“Kaden Ci Cang Santai”: Tentang Kerja, Waktu, dan Salah Paham di Bali

Penulis: Angga Wijaya

SAAT berada di perempatan sebuah jalan di Denpasar, lampu lalu lintas menyala merah. Saya berkendara naik sepeda motor untuk pergi ke pasar membeli daging (kepala) ayam, untuk nantinya diolah menjadi wet food atau makanan kucing.

Jalanan siang itu agak padat. Para pengendara menunggu hingga lampu lalu lintas berwarna hijau.

Beberapa anak muda dengan pakaian nyentrik tampak bernyanyi riang, dengan gitar kecil dan tepukan tangan. Di sudut lain, seorang laki-laki disabilitas dengan wajah mengiba menunggu belas kasihan pengendara untuk memberinya sedekah uang.

Di depan saya, dua remaja dengan helm penuh stiker tampak berbincang pelan. Saya memperhatikan sebuah kata pada stiker di helm salah satu remaja, “Kaden Ci Cang Santai.” Kalimat dalam bahasa Bali yang artinya, kamu kira saya (hidup) santai.

Naluri penulis dalam diri saya bekerja usai membaca tulisan tersebut. Kalimat itu seperti sebuah bantahan, sekaligus pengakuan. Bisa jadi, remaja di Bali atau setidaknya mereka yang merasa terwakili oleh stiker itu, sering dianggap hidupnya santai. Atau, lebih jauh lagi, mereka kerap dinilai tidak bekerja dalam pengertian yang lazim dipahami banyak orang.

Di Bali, terutama di Denpasar dan Badung, bekerja sering dimaknai secara sangat spesifik, berangkat pagi, pulang sore. Atau sebaliknya, berangkat sore, pulang malam, bahkan dini hari, mengikuti sistem shift yang lazim di industri pariwisata.

Hotel, vila, restoran, beach club, kafe, dan berbagai akomodasi wisata lainnya membentuk imajinasi kolektif tentang kerja. Pola ini dianggap umum, wajar, bahkan baku. Ia diterima sebagai standar kehidupan orang kota di Bali.

Tak mengherankan jika sektor pariwisata menjadi poros utama penyerapan tenaga kerja. Bukan hanya orang Bali, tetapi juga para perantau dari berbagai daerah di Indonesia, terutama kaum muda yang datang dengan harapan, impresi, dan mimpi masing-masing.

Mereka mengisi kamar-kamar kos, rumah kontrakan, dan gang-gang sempit kota. Mereka hidup berdampingan, membawa serta cara pandang tentang kerja dari daerah asalnya.

Namun, persoalan muncul ketika ada pemuda-pemuda yang memilih jalur lain. Mereka yang tidak bekerja di hotel, tidak berseragam, tidak berangkat di jam yang sama setiap hari, dan sering terlihat berada di rumah atau kos pada jam-jam yang dianggap jam kerja. Di titik inilah, label mulai bekerja, hidup santai, kerja tidak jelas, bahkan pengangguran.

Padahal, dunia kerja telah lama berubah. jenis pekerjaan hari ini jauh lebih beragam daripada sekadar hadir secara fisik di tempat kerja. Bagi mereka yang menyukai seni rupa, menjadi perupa atau pelukis adalah pilihan yang wajar.

Di zaman digital, desainer grafis bisa bekerja lepas, menerima klien dari luar Bali, bahkan luar negeri, tanpa harus duduk di kantor. Mereka yang gemar menulis bisa menjadi copywriter, editor, atau penulis konten. Dengan tambahan kemampuan visual dan media sosial, lahirlah profesi seperti social media specialist, bidang yang beberapa tahun terakhir justru sangat dibutuhkan.

Di bidang ekonomi dan bisnis, banyak pekerja muda mulai menjajaki dunia wirausaha. Ada yang membuka usaha kuliner, kerajinan tangan, pakaian, hingga otomotif. Ada yang menjadi reseller, ada pula yang membangun merek sendiri.

Bentuknya bermacam-macam, dari lapak pinggir jalan, kios kecil, hingga toko daring yang hanya membutuhkan ponsel dan koneksi internet.

Belum lagi jasa kecantikan dan kebugaran. Salon, barbershop, hingga jasa pijat tumbuh subur di Denpasar dan Badung. Kota yang padat, mobilitas tinggi, cuaca yang tak menentu, serta dominasi sepeda motor sebagai alat transportasi membuat tubuh warga kota sering berada dalam kondisi lelah.

Pijat bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan. Ini semua adalah kerja. Kerja yang nyata, meski tak selalu tampak dalam bentuk seragam atau absensi.

Namun, dari pengamatan sehari-hari, ada satu bidang yang seolah terus berada di pinggir, seni. Seniman, penyair, penulis, pemusik, terutama yang bergerak di wilayah seni modern, sering kali belum mendapatkan apresiasi yang setara dengan jenis pekerjaan lain.

Pilihan hidup sebagai seniman kerap dipertanyakan, bisa hidup, dapat uang dari mana, kerjanya apa sebenarnya.

Di sinilah paradoks Bali terasa paling mencolok. Pulau yang dikenal sebagai Pulau Dewata, pulau seni dan budaya, yang oleh banyak antropolog disebut memiliki artistic temperament, justru kerap memandang curiga para pelaku seni kontemporer.

Seolah-olah seniman hanya sah jika ia berkutat pada seni tradisional, penari upacara, penabuh gamelan, pematung untuk keperluan ritual. Sementara sastrawan, aktor dan aktris teater, sutradara, atau pemusik independen dianggap berada di wilayah abu-abu antara kerja dan hobi.

Padahal, jika ditilik lebih dalam, budaya Bali sejatinya tidak gemar mencampuri urusan hidup orang lain. Bukan karena masa bodoh atau cuek, melainkan karena ada kesadaran bahwa setiap orang bertanggung jawab atas jalan hidupnya masing-masing.

Konsep karma bekerja diam-diam di latar belakang kesadaran kolektif. Selama pilihan hidup seseorang tidak merugikan orang lain, itu adalah urusannya sendiri.

Lalu, dari mana datangnya sikap menghakimi soal kerja? Barangkali, ini adalah hasil pertemuan antara budaya lokal dan logika urban-modern yang dibawa oleh arus pariwisata dan migrasi. Kota menuntut keterbacaan, siapa bekerja, siapa tidak, siapa produktif, siapa tidak.

Kerja harus terlihat. Harus bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek. Ketika kerja menjadi sesuatu yang cair, fleksibel, jarak jauh, berbasis proyek, ia menjadi sulit dibaca. Dan sesuatu yang sulit dibaca sering kali dicurigai.

Stiker “Kaden Ci Cang Santai” menjadi semacam perlawanan kecil terhadap cara pandang itu. Ia bukan sekadar kalimat jenaka, melainkan ekspresi kegelisahan. Sebuah pengingat bahwa di balik rumah kos yang sunyi di siang hari, bisa jadi ada layar laptop yang menyala, tenggat waktu yang dikejar, dan pikiran yang bekerja tanpa henti.

Mungkin, yang perlu kita ubah bukanlah cara orang bekerja, melainkan cara kita memaknai kerja itu sendiri. Bahwa kerja tidak selalu berarti hadir secara fisik. Bahwa produktivitas tidak selalu berbentuk keringat yang terlihat.

Dan bahwa di Bali, pulau yang konon menghargai keseimbangan hidup, ada ruang untuk mengakui berbagai jalan hidup, termasuk mereka yang memilih bekerja di luar pola yang umum.

Lampu lalu lintas akhirnya menyala hijau. Kendaraan bergerak perlahan. Stiker di helm itu menghilang di antara arus jalanan Denpasar. Namun kalimatnya tertinggal di kepala saya, terus bekerja, seperti sebuah pertanyaan yang belum selesai kita jawab bersama. (KANALBALI/IST)

*Penulis adalah adalah jurnalis dan penulis yang tinggal di Denpasar. Buku terbarunya berjudul Di Beranda Kost, Gosip Kedengaran Lagi.

 

 

Apa Komentar Anda?