Kecap Bapak, Kenangan Kuliner Masa Lalu

Menu nasi campur di warung Kubu Kopi, Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)
Menu nasi campur di warung Kubu Kopi, Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)

Menu sebuah warung terkadang mengantar ingatan kembali kepada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan. Bagi saya, kecap adalah salah satu pintu menuju kenangan itu.

 Angga Wijaya*

Ada kebiasaan makan bersama Bapak yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika masih kecil di Jembrana, Bali, saya sering makan nasi dan lauk-pauk dengan tambahan kecap.

Bapak yang saya maksud adalah ayah angkat saya. Kebiasaan sederhana itu mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain, tetapi bagi saya, ia menyimpan kenangan tentang masa kecil yang tidak bisa diulang.

Ingatan itu muncul kembali ketika saya makan di KUBU KOPI, sebuah warung yang sejak beberapa bulan lalu menempati tempat baru di Jalan Swakarya Baru, sebelah timur Jalan PB Sudirman, dekat masjid.

Warung ini menyediakan menu rumahan yang membuat saya merasa akrab dengan makanan yang tersaji. Ada perasaan seperti pulang ke masa lalu, ketika sepiring nasi dan lauk-pauk sudah cukup untuk membuat waktu makan terasa menyenangkan.

Saya tidak sedang mencari makanan istimewa ketika datang ke sana. Namun, terkadang kita menemukan sesuatu yang tidak sengaja mengantar ingatan kembali kepada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan. Bagi saya, kecap adalah salah satu pintu menuju kenangan itu.

Merindukan Rasa dari Kampung Halaman

Saya berasal dari Negara, Jembrana. Sejak meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di Denpasar, saya mulai menjalani kehidupan sebagai perantau. Tahun demi tahun berlalu. Saya bekerja, menulis, bertemu banyak orang, dan membangun kehidupan di kota ini. Namun, ada kebiasaan dari masa kecil yang tetap tinggal, salah satunya adalah selera makan.

Jembrana memiliki pengalaman kebudayaan yang tidak sepenuhnya sama dengan wilayah Bali lainnya. Keberagaman masyarakatnya terlihat dalam bahasa, sistem religi, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari. Dalam urusan kuliner pun, saya menemukan kekhasan yang membuat pengalaman makan di Jembrana terasa berbeda.

Kebiasaan menambahkan kecap pada nasi dan lauk-pauk yang saya ingat dari masa kecil, misalnya, barangkali berkaitan dengan pengaruh budaya Jawa. Saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memastikan asal-usul kebiasaan tersebut. Namun, pengalaman hidup di Jembrana membuat saya menyadari bahwa kebudayaan sering kali terbentuk melalui perjumpaan berbagai kelompok masyarakat.

Makanan menjadi salah satu ruang tempat perjumpaan itu berlangsung. Kebiasaan yang diwariskan dalam sebuah keluarga bisa saja memiliki hubungan dengan sejarah pergaulan masyarakat di sekitarnya. Sebagian kebiasaan diteruskan tanpa banyak penjelasan. Orang melakukannya karena sudah terbiasa, kemudian anak-anak tumbuh dengan selera yang sama.

Dulu, saya tidak pernah memikirkan kecap sejauh itu. Saya memakannya karena terbiasa makan bersama Bapak. Baru setelah tinggal bertahun-tahun di Denpasar, saya menyadari bahwa kebiasaan sederhana tersebut menyimpan kenangan yang begitu lekat.

Barangkali kita memang sering baru menyadari arti sesuatu setelah waktu membawanya menjauh.

Mencari Rasa Rumahan di Denpasar

Sesekali, saya merasa bingung memilih makanan di Denpasar. Kota ini memiliki banyak warung, rumah makan, dan restoran. Pilihannya beragam, tetapi ada kalanya saya merasa beberapa menu yang tersedia hampir seragam. Ini tentu pengalaman pribadi, bukan berarti Denpasar tidak memiliki kekayaan kuliner.

Saya hanya merasa bahwa banyaknya pilihan makanan tidak selalu membuat kita mudah menemukan sesuatu yang sedang dirindukan. Ada kalanya saya tidak ingin mencoba menu baru atau mengikuti tren kuliner. Saya sekadar ingin makan sesuatu yang terasa akrab.

Masakan rumahan memiliki daya tarik tersendiri. Ia tidak harus disajikan dengan tampilan menarik atau menggunakan bahan-bahan mahal. Kesederhanaannya justru menghadirkan rasa nyaman. Kita bisa menikmati makanan tanpa harus memikirkan banyak hal, sebab ada sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Saya kira, orang yang pernah merantau bisa memahami perasaan semacam ini. Kita mungkin tinggal jauh dari kampung halaman selama bertahun-tahun, tetapi lidah masih mengingat makanan yang pernah disantap bersama keluarga. Kerinduan itu terkadang muncul ketika melihat sepiring nasi dengan lauk-pauk sederhana.

Di KUBU KOPI, saya seperti menemukan kembali sebagian pengalaman masa kecil. Barangkali yang saya rindukan bukan hanya rasa makanan, melainkan juga suasana ketika masih kecil dan makan bersama Bapak. Ada masa ketika persoalan hidup belum serumit sekarang. Makan adalah bagian dari keseharian, sesuatu yang dilakukan bersama tanpa perlu banyak penjelasan.

Saya tidak ingin meromantisasi masa lalu seolah-olah kehidupan dahulu selalu lebih baik. Setiap masa memiliki persoalannya sendiri. Namun, ada pengalaman yang layak disimpan karena ikut membentuk diri kita hari ini. Bagi saya, kebiasaan makan bersama Bapak adalah salah satunya.

Bali yang Tidak Harus Seragam

Pengalaman kuliner di Jembrana membuat saya berpikir tentang keberagaman Bali. Ketika berbicara tentang makanan Bali, orang sering mengingat hidangan yang sudah dikenal luas. Padahal, kehidupan kuliner di pulau ini jauh lebih beragam daripada yang kerap ditampilkan kepada wisatawan.

Setiap wilayah memiliki kebiasaan dan pengalaman masing-masing. Bahkan, dalam satu wilayah, kebiasaan makan antarkeluarga bisa berbeda. Ada makanan yang akrab bagi suatu komunitas, tetapi tidak begitu dikenal oleh masyarakat di tempat lain. Perbedaan itu merupakan bagian dari kehidupan kebudayaan yang terus berkembang.

Bagi saya, Jembrana memperlihatkan bahwa Bali memiliki banyak wajah. Perjumpaan berbagai kelompok masyarakat turut membentuk pengalaman kebudayaan, termasuk dalam urusan makanan. Pengaruh Jawa dan kebiasaan masyarakat yang hidup berdampingan menjadi bagian dari dinamika kehidupan di Bali Barat.

Karena itu, saya tidak melihat kehadiran makanan dari luar Bali sebagai sesuatu yang harus dicurigai. Warga pendatang yang membuka warung makan di Denpasar, misalnya, membawa kebiasaan kuliner dari daerah asal mereka. Masyarakat setempat kemudian memiliki kesempatan untuk mengenal dan menikmati makanan yang sebelumnya mungkin tidak akrab bagi mereka.

Bali tidak menjadi kurang Bali hanya karena masyarakatnya menikmati soto Jawa, nasi Padang, atau makanan dari daerah lain. Demikian pula, kehadiran kuliner pendatang tidak harus mengurangi penghargaan terhadap makanan tradisional Bali. Keduanya dapat tumbuh berdampingan.

Saya membayangkan Bali akan semakin kaya apabila masyarakatnya memberi ruang bagi perbedaan. Tradisi memang perlu dirawat, tetapi perjumpaan dengan kebudayaan lain juga dapat memperluas pengalaman kita. Mencintai kampung halaman tidak harus berarti menutup diri dari sesuatu yang datang dari luar.

Keberagaman tidak selalu perlu dibicarakan melalui istilah-istilah besar. Ia bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui warung makan yang menyediakan masakan dari berbagai daerah. Di sana, orang-orang dengan latar belakang berbeda bisa duduk bersama, menikmati makanan, dan berbagi cerita.

Mungkin hal itu tampak sederhana. Namun, kehidupan sosial memang sering terbentuk melalui perjumpaan-perjumpaan kecil yang berlangsung berulang kali.

Warung, Kopi, dan Percakapan

Ada hal lain yang membuat KUBU KOPI menarik bagi saya. Sejak dahulu, warung ini menjadi tempat berkumpulnya para pemikir, penulis, dan wartawan. Saya menyukai tempat-tempat semacam itu karena percakapan sering kali menjadi bagian penting dari kehidupan orang-orang yang bekerja dengan tulisan.

Tidak semua gagasan lahir ketika seseorang duduk sendirian di depan komputer. Ada gagasan yang muncul setelah mendengarkan cerita orang lain. Ada pula yang tumbuh dari perdebatan kecil sambil minum kopi atau makan bersama. Percakapan santai terkadang membuka jalan bagi pemikiran yang tidak kita temukan ketika hanya berhadapan dengan diri sendiri.

Warung menjadi ruang pertemuan yang tidak terlalu formal. Orang datang untuk makan, tetapi kemudian berbincang tentang berbagai hal, mulai dari kebudayaan, politik, sastra, hingga pengalaman hidup sehari-hari. Tidak semua percakapan harus menghasilkan kesimpulan. Mendengarkan pendapat orang lain pun bisa membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, ruang semacam ini terasa penting. Orang membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak, menikmati makanan, dan berbicara tanpa harus selalu terikat agenda. Warung sederhana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk bertemu dan bertukar pikiran.

Di KUBU KOPI, satu porsi nasi dengan lauk-pauk dan segelas es teh berharga Rp18.000, berdasarkan pengalaman saya. Menurut saya, harga itu cukup bersahabat. Kita bisa makan, menikmati suasana, dan jika beruntung, bertemu kawan untuk berbincang.

Tentu, orang datang ke warung dengan kebutuhan berbeda-beda. Ada yang ingin makan lalu pulang, ada yang mencari kopi, dan ada pula yang ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Bagi saya, tempat seperti ini menawarkan kesempatan untuk merawat percakapan di tengah kesibukan mencari penghidupan.

Kenangan yang Tertinggal di Lidah

Saya tidak tahu apakah Bapak dahulu pernah memikirkan kecap sebagai bagian dari kebudayaan. Barangkali beliau hanya terbiasa menyantap nasi dan lauk-pauk dengan tambahan kecap, sebagaimana orang lain memiliki kebiasaan makan masing-masing. Namun, justru dari kebiasaan sederhana itulah kenangan saya terbentuk.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa cara makan pada masa kecil lebih baik daripada kebiasaan generasi sekarang. Setiap zaman memiliki selera dan pengalamannya sendiri. Anak-anak muda hari ini tumbuh dengan pilihan makanan yang berbeda, sebagaimana saya tumbuh dengan pengalaman saya sendiri.

Bagi saya, makanan menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada rasa. Ada hubungan keluarga yang melekat pada makanan, ada kebiasaan yang tanpa disadari diwariskan, dan ada pengalaman masa kecil yang kembali muncul ketika kita menjumpai sesuatu yang serupa dengan apa yang pernah kita nikmati dahulu.

Kita memang tidak bisa mengembalikan waktu. Kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil yang duduk makan bersama orang-orang yang dahulu menemani kehidupan kita. Namun, sebagian kenangan itu tetap tinggal dalam kebiasaan dan selera. Ia bisa muncul kembali melalui hal-hal sederhana, seperti sepiring nasi, lauk-pauk, dan sedikit kecap.

Ketika menemukan makanan rumahan di KUBU KOPI, saya seperti diingatkan bahwa kehidupan yang telah berlalu tidak sepenuhnya hilang. Sebagian darinya tetap tinggal dalam ingatan, menunggu sesuatu yang sederhana untuk membawanya kembali.

Saya datang ke warung itu untuk makan. Tanpa sengaja, saya juga menemukan jalan untuk mengenang masa kecil di Jembrana, terutama kebiasaan makan bersama Bapak.

Barangkali begitulah cara makanan membawa seseorang pulang. Bukan dengan mengembalikan rumah, orang-orang, dan waktu seperti dahulu, melainkan dengan menghadirkan kembali perasaan akrab yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Dan kali ini, jalan pulang itu bernama kecap. ***

 

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali, yang sejak lama tinggal di Denpasar. Ia menulis esai, puisi, dan artikel tentang kebudayaan, sastra, serta kehidupan sosial. Ia pernah bekerja di sejumlah media dan menjadi jurnalis lepas di KanalBali.id. Buku terbarunya, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, sebuah memoar, diterbitkan oleh Brilliant Books, Yogyakarta, pada Juni 2026.

Apa Komentar Anda?