahannya di  Peraturan KPU No 3 2018 tentang pemilihan dengan satu pasangan calon.

Desain kartu suara untuk Pilkada dengan kolom kosong – IST

“Kemenangan paslon tunggal itu mengacu dengan perolehan suara 50℅ + 1. Jadi ketika pasangan calon tidak mencapai perolehan suara lebih dari 50 ℅, maka dilakukan pemilihan ulang pada Pilkada serentak berikutnya,” tuturnya.  Adapun untuk kepemimpinan dalam pemerintahan, untuk menghindari kekosongan,  akan dijabat oleh Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Daerah yang ditunjuk Kementerian Dalam Negeri.

Terkait dengan situasi itu, Nyoman Giri Prasta sendiri mengaku sudah siap untuk melawan kotak kosong. Ia bahkan mematok target kemenangan hingga 90 persen. Pantauan kanalbali, sejauh ini belum ada kampanye yang serius untuk memenangkan kotak kosong, meski pun ungkapan kekecewaan sering dilontarkan pendukung Diatmika-Muntra di media sosial.

(kanalbali/ACH)