Jerinx Soal Bule Kerja Ilegal di Bali: Sudah Jadi Cerita Lama

Pemain drum Superman Is Dead (SID) I Gede Ari Astina alias Jerinx - IST

KUTA, kanalbali.id – Pemain drum Superman Is Dead (SID) I Gede Ari Astina alias Jerinx juga angkat bicara terkait ulah Warga Negara Asing (WNA) di Bali. Menurutnya, kalau ada WNA bekerja ilegal itu sudah sejak lama di tahun 2010 ketika wilayah Kuta, Bali, menjadi destinasi populer di dunia dan banyak didatangi para wisatawan sudah ada bule yang bekerja secara Ilegal.

“Saat lagi ramai-ramainya Kuta, disana sudah banyak bule-bule bekerja sebagai manajer bar, bahkan bukan manajer, juga ada kayak jadi karyawan bar biasa. Jadi bosnya orang Jakarta, stafnya bule, itu sudah biasa,” kata Jerinx, usai konferensi pers Singaraja Fest 2023 di Kuta, Bali, Jumat (12/5) sore.

“Ketika saya masih di Kuta, kan dulu masih ramai segala macam praktik-praktik orang asing mengambil pekerjaan orang lokal itu sudah terjadi. Namun, karena belum ada medsos seperti instagram dan lain-lain itu belum seramai sekarang terutama instagram,” ujarnya.

BACA JUGA: Apresiasi untuk Bali, Singaraja Fest 2023 Digelar di Keramas Park Gianyar

“Sekarang itu cuma lebih terekspos, orang-orang tokoh kayak Niluh Djelantik dengan followersnya yang banyak, beliau bisa langsung posting pengaduan dari siapa saja. Jadi, orang-orang sebelumnya yang tidak punya suara pada saat zaman dulu (saat) Kuta ramai, tidak punya platform dan (tidak bisa) menyuarakan hal itu sekarang punya. Mereka punya kanal channel untuk menyuarakan itu dan speaker itu ada di tangan Ibu Niluh sekarang,” ujarnya.

Jerinx juga menerangkan, dalam konteks Kuta pada saat itu memang ada WNA yang bekerja Ilegal seperti menjadi manajer bar di kelab-kelab hiburan yang punya nama di wilayah Kuta dan yang menjadi bawahannya adalah warga lokal.

“Ketika konteks Kuta waktu (dulu) ramai banyak (WNA) yang mengambil pekerjaan, contoh yang paling simpel sebagai manajer-manajer kelab-kelab yang punya nama itu, kebanyakan warga negara asing dan dibawahnya mereka baru orang-orang lokal,” jelasnya.

Namun, menurutnya berlalunya waktu di wilayah Canggu, saat ini ditemukan bule yang bekerja ilegal fotografer, wedding organizer, web desainer, memiliki klub bar, studio tatto dan lainnya,”Kalau kalau di Canggu itu hampir semua jenis bisnis itu dikuasai oleh orang asing,” ungkapnya.

Jerinx bersama Eka Rock SID – IST

“Ketika sebelum transisi dari Kuta ke Canggu itu sekitar tahun 2010 sudah ngawur, Kuta itu macet luar biasa, bule-bulenya, sekali lagi saya tidak rasis saya memakai kata bule karena faktanya pelakunya orang yang kulit putih. Jadi 2010 ke atas itu sudah mulai bule kencing di tengah jalan, bule (mabuk) tiba-tiba mukulin taksi segala macam,” ujarnya.

“Tapi kita harus adil yang (warga) lokal banyak juga yang resek di Kuta. (Jadi) copet-lah dan ngasih obat ke minuman bule, biar bulenya pingsan itu banyak kejadiannya. Jadi, selain WNA kita tidak boleh seolah-olah dari orang kita benar semua, itu tidak boleh,” ujarnya.

Jerinx juga menceritakan, bahwa dirinya tak jarang memiliki pengalaman dengan bule yang berbuat onar. Jerinx yang memiliki usaha Twice Bar di Gang Poppies ll, Kuta, saat dulu juga kerap sekali menemukan bule yang tidak menyenangkan.

“Kalau pengalaman pribadi banyak, dulu waktu bar saya masih di Poppies ll Twice Bar, yang masih ada di sana itu hampir setiap malam ada saja (Keributan). Tapi bukan hanya bule sih ada orang lokal yang nyopet itu ada, bule yang resek itu ada. Jadi, sangat dekat kehidupan ke seharian saya waktu itu, saya tinggalnya pas di atas bar tersebut,” ujarnya.

Kendati demikian, Jerinx menyebutkan bahwa sebenarnya di Bali banyak WNA yang baik. Seperti WNA yang tinggal lama di Pulau Dewata seperti warga asing ekspatriat yang memang datang ke Bali tidak memiliki niat buruk. Tetapi, dengan adanya fenomena bule bekerja ilegal dan tidak menghargai adat budaya Bali maka saat ini ada WNA yang dicap tidak baik.

“Posisi saya, mendukung usaha apapun dari masyarakat maupun tokoh-tokoh masyarakat yang berusaha memberikan konsekuensi kepada pihak-pihak WNA khususnya yang tidak menghargai masyarakat Bali, tidak menghargai adat dan budaya, etika yang ada di Bali,” ujarnya. (kanalbali/KAD)

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.